
"Toloooong!" Cleona berteriak sekencang-kencangnya dan berharap ada seseorang yang lewat, yang mendengar suaranya. Teriakan serta jeritan histeris itu membuat emosi Anan memuncak. Anan mengangkat tangannya siap melayangkan tamparan di sisi kanan pipi Cleona.
"Aaakkh!" teriak Anan kesakitan ketika Cleona lebih dulu menendang pangkal pahanya dengan sekuat tenaga. Anan menjatuhkan tubuhnya ke samping sambil membekap pangkal pahanya dengan kedua telapak tangan.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Cleona langsung bangkit dan melangkah akan kabur. Namun, Anan yang sudah tak lagi kesakitan langsung menarik paksa salah satu kaki Cleona. Akibatnya, Cleona pun terjungkir ke depan, dagunya mengalirkan darah segar kala berbenturan dengan lantai.
"Mau lari ke mana kamu?!" Anan tersenyum licik, lalu kembali menarik Cleona dengan kasar. Tatapan mata Cleona tertuju pada balok kayu. Tanpa berpikir lama, Cleona meraih balok kayu berat itu dengan kedua tangan, kemudian melemparnya ke arah kepala Anan dengan sekuat tenaga.
Anan terkulai lemah ke lantai dengan darah yang mengalir dari keningnya. Cleona langsung bangkit, tubuhnya bergetar ketakutan kala melihat Anan yang sudah tak sadarkan diri dengan luka parah.
BRAK!
Cleona kaget karena pintu gudang yang terbuka lebar setelah didobrak oleh seseorang.
"Kak Harles!" teriak Cleona berlari dan langsung menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan pria tampan yang ia panggil dengan nama Harles.
"Kamu terluka Cleo," pria muda pemilik senyum manis dengan netra biru itu menyeka darah yang mengalir dari dagu Cleona.
"A-aku ta-kut, Kak," ucap Cleona dengan mata berkaca-kaca.
"Tenangkan dirimu, ada kakak di sini. Sudah, jangan takut lagi, sekarang pergilah, masalah Anan biar kakak yang tangani," Harles melepaskan Cleona dari pelukannya, lalu mengusir Cleona agar secepatnya pergi.
__ADS_1
"Ta-pi—"
"Pergilah sebelum ada orang yang datang, percaya pada kakak dia akan baik-baik saja," desak Harles, tapi Cleona tak mungkin setega itu meninggalkan Harles sendiri dan bertanggungjawab atas kesalahan yang sama sekali tidak ia lakukan.
"Jangan paksa aku, Kak. Aku yang telah membunuhnya, jadi aku sendiri yang harus bertanggungjawab! Aku mohon jangan paksa aku, Kak Harles adalah satu-satunya orang yang baik yang aku kenal, aku tidak ingin kehilangan Kak Harles!" tegas Cleona dengan air mata yang mengalir deras. Berbeda dengan Harles yang justru tersenyum senang mendengar perkataan Cleona yang tak ingin kehilangannya.
"Dengarkan kakak baik-baik. Anan keturunan bangsawan kaya raya, begitu pun aku. Di negara kita hukum adalah uang, aku akan menerima hukuman di penjara paling lama dua tahun. Sedangkan kamu, kamu akan mendapatkan hukuman mati," terang Harles, Cleona tak bisa berkata-kata.
"Pergilah dan tidak perlu merasa bersalah. Kamu tahu sendiri semewah apa penjara untukku," lanjut Harles mengedipkan sebelah mata dengan senyuman manisnya.
"Aku pasti akan membalas budi pada Kak Harles. Aku bersumpah tidak akan melupakan kakak dan aku juga bersumpah akan menunggu kakak hingga keluar dari penjara," tegas Cleona yakin. Ia dan Harles tetap berhubungan baik, walau Harles pernah menyatakan cinta pada Cleona. Dan hingga saat ini Cleona masih belum memberikan jawabannya.
"Sumpahmu sudah dikunci, sekarang pergilah," usir Harles dan Cleona pun terpaksa pergi meninggalkan Harles dengan senyuman nakalnya.
Baru saja keluar pejara, dan sepertinya ia harus masuk penjara lagi. Tapi tentu saja penjara miliknya berbeda. Ia malah menyukai penjaranya yang bebas daripada dunia luar di mana ia dipaksa harus pintar, cerdas, berwibawa, dan melakukan segala hal yang tidak pernah ia sukai. Singkatnya, ia harus se-perfect kakaknya, kalau bisa, dia harus lebih dari sang kakak.
Daripada menghabiskan waktu di depan buku-buku tebal dengan ocehan yang membuat kepalanya pecah. Harles lebih memilih di penjara dan bisa melakukan apa pun tanpa ada yang akan melarang apalagi memarahinya.
Setelah kepergian Cleona, Harles masih diam di tempat semula, ekspresi wajahnya menunjukkan kekecewaan yang amat dalam, "Seharusnya kamu langsung memberikan jawaban," ucapnya putus asa.
"Tak apa, masih ada banyak waktu. Kamu harus menepati janji, dua atau tiga tahun tidak akan lama," ucapnya membalikkan badan, menatap Anan yang tergeletak tak berdaya di lantai.
__ADS_1
Harles mendekati kepala berlumur darah itu, kemudian berjongkok untuk memeriksa apakah Anan masih hidup atau tidak, "Kasihan sekali, kau mati sia-sia dengan banyak dosa tanpa diberikan waktu untuk bertobat. Makanya jangan nakal," oceh Harles, ia tak sadar bahwa ia sendiri juga nakal.
Namun, senakal-nakalnya Harles, ia tak pernah memandang rendah perempuan. Kenakalan yang ia lakukan hanyalah aksi pelampiasan atas paksaan dalam segala hal yang selalu dibebankan padanya.
Harles kembali berdiri, merogoh saku dan mengeluarkan ponselnya. Harles menghubungi sang kakak tercinta. "Ada apa?" tanya suara bass di seberang sana.
"Kak, sepertinya aku membunuh seseorang, hehe ...." lapornya cengengesan.
"Tetap di sana!"
.
.
.
Harles Afson
Awas oleng, Guys🙊🙈
__ADS_1
Vote dung, biar semangat Othor soleha ini nulisnya😘