
"Dengan senang hati akan kulakukan, kebetulan aku sedang haus," balas Castin bersorak gembira dalam hati. Mendadak Castin lupa akan rasa sakit pada luka cukup parah di punggung tangannya.
Melihat Cleona yang langsung merebahkan tubuhnya di lantai lift, Castin pun reflek melepaskan jasnya, kemudian menggunakan jas itu sebagai alas agar Cleona tak kedinginan.
Saat sudah berbaring dengan jas Castin sebagai alas, Cleona langsung menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Ia tak mau melihat, terlalu memalukan baginya, "Apa Tuan tidak jijik?" tanya Cleona pelan dan masih menutupi wajahnya malu.
"Kenapa harus jijik? Aku menyukainya," balas Castin tersenyum puas. Jijik kata Cleona, andai Cleona tahu betapa tersiksanya Castin yang sudah lama mendambakan pepaya tapi tak bisa memilikinya.
Ketika ada kesempatan seperti saat ini, tentu saja Castin tak akan melewatinya begitu saja. Bila sudah merasakan pepaya jumbo yang didamba, mati sekali pun Castin tak akan menyesal. Kira-kira begitulah gambaran kebahagiaan yang ia rasakan saat ini.
"Siap?" tanya Castin mulai mengambil posisi ternyaman. Cleona menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Castin tersenyum kecil, kemudian dengan perlahan ia menurunkan resleting depan gaun yang saat ini Cleona kenakan. Saat resleting sudah turun sampai bagian perut, saat itu pula Castin kesulitan menelan saliva. Gundukan Cleona yang terbungkus bra terlihat olehnya.
Senapan yang sudah berdiri sedari tadi, kini semakin memberontak tak sabar ingin dilepaskan. Castin benar-benar tersiksa. Namun, ia harus melakukannya agar Cleona tak lagi merasa sakit.
Castin menghela napas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Setelah merasa lebih baik, barulah ia melanjutkan melepas pengait bra yang melekat di tubuh Cleona.
Saat kedua bongkahan jumbo itu benar-benar polos dan tak terhalang kain apa pun, saat itu pula Castin merasa tulang-tulangnya lemas seketika, tubuhnya bergetar, napasnya berhenti beberapa detik, darahnya berdesir mengalirkan suatu gejolak aneh.
__ADS_1
Gejolak aneh yang melepaskan perasaan bahagia, senang, puas yang sulit dijabarkan. Yang pasti, Castin tak mengedipkan mata sedetik pun, seakan tak mau melewatkan pemandangan yang tetap indah mempesona meski dalam remang-remangnya cahaya.
Castin mengerjabkan mata berkali-kali, sulit Castin percaya kalau adegan yang selama ini hanya angan-angannya, sebentar lagi akan menjadi kenyataan. Ya, memandang lama sekaligus merasakan pepaya jumbo yang ia idamkan ibarat hanyalah angan yang mustahil akan terkabul.
Namun, Tuhan berkehendak lain. Jelas saat ini Castin dapat memandangnya lama hingga puas, dan bahkan ia akan merasakannya. Castin menggelengkan kepala, seakan meyakinkan kalau saat ini ia tidak bermimpi atau pun berhalusinasi. Benar-benar sulit dipercaya kalau dirinya akan merasakan seperti apa isi dari pepaya jumbo yang sudah lama ia dambakan.
"Aw!" ringis Cleona yang masih menutup wajahnya malu.
"A-akan kulakukan sekarang," ucap Castin gugup.
"Cepatlah, Tuan." desak Cleona yang sudah tak lagi sanggup menahan rasa sakitnya.
"Em ah ..." Cleona langsung menutup mulutnya rapat kala tak sengaja mende sah. Cleona kaget dan tak menyangka dengan rasa sensasi yang berbeda. Cleona tak kuasa menahan geli saat bibir hangat Castin sudah melingkar di biji pepaya jumbonya.
Ada semacam sensasi berbeda Cleona rasakan, gejolak aneh juga ia rasakan di saat yang bersamaan. Cleona heran, ia heran kenapa rasanya berbeda antara Castin dan baby d.
Bukankah sama-sama menghisap? Lalu, apa sebenarnya perasaan aneh itu? Cleona benar-benar tak mengerti, tapi yang pasti ia tak kuasa menahan geli, nikmat dan malu di saat yang bersamaan.
Sementara Castin yang masih menghisap seketika semakin dibuat tegang saat mendengar suara erotis Cleona. Entah Castin sanggup atau tidak menahan hasratnya. Yang paling penting, ia sangat menikmati kenikmatan itu. Castin berharap lift tak akan terbuka hingga esok hari.
__ADS_1
"Tu-an ahh ... ja-jangan pakai lidah," protes Cleona tak karuan.
"Hem," jawab Castin masih sibuk dengan urusannya. Menikmati manis, nikmat serta segarnya air putih yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Tak hanya rasa, Castin juga kecanduan akan aroma khas tubuh Cleona. Aroma khas itu seakan memberikannya kenyamanan terindah seumur hidup.
"Su-sudah," ucap Cleona pelan.
Dengan segenap rasa kecewa, Castin menjauh dari bongkahan indah nan nikmat itu. "Sebelahnya?" tanya Castin penuh harap.
"I-iya, sebelahnya lagi," pinta Cleona masih betah menutup wajahnya.
"Dengan senang hati," Castin langsung berpindah tempat dan siap melahap bongkahan pepaya jumbo sebelah kiri.
Ting!
.
.
.
__ADS_1
Novel ini masih tetap LANJUT SAMPAI TAMAT. Othor gak PHP, tenang aja.