
Di Apotik.
"Apa yang dibeli gadis berseragam SMA tadi?" tanya Devil yang rupanya membututi Cleona.
"Alat penyedot ASI, Tuan ... Tuan Devil!" seru penjaga Apotik mengenali Devil, salah satu anggota Duren Bangsawan yang terkenal sempurna.
"Untuk siapa?" tanya Devil lagi.
Penjaga Apotik menatapnya dengan tatapan terpesona sambil berkata, "Untuk Ibunya, Tuan."
Devil terdiam, ia berpikir tentang latar belakang Cleona. Jelas kemarin ia sudah melacak dan mendapatkan biodata Cleona. Dan sangat jelas tertulis kalau Cleona adalah seorang gadis yang hidup sebatang kara.
Penasaran, Devil segera berlari menyusul Cleona. Devil bernapas lega karena tak ketinggalan jauh. "Gadis kecil seksi, kamu harus bertanggung jawab. Kamu berhasil membuat seorang putra kerajaan penasaran dan tertarik padamu," ucapnya dalam hati sambil sesekali bersembunyi di balik pepohonan yang rindang.
"Astaga, seorang Devil Amore menjadi penguntit. Kalau aku ceritakan kepada Castin, Calvin, dan Elmer. Maka, mereka tidak akan percaya," Devil kembali membatin hingga tiba-tiba langkahnya berhenti, karena Cleona sudah berhenti di depan sepetak kontrakan yang terlihat begitu kecil dan lusuh.
"Beneran hidup sendirian, lalu untuk apa penyedot ASI? Apa dia pernah melahirkan? Ah, sayang sekali. Terlambat untuk mendapatkan wanita yang baik-baik," gumam Devil kecewa.
"Tapi, tetap saja aku menginginkannya. Kalau kita bertemu sekali lagi secara tidak sengaja. Maka, itu artinya kita berjodoh dan aku tidak akan pernah melepaskanmu apa pun yang terjadi." tegas seorang cassanova yang tengah berburu cinta sejati.
***
__ADS_1
"Bagaimana cara menggunakannya, ya?" Cleona membolak-balikkan kotak mini yang di dalamnya terdapat alat penyedot ASI yang tadinya ia beli.
Saat ini, Cleona sudah berada di dalam kontrakannya yang sederhana, kontrakan yang hanya berukuran dua kali tiga meter. Lengkap dengan ranjang seukuran tubuh, satu meja dan kamar mandi mini. Karena tak ada lemari, Cleona menggunakan kardus untuk menyimpan pakaiannya yang hanya beberapa helai.
"Tidak ada tutorial cara pakainya, kenapa tadi tidak aku tanyakan kepada penjaga Apotiknya?" Cleona menyalahkan dirinya sendiri.
Penasaran ingin mencobanya, Cleona mulai membuka satu persatu kancing baju seragam sekolahnya. Saat akan membuka kancing nomor tiga dari atas, tiba-tiba saja Cleona mendengar suara dari luar jendela kamar kontrakannya.
Cleona yang kaget reflek meraih selimut, kemudian ia balutkan ke tubuh bagian atasnya. Cleona segera bangkit, membuka horden jendela.
Namun, Cleona tak menemukan siapa pun. Karena masih merasa penasaran, Cleona membuka pintu kamar kontrakannya. Melirik ke kiri dan kanan, tapi tetap nihil. Tak ada siapa pun di sana.
Cleona kembali membuka semua kancing baju, kemudian melepas bra hingga ia benar-benar polos. "Berat sekali," keluhnya sambil memijit pundak. Ketika duduk, Cleona selalu dengan posisi tegap agar ia tak bungkuk.
Setelah membuka baju, Cleona langsung membuka kotak mini itu, lalu mengambil pompa asi didalamnya. Cleona senang karena ada buku petunjuk pemakaian di dalamnya. Cleona mulai memompa ASI sambil melihat buku petunjuk.
"Akh, sakit sekali," Cleona merebahkan punggungnya ke kepala ranjang. Ia menghentikan kegiatannya sebentar karena merasa sakit.
"Apa karena belum terbiasa, ya?" Cleona menyalin asinya ke gelas. Kemudian kembali memompa dengan perlahan. Sakitnya pun semakin berkurang, karena payu daranya tak lagi bengkak seperti sebelumnya.
__ADS_1
"Alat ini benar-benar ajaib, aku harus membawanya setiap hari," seru Cleona saat asinya sudah berhenti mengalir setelah ia pompa hingga mendapatkan sekitar dua gelas besar susu. Cleona terlihat begitu gembira.
Setelah memompa ASI, menutup luka di kening dan mengompres perutnya dengan air hangat, Cleona pun segera keluar untuk bekerja di restoran agar ia bisa mengisi perutnya hari itu.
Seharusnya Cleona bekerja lebih awal dan mendapatkan uang lebih. Namun, Tisya dan kedua teman-temannya, malah membatalkan rencana Cleona. Meski begitu, Cleona tetap bersyukur.
***
Tiba di restoran, Cleona langsung mengganti pakaian dan mulai mengantarkan pesanan ke tiap-tiap meja juga ruangan VIP. Restoran tak pernah sepi, selama bekerja Cleona tak pernah duduk. Selalu mondar mandir mengantarkan pesanan yang semakin diantar justru semakin banyak.
"Kopi ini khusus untuk pelanggan di meja nomor 21," titah seorang barista. Cleona pun membawa kopi dengan berhati-hati.
"Kopinya Tuan," Cleona meletakkan kopi satu persatu ke atas meja. Namun, seorang pelanggan pria sengaja membuat Cleona tersandung dan segelas kopi panas yang tersisa di atas nampan membasahi dada Cleona.
"Aaakhh! Panas!"
.
.
.
__ADS_1