Duren Bangsawan

Duren Bangsawan
Bab 67 ~ Istana


__ADS_3

"Tu-tuan Bang-sawan," ucap Cleona tercengang dengan mulut menganga yang langsung ia tutup dengan kedua telapak tangan. Cleona tak kuasa menahan keterkejutan, lihatlah bagaimana tubuhnya tak henti bergetar hebat. Hampir saja ia jatuh pingsan kalau tak segera menyadarkan diri.


Setelah suara sambutan para pengawal berhenti menggelar, barulah gerbang raksasa terbuka lebar. Ketika memasuki gerbang, mobil berjalan dengan kecepatan lambat.


Sepanjang mobil melaju, Cleona menatap kagum hamparan taman indah yang ditumbuhi pohon-pohon menjulang tinggi serta dihiasi berbagai macam bunga-bunga terlangka di dunia.


Bahkan, juga ada lapangan berkuda yang sangat luas dengan kuda-kuda yang tampak sangat gagah persis seperti kuda di dalam dongeng tentang kerajaan. Hanya saja, tidak ada kuda yang punya sayap.


Netra Cleona tak henti menatap kagum selama perjalanan menuju royal kastil Oesteria yang menjadi istana utama atau tempat tinggal resmi keluarga kerajaan.


Cleona menatap Castin yang raut wajahnya terlihat sangat bahagia, Cleona tak menyangka kalau Castin adalah seorang Tuan Bangsawan.


Setelah mengetahui kebenaran itu, Cleona merasa derajatnya dan Castin sangatlah jauh. Castin adalah langit, sementara dirinya adalah debu di muka bumi. Cleona sama sekali tak terlihat, sementara Castin selalu dipuja sepanjang waktu.


Belum lagi sosok baby D, benar-benar sulit dipercaya bahwa dirinya telah membesarkan seorang bayi berdarah bangsawan. Cleona merasa ia tak pantas untuk Castin, bagaimana mungkin seorang tuan bangsawan menikahi seorang gadis seperti dirinya. Cleona takut, sangat takut dan benar-benar takut.


"Kamu kenapa?" tanya Castin kala bingung dengan gelagat Cleona yang perlahan menjauhinya.


"Saya mau pulang," jawab Cleona pelan.


"Kenapa?"


"Tuan adalah seorang bangsawan."


"Lalu?"

__ADS_1


"Saya tidak bisa bersama dengan tuan," Cleona mengangkat wajah, menatap Castin dengan mata berkaca-kaca.


"Kau tidak bisa bersama denganku, tapi aku bisa bersama denganmu. Kamu sudah tahu siapa aku sebenarnya, siapa pun tidak ada yang bisa membantah keinginanku!" tegas Castin dengan penuh ketulusan dan mampu membuat Cleona merasa terharu.


Hidup Cleona bagaikan dongeng di dunia nyata, Cleona benar-benar tak menyangka mendapatkan ketulusan dari seorang pangeran. Namun, akankah kisahnya seindah kisah cinta di negeri dongeng? Atau akan banyak kesulitan yang akan Cleona hadapi kedepannya?


Castin mungkin mau menerima ia apa adanya. Akan tetapi, apakah raja, ratu, maupun seluruh masyarakat Oesteria mau menerimanya seperti yang Castin lakukan?


Jantung Cleona berdebar semakin kencang ketika mobil mulai berhenti tepat di pintu istana utama. Cleona benar-benar takut, ia tak mau berekspektasi tinggi. Bahkan, istana yang indah tampak seperti neraka bagi Cleona. Sementara Castin tampak seperti iblis berwajah malaikat.


Andai ia ia diberikan kesempatan untuk pergi, maka Cleona akan memilih pergi dan tak akan terlibat lebih dalam. Meski itu artinya ia tak akan pernah bertemu lagi dengan bayi mungil yang selama ini ia perjuangkan dengan nyawa.


"Cleona," panggil Castin yang sudah lebih dulu turun dari mobil, kemudian menahan pintu mobil agar Cleona bisa turun. Saking asiknya melamun, Cleona sampai tak menyadari ajakan Castin.


"Cleona," panggil Castin lagi, tapi Cleona tak kunjung meresponnya. Castin yang sudah tak sabaran kembali masuk ke dalam mobil dan siap menggendong Cleona.


"Mau makan semangka jumbo di sini," ledek Castin tersenyum miring, Cleona reflek menutupi semangka jumbonya.


"Tuan jangan macam-macam, sekarang kita di istana," balas Cleona menahan dada Castin dengan sebelah tangan agar Castin tak semakin mendekat.


"Jadi maksudmu boleh asalkan di tempat lain?" goda Castin semakin menjadi.


"Bukan itu maksud saya," lirih Cleona membuat Castin merasa iba dan segera menyingkir dari atas tubuh Cleona, lalu keluar dari mobil.


"Keluarlah gadis semangka jumbo," titah Castin dan Cleona pun segera turun dari mobil.

__ADS_1


"Berhenti menyebut saya begitu, Tuan," protes Cleona malu dikatai gadis semangka.


"Ya sudah, kembali ke pepaya saja," tutur Castin langsung menyeret Cleona menuju pintu utama istana yang dijaga ketat oleh pengawal bersenjata lengkap.


Saat menginjakkan kaki di lantai istana yang terbuat dari kaca dan emas, Cleona merasa langkahnya begitu berat. Cleona menelan saliva bersusah payah ketika menatap betapa luas, mewah dan megahnya istana resmi keluarga kerajaan.


"Selamat datang tuan bangsawan dan nona muda," sambut seorang pelayan yang pakaiannya paling beda sendiri dari pelayan lain yang berdiri sejajar. setidaknya ada lima puluh pelayan yang menundukkan wajahnya, menyambut kedatangan Castin.


"Di mana Mama?" tanya Castin to the point.


"Nyonya ratu sudah menunggu di ruang makan, Tuan," jawabnya sopan dan penuh kelembutan.


"Kalian boleh pergi," usir Castin.


"Baik, Tuan." para pelayan pun lebih dulu menuju ruang makan.


"Kau ingat ini baik-baik, apa pun yang Mamaku tanyakan, jawab saja iya, kiri, dan 20," pinta Castin serius.


"Iya, kiri dan 20."


.


.


.

__ADS_1


Cepet banget ya tembus 100 komentarnya 🙈. Sampe ngebut Othor nulisnya, maafin typonya ya🙏🏻🥲. Calangeo reader semua😘😘😘


__ADS_2