Duren Bangsawan

Duren Bangsawan
Bab 07 ~ Bulliying


__ADS_3

Tiba di kelas, Cleona dibuat bingung karena tas lusuh miliknya sudah tak lagi ada di kursi maupun di laci meja. Cleona tahu pasti kalau itu ulah teman-teman sekelasnya, lantaran tragedi seperti ini bukanlah yang pertama kali terjadi.


Daripada marah-marah tidak jelas yang hanya akan berakhir menyakiti dirinya sendiri, Cleona lebih memilih mencarinya di laci beberapa meja yang kosong.


Saking serius dan fokusnya mencari tas miliknya, Cleona sampai tak menyadari kehadiran guru yang sudah masuk ke dalam kelas dan siap memulai pelajaran.


"Cleona, ngapain kamu masih berdiri?" tanyanya mengintimidasi.


"Saya sedang me—"


"Duduk!" bentaknya membuat Cleona tak punya pilihan lain selain patuh. Menjelaskan masalah yang ia alami juga percuma, karena sang guru tidak menyukainya.


"Kenapa kamu tidak menulis Cleona? Di mana buku-bukumu?" tanya sang guru mengintrogasi pada Cleana yang sedari tadi hanya melamun sambil menahan tangis.


"Saya—"


"Cleona tidak bawa buku, Buk." sahut salah satu siswa. Cleona langsung menggelengkan kepala tidak mengakui. Hanya menggeleng, karena baik guru maupun teman-temannya tidak ada satu pun yang membiarkan Cleona membuka suara dan menjelaskan.


"Keluar kamu!" usir sang guru membentak Cleona. Sekelas menyoraki Cleona yang tak punya pilihan lain selain keluar dan terpaksa pulang lebih awal.


Tiba di depan gerbang sekolah. Cleona menemukan botol minumnya tergeletak di samping tong sampah. Cleona segera memungutnya, lalu bergegas membuka penutup tong sampah. Dan apa yang ia pikirkan benar-benar terjadi. Tas lusuh miliknya berada di dalam tong sampah dan sudah menyatu dengan sampah-sampah di dalamnya.

__ADS_1


Cleona bergegas mengambil tas lusuh miliknya, kemudian ia kibas-kibas untuk membersihkan kototan yang menempel.


Tas lusuh yang sudah tak ber-resleting itu begitu berharga bagi seorang Cleona. Selain karena tak mempunya uang lebih, tapi juga kepalang karena kurang dari dua tahun lagi Cleona akan lulus SMA.


Cleona menatap tas lusuhnya dengan mata berkaca-kaca, ia berusaha membendung air mata agar tak tumpah. Dan usahanya berhasil, Cleona mengganti sedih dengan senyuman paksa.


Meski hatinya hancur, Cleona tetap semangat untuk menjalani hari-harinya yang begitu sulit. Seperti biasa, Cleona memasang tas di depan dada guna menutupi gundukannya yang menonjol.


Setelahnya, Cleona kembali melanjutkan perjalanan menuju tempatnya bekerja paruh waktu. Karena hari itu ia pulang lebih awal, maka ia akan bekerja Lebih awal.


Lumayan, gajinya akan sedikit bertambah. Terkadang, ada nikmat tersendiri di balik suatu musibah. Hidup harus tetap bersyukur walau kenikmatan itu sangat sedikit sekalipun.


Keduanya tak lain adalah teman dekat seniornya yaitu Tisya. Cleona yang panik terus berontak dan berteriak. Kondisi yang sepi membuat tak ada satu pun orang yang menghentikan aksi kedua orang yang masih menyeretnya.


Cleona diseret hingga tiba di bagian belakang gedung hotel. Sangat sunyi, sepi dan dipenuhi dengan kayu dan drum bekas. Kedua orang tadi menghentakkan Cleona hingga tersungkur dan terbentur keningnya.


Cleona pun bersimpuh di tanah sambil memegangi keningnya yang membengkak. Cleona berusaha bangkit dan siap kabur. Tapi, kedua siswi sebelumnya lebih dulu menghentikan tindakan Cleona. Keduanya mencengkam kuat kedua lengan Cleona.


Bug!


"Akh!" teriak Cleona kesakitan ketika Tisya memukul perutnya dengan sekuat tenaga.

__ADS_1


Setelah itu, dengan kasar Tisya menarik serta menjambak rambut panjang Cleona, hingga Cleona meringis kesakitan. Cleona tak dapat melakukan apa pun, karena dua orang sahabat Tisya, masih memegangnya dengan erat di kiri dan kanan.


"Kenapa? Sakit?"


"Lepaskan!" pinta Cleona.


"Melepaskanmu? Jangan harap!" balasnya mengencangkan cengkraman tangannya. Cleona memejamkan kedua mata menikmati rasa sakit itu.


"Aku akan mengundurkan diri dari lomba!" tegas Cleona menyerah.


"Nah, begitu dong. Kalau dari awal seperti ini, aku tidak akan susah-susah merencanakan hal ini untuk melukaimu," Tisya langsung melepaskan Cleona. Cleona kembali tersungkur di tanah karena merasa kram di bagian perutnya yang di pukul oleh Tisya.


Cleona menengadah ke atas agar air matanya tak mengalir. Tapi, tatapan mata Cleona tak sengaja fokus pada sebuah kamera tersembunyi yang ada di sebuah tiang. Cleona tersenyum miring sambil mengepalkan kedua tangan.


"Kali ini aku tidak akan diam saja saat kalian semua menyakitiku!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2