Duren Bangsawan

Duren Bangsawan
Bab 83 ~ Boddyguard


__ADS_3

"Ta-tapi ....


"Aku hanya bercanda, sekarang istirahatlah. Nanti aku akan meminta bibi Gina untuk memindahkannya," potong Castin yang mengerti perasaan Cleona yang tentu saja ragu dan butuh waktu untuk mempercayainya.


"Terima kasih, Tuan," ucap Cleona tulus. Castin menganggukkan kepala dengan senyuman kecil menghiasi paras tampannya.


***


Keesokan harinya, Cleona dibangunkan oleh seorang gadis dengan tubuh menjulang tinggi yang membelakanginya. Gadis yang mengenakan seragam sekolah yang seksi itu membuka horden kamar Cleona dengan penuh semangat, hingga sinar matahari masuk lewat celah-celah ventilasi, membuat silau ketika Cleona membuka kedua matanya.


"Selamat pagi, nona putri Cleona. Perkenalkan nama saya Nana Calista, nona bisa panggil saya Nana. Mulai saat ini dan kedepannya saya yang akan bertanggung jawab atas keselamatan nona. Singkatnya saya adalah boddyguard yang akan menjaga nona kapan pun dan di mana pun," terangnya berseru penuh semangat.


Sedangkan Cleona mengerjabkan mata beberapa kali. Berusaha mencerna ucapan gadis berparas cantik dengan netra coklat bersinar yang berdiri tepat di hadapannya.


"Boddyguard?" balas Cleona dengan suara khas bangun tidur.


"Benar sekali, Nona. Nyawa nona adalah nyawa saya, nyawa saya nomor dua dan saya akan melindungi nona dengan nyawa saya!" balasnya lagi masih dengan full semangat.


"Tunggu ... Siapa yang memintamu menjadi boddyguardku?" kembali Cleona mengajukan pertanyaan.


"Tuan Prince Castin, Nona," sahutnya membuat Cleona menghela napas kasar.


"Apa usia kita sama? Apa kamu juga akan ikut sekolah denganku?"


"Kita lahir di tahun yang sama, Nona. Dan ya, saya akan sekolah di sekolah dan kelas yang sama dengan nona," jawab Nana yang langsung mendekati Cleona tanpa ragu.


"Kalau begitu panggil namaku saja. Kita teman mulai sekarang, tidak perlu bahasa formal karena aku sama sepertimu, aku bukan siapa-siapa di tempat ini," ungkap Cleona tersenyum manis.


"Baik, Cleona. Tapi, kamu harus tahu bahwa tuan prince Castin sangat mencintaimu. Aku bisa melihat ada cinta yang amat besar di matanya ketika dengan tegas memintaku untuk melindungimu," ujar Nana dengan nada suara yang berubah-ubah serasi dengan kalimat yang ia ucapkan.


"Sejujurnya aku juga ingin mendengar Dokter Calvin mengatakan kalimat itu untukku. Ah, sayangnya aku tidak seberuntung kamu," lanjutnya lagi, tapi kali ini raut wajahnya terlihat sedih.


Cleona tak dapat berkata-kata kala mendengar cerita Nana. Namun, sepertinya pipi yang merah merona dapat menjelaskan tentang apa yang kini ia pikirkan.


"Oh iya, aku sudah menyiapkan seragam, sekarang kau ke kamar mandi, sikat gigi lalu cuci wajah karena hari pertama kita harus datang tepat waktu," Nana berjalan cepat menuju walk in closet untuk menyiapkan yang lainnya. Cleona menatapnya dengan bingung.


"Maaf kalau aku agak cerewet, ya, nona, maksudku Cleona , hehe ..." lanjutnya lagi, Cleona menganggukan kepala mengerti. Nana masuk ke dalam walk in closet dan entah apa lagi yang ia siapkan.


Sedangkan Cleona bukannya pergi ke kamar mandi seperti yang Nana jelaskan, melainkan mengambil alat pompa asi. Karena itu harus ia lakukan agar tak kesakitan selama di sekolah.


"Cleona, kamu—" Nana tak melanjutkan kalimatnya saking kaget dengan apa yang ia lihat saat ini. Cleona tak mengatakan apa pun, ia hanya tersenyum pilu menahan sakit, kemudian kembali melanjutkan aktivitasnya yaitu memompa asi.


"Maaf, aku baru pertama kali melihatnya," ucap Nana merasa tak enak hati.


"Tidak apa-apa," balas Cleona kembali tersenyum manis.


"Apa ada yang bisa aku bantu?" tawar Nana.

__ADS_1


"Bisakah siapkan handuk dan air hangat," pinta Cleona yang wajahnya mulai memucat.


"Baiklah, tapi apa kamu baik-baik saja?" tanya Nana Khawatir.


"Iya, aku baik-baik saja. Sudah biasa seperti ini," sahut Cleona masih memompa asinya.


"Baiklah kalau begitu," Nana langsung pergi untuk melakukan tugas yang Cleona perintahkan padanya.


Tak lama kemudian, Nana kembali dengan membawa air hangat dan juga handuk seperti yang Cleona inginkan.


"Ini," Nana meletakkannya ke atas nakas di samping Cleona yang menyudahi aksinya memompa asi.


"Terima kasih, Nana."


"Sama-sama, Cleona."


Nana duduk di samping Cleona, sementara Cleona mulai mengompres pepaya jumbonya. Nana berusaha menatap ke arah lain karena tak mau membuat Cleona merasa tak nyaman.


"Selera pangeran Castin benar-benar eklusif tingkat tinggi ya. Langka, hehe ..." ledek Nana. Cleona hanya tersenyum tipis.


"Tiga kali lipat dari milikku, jadi iri," lanjutnya lagi, Cleona kembali membalasnya dengan senyuman tipis. Cleona sama sekali tidak merasa terganggu apa lagi malu dengan keberadaan Nana. Nana yang gampang bergaul dan banyak bicara mampu membuatnya merasa nyaman.


Setelah dikompres, barulah Cleona merasa lebih baik. "Baby d bukan putraku, aku mempunyai asi karena mengidap Hyperprolactinemia. Sejenis penyakit langka, tapi syukurnya tidak berbahaya," terang Cleona mengerti akan apa yang Nana pikirkan.


"Oh, syukurlah kalau tidak berbahaya. Beruntung tuan Castin, ya."


"Apa?"


"Apa?"


"Kekuranganmu itu hanya satu yaitu terlalu sempurna. Spek bidadari sesungguhnya," jawab Nana yang tampak begitu mengagumi Cleona.


"Kamu juga cantik dan baik Nana."


"Dokter Calvin suka yang besar juga, tidak, ya?"


"Kamu menyukai dokter Calvin?" tanya Cleona penasaran. Nana langsung mengangguk cepat.


"Kamu mengenal dokter Calvin?"


Tok, tok, tok!


"Sepertinya tuan Castin sudah menunggu di meja makan," Nana langsung bangkit untuk membuka pintu kamar. Sedangkan Cleona juga bangkit dan segera masuk ke dalam kamar mandi.


"Tuan Prince Castin," sapa Nana memberi jalan menyambut kedatangan Castin.


"Mana Cleona?" tanya Castin menuju ranjang putranya yang rupanya masih terlelap di pagi itu.

__ADS_1


"Nona Cleona ada di kamar mandi, Tuan." jawab Nana.


"Kau boleh pergi," usir Castin.


"Baik, Tuan." Nana pun segera keluar dari kamar Cleona.


Setelah melihat putranya yang masih pulas terlelap, Castin menuju ranjang dan duduk di pinggirnya. Kemudian melihat dua botol besar asi yang sudah Cleona pompa.


Melihat banyaknya cairan putih tersebut, Castin merasa sangat bersalah. Pasti sangat berat menjadi seorang Cleona.


"Tuan Castin," panggil Cleona yang keluar dari dalam kamar mandi, dan telah siap dengan seragam sekolahnya.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Castin segera berdiri dan mendekati Cleona.


"Iya, Tuan. Saya baik-baik saja. Di mana gadis tadi?"


"Sudah menunggu di ruang makan."


"Oh," balas Cleona menuju meja rias untuk menyisir rambutnya.


"Biar kubantu," Castin merebut sisir dari tangan Cleona.


"Ta-tapi—"


"Tidak apa-apa," potong Castin mulai menyisir rambut Cleona dengan lembut. Sementara Cleona memilih melakukan tugas lain, yaitu menepuk tipis cushion di wajah mulusnya. Tak lupa Cleona juga mengaplikasikan sedikit liptint untuk menyamarkan bibirnya yang pucat.


Setelah selesai, Castin membawa Cleona sarapan. Sementara sang putra dijaga oleh pelayan khusus. Di meja makan Cleona tak menemukan gadis bertubuh tinggi sebelumnya. Ketika masuk ke dalam mobil, barulah Cleona menemukan Nana yang sedari tadi ia cari-cari.


"Hai, Nona Cleona," sapa Nana yang duduk di sebelah Asisten Helder.


"Nana, kamu tidak sarapan?" tanya Cleona yang duduk di sebelah Castin di kursi bagian tengah.


"Sudah, Nona. Nona jangan khawatirkan saya."


"Ingat tugasmu," timpal Castin serius.


"Siap, Tuan Prince Castin."


"Gunakan kartu yang aku berikan, beli apa pun yang kau mau."


"Baik, Tuan," jawab Cleona menganggukkan kepalanya.


Beberapa saat kemudikan, mobil pun berhenti cukup jauh dari gerbang sekolah sesuai permintaan Cleona, karena Cleona tak mau satu sekolah heboh karena ia diantar oleh seorang pangeran.


"Jaga dirimu baik-baik. Jangan sampai ada seseorang yang menyentuhmu sedikit pun. Kalau sampai itu terjadi, maka kamu tidak akan pernah melihatnya lagi."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2