Duren Bangsawan

Duren Bangsawan
Bab 86 ~ Aksi Nana


__ADS_3

PLAK!


"Aaakh!" teriak seorang gadis terkapar di lantai dengan memegangi pipinya yang memerah. Bukan Nana gadis yang terkapar itu, melainkan salah satu dari tiga gadis yang mem-bully Cleona.


"Lepaskan!" teriaknya berusaha melepaskan tangannya dari cekalan Nana.


"Oke," jawab Nana santai, kemudian menghempaskan tangan gadis bertubuh pendek itu hingga menimpa satu gadis di sebelahnya. Mereka bertiga pun sama-sama terkapar di keramik berdebu. Sementara Nana tersenyum puas, berbeda dengan Cleona yang membulatkan mata karena kaget akan aksi Nana.


"Selamat pagi, anak-anak!" seru seorang guru perempuan, semua murid pun kembali ke tempat duduk mereka masing-masing. Termasuk tiga gadis yang terkapar di lantai.


Hanya Nana dan Cleona yang tetap berdiri mematung. "Cleona, duduk di kursi mu," titah sang guru kepada Cleona. Cleona segera duduk di kursi yang dulu menjadi tempat duduknya, tepatnya di pojok paling belakang.


"Kamu maju dan perkenalkan dirimu," Nana segera maju, berdiri tepat di samping tempat duduk guru.


"Hallo teman semua, perkenalkan namaku Nana Calista, panggil saja aku Nana. Usia kita sepertinya sama," Nana memperkenalkan dirinya dengan lugas.


"Hai, Nana," balas Cleona. Ya, hanya Cleona yang merespon. Sementara yang lainnya menatap Nana ketakutan, termasuk murid laki-laki. Aura Nana memang berbeda.


Mendapat tatapan darinya, membuat murid di kelas merasa gelisah. Hanya tiga gadis sebelumnya yang menatap Nana tak suka, karena hati mereka diselimuti dendam. Selama ini, baru Nana yang berani mempermalukan ketiganya.


"Kau boleh duduk," kembali guru meminta Nana duduk karena pelajaran akan segera dimulai.


Nana melangkah lebar, mengambil sebuah kursi dan meja kosong. Kemudian menyatukannya dengan meja Cleona yang duduk sendirian di pojok.


"Maaf karena aku terlambat, kamu tidak apa-apa, bukan?" Tanya Nana berbisik dengan perasaan takut. Takut Cleona mengalami luka, karena kalau itu terjadi, maka habislah dirinya.


"Tidak apa-apa, Nana. Kamu datang tepat waktu. Aku baik-baik saja, mereka belum sempat melukaiku," terang Cleona juga berbisik.


"Syukurlah, apa tiga gadis tadi yang sering membullymu?"


"Iya, biasanya mereka bertiga yang memulai, kemudian yang lain akan ikutan."


"Astaga!"


***


Saat jam istirahat makan siang, Cleona dan Nana bergegas menuju kantin angkatan mereka. Setiap angkatan memiliki kantinnya masing-masing. Saat tengah mengantri, tiga gadis sebelumnya dengan lancang memotong antrian tepat ketika Cleona dan Nana bersiap akan mengambil makanan.

__ADS_1


Nana yang geram akan hal itu segera maju dengan ekspresi wajahnya yang menakutkan. "Tidak perlu, Nana. Biarkan saja, yang penting mereka tidak mengganggu kita," Cleona berusaha menahan Nana, ia tak ingin ada keributan.


"Tidak bisa, Cleona. Mereka harus diberikan pelajaran, kalau tidak mereka akan terus menginjak-injak kita," tegas Nana geram dan mendekati tiga gadis kurang ajar di depannya.


"Lewat mana kalian bertiga ketika brojol? Sampai-sampai tidak diajari tata krama mengantri?" tegur Nana bertolak pinggang. Murid lainnya menahan tawa mendengar celetukan Nana yang entah apa maknanya.


"Kita bertiga ini murid VIP, tentu saja ada keistimewaan tersendiri," jawab salah satu dari mereka.


"Benar. Murid miskin seperti kamu dan aktris purono itu mana mengerti," sambung gadis lain bertubuh pendek sambil menunjuk Cleona. Ketiganya tak merasa takut walau sebelumnya sudah Nana berikan pelajaran.


"Apa katamu?!" dengan sekali tarikan kedua tangan yang gesit, kerah baju ketiga gadis itu mampu Nana kuasa. Murid lainnya bergidik ngeri. Nana benar-benar sangat menyeramkan.


"Lepaskan!" teriak ketiganya berontak. Ketiganya memukul angin karena tak mampu meraih tubuh Nana yang menjulang tinggi.


"Aktris purono! Kalian bertigalah aktris purono itu!" bentak Nana menghempas ketiganya hingga kembali berakhir di lantai.


Kali ini lebih mengenaskan, karena empat kancing baju seragam bagian atas mereka terlepas. Memperlihatkan bra dengan gundukan mereka yang mini.


Kacaunya lagi, ada beberapa murid yang memang merekam kejadian itu sedari tadi. Mereka mengirimkan rekaman itu di grup sekolah. Ketiga gadis itu benar-benar dipermalukan oleh Nana. Namun, mereka belum juga merasa jera.


"Jangan macam-macam denganku!" ancam Nana murka.


Usai makan siang, Nana dan Cleona kembali ke kelas dan melanjutkan pelajaran. Sayangnya, Nana dan Cleona sama-sama lemot soal pelajaran terutama pelajaran yang berhubungan dengan angka. Akan tetapi, keduanya punya semangat yang tinggi untuk tetap melanjutkan pendidikan meski dengan otak yang pas-pasan.


Tiga gadis yang Nana permalukan tak terlihat di kelas. Sepertinya mereka sudah pulang lebih dulu karena malu. Berkat orangtua ketiganya kaya raya, video sebelumnya dapat mereka musnahkan dengan uang.


Walau hanya dapat memusnahkan video di memori hp para murid, tidak dengan memori di kepala mereka. Dan tentu saja ketiganya masih menjadi gunjingan para murid lainnya.


***


"Tuan Castin," ucap Cleona yang kaget ketika akan masuk ke dalam mobil, Cleona tak menyangka Castin datang menjemputnya secara langsung.


"Kemarilah," Castin menepuk pelan tempat duduk di sampingnya, sebagai kode agar Cleona duduk di sebelahnya. Cleona menoleh ke belakang guna mencari keberadaan Nana. Rupanya, Nana sudah duduk di kursi samping kemudi. Cleona pun terpaksa duduk di samping Castin.


"Bagaimana sekolahmu? Apa ada masalah?" tanya Castin lembut dan perhatian.


"Tidak ada, Tuan."

__ADS_1


"Tuan lagi?"


"Ah, iya. Maaf, Tuan ... Eh, maksud saya kak Castin. Maaf, Kak. Aku lupa." balas Cleona gugup.


"Benar tidak ada masalah, Nana?" Castin bertanya pada Nana.


"Ada, Tuan. Beberapa murid mencoba mem-bully nona. Tapi, saya sudah memberikan mereka pelajaran," lapor Nana jujur dan tegas.


"Apa ada yang terluka?" Castin sibuk memeriksa tubuh Cleona.


"Tidak ada luka, kak. Aku baik-baik saja. Berkat Nana mereka tidak dapat menyentuhku."


"Baguslah kalau begitu," ujar Castin lega.


"Kau tahu apa yang harus kau lakukan, Helder?"


"Siap, Tuan. Akan saya tandai muka mereka."


"Bagus."


Beberapa saat kemudian, Cleona baru menyadari kalau mobil tidak mengarah pulang menuju istana kedua.


"Kita mau ke mana, Kak? Ini bukan jalan arah pulang."


"Kita akan ke rumah sakit."


"Rumah sakit? Untuk apa? Siapa yang sakit? Baby d baik-baik saja, bukan?" tanya Cleona khawatir.


"Untuk ....


.


.


.


Babang Castin jemput calon istri yang kini lagi liatin dia💞.

__ADS_1



__ADS_2