
"Aku sangat yakin pia-pria yang menyerang tadi adalah suruhan Genk Kurcaci itu," tebak Nana yang pergelangan tangannya telah diperban oleh Cleona.
"Sepertinya begitu," jawab Cleona sambil menekan perutnya.
"Kamu kenapa?" tanya Nana khawatir.
"Tidak apa-apa. Sudah biasa nyeri mendadak seperti ini, hidup dengan satu ginjal memang begini," jawab Cleona tersenyum pilu.
"Inilah alasan Castin tidak setuju kamu belajar beladiri, dia tidak ingin calon istrinya kelelahan. Kamu malah cari penyakit dengan berlarian," omel Nana.
"Kenapa kamu jadi seperti Castin, terus memarahiku. Aku baik-baik saja, lagian juga cuma berlari sebentar," bela Cleona.
"Hehe," Nana nyengir kuda.
"Sepertinya tiga kurcaci itu tidak akan menyerah. Aku sangat yakin mereka akan kembali membuat rencana untuk membuatmu celaka. Untuk itu, bagaimana kalau kita pulang saja? Aku takut tidak bisa melindungimu," tutur Nana dengan firasat buruknya.
Nana takut terjadi sesuatu pada Cleona. Jika itu terjadi, Nana takut Castin tak memberikannya bayaran, sementara sang ayah butuh banyak uang untuk pengobatan.
"Jangan sekarang, kita belum mengelilingi api unggun," balas Cleona tak rela pulang lebih dulu.
"Hujan lebat begini."
"Sepertinya besok," jawab Cleona.
"Ya sudah, kita pulang besok setelah mengelilingi api unggun. Untuk sekarang, kita istirahat saja," ajak Nana dan Cleona pun setuju.
***
Keesokan harinya.
Hujan lebat yang melanda semalaman akhirnya reda di pagi itu. Hawa dingin, suara kicauan burung, jangkrik serta binatang lainnya menjadikan suasana semakin terasa damai.
Semua murid yang baru bangun langsung bergegas mencuci muka di pinggi sungai. Setelahnya, mereka pun dikumpulkan di lapangan.
"Ketika hujan dan kayu-kayu basah, dengan apa kita akan menghidupkan api?" tanya sang guru, para murid rebutan ingin menjawab. Karena yang benar menjawab akan mendapatkan nilai yang tinggi.
__ADS_1
"Kamu tahu jawabannya, Cleo?" tanya Nana berbisik.
"Tidak, kamu tahu?" tanya balik Cleona.
"Tidak juga, hehe ...."
Seorang murid diminta maju ke depan untuk menjelaskan jawabannya. Cleona dan Nana menunggu jawaban karena penasaran.
"Yaitu dengan menggunakan Rabuk Kering!" jawabnya bersemangat sambil mengeluarkan satu cup Rabuk Kering dari dalam tasnya.
"Jelaskan," pinta sang guru, murid tersebut langsung menjelaskan.
"Rabuk ini nantinya akan membantu kita untuk membakar kayu basah dengan Korek Api," jawabnya lagi sambil menunjuk korek api anti air.
"Tapi, kita akan tetap menggunakan kayu yang kering sebagai bara," lanjutnya lagi.
Setelah mendapatkan penjelasan, Cleona dan Nana mulai mengerti, guru membagi mereka perkelompok. Kelompok Cleona, Nana dan tiga kurcaci mendapatkan bagian paling sulit, yaitu mencari dan mengumpulkan kayu kering.
Mau tidak mau, mereka harus masuk sedikit lebih dalam untuk menemukan kayu kering. Tapi, Cleona maupun Nana tak takut sama sekali karena ada seorang kakak pembina yang sudah hapal dengan hutan dan akan membantu mereka menemukan kayu kering dengan cepat. Dengan adanya kakak pembina yang tegas, tiga kurcaci tak akan mungkin bisa menganggu mereka.
"Sejak kapan di sini ada jurang?" tanya sang kakak pembina sambil melihat peta yang sepertinya sudah direkayasa.
"Cleona kemari, jangan terlalu dekat dengan jurang," Nana menarik Cleona mundur dari jurang.
"Apa kita tersesat, Kak?" salah satu genk kurcaci bertanya.
"Sepertinya begitu," jawab kakak pembina tersenyum licik, Nana yang melihat senyuman itu langsung mengeratkan pegangannya pada pergelangan tangan Cleona.
"Aw! Sakit, Na." ringis Cleona yang tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Jangan macam-macam, atau aku akan menghabisi kalian semu—"
"Nana!"
***
__ADS_1
Di perusahaan.
"Apa meeting ini sangat penting?" tanya Castin yang sudah tak sabar ingin membuat kejutan dengan menjemput calon istrinya.
"Meninggalkan meeting ini, maka perusahaan akan rugi sekitar milyaran dollar, Tuan," balas Asisten Helder.
"Aku tak peduli! Calon istriku lebih penting!" bentak Castin langsung keluar dari ruangannya dan bergegas menjemput Cleona dengan penampilan yang amat berantakan, usia begadang semalam demi menyelesaikan banyaknya pekerjaan yang menumpuk.
"Beritahu pengawal untuk menyiapkan helikopter," titah Castin yang sudah berada di dalam mobil dengan asisten Helder sebagai supir.
"Baik, Tuan."
***
Hanya butuh waktu beberapa menit, helikopter yang membawa Castin sudah mendarat tepat di lapangan di mana para guru berkumpul menunggu murid-murid mereka yang rata-rata sudah menyelesaikan tugas dan kembali dengan banyak kayu basah.
Hanya grup Cleona dan Tisya yang belum kembali. Tapi, para guru tak heran sama sekali karena memang kedua kelompok itu mendapatkan tugas paling berat.
Dan kemunculan tiga helikopter kerajaan membuat para guru dan murid lainnya kaget, panik sekaligus bergetar ketakutan. Apalagi saat Castin muncul dengan beberapa tentara kerajaan sebagai pengawalnya.
"Selamat datang Tuan Prince Castin, ada yang bisa kami bantu?" Seorang guru laki-laki yang berdiri paling depan bertanya dengan suara bergetar dan wajah pucat pasi. Ia langsung membungkukkan badan memberi hormat, hal yang sama juga dilakukan oleh guru dan murid lainnya.
"Di mana calon istriku?" suara bass itu sukses membuat semua guru dan murid menatap Castin tak percaya. Calon istri? Siapa yang Castin maksud calon istri?
"Kenapa bengong? Apa kalian semua tidak dengar aku bertanya? Cepat katakan, di mana calon istriku?!" bentak Castin tak sabaran.
"Ma-maaf, tu-an prince Castin. Ta-pi, si-apa ya-ng tu-an prince mak-sud deng-an ca-lon is-tri?" tanyanya lagi dengan terbata. Ia takut salah bicara, takut peluru dari senjata M-16 milik tentara kerajaan menembus tubuhnya.
"CLEONA CHAVES! CLEONA CHAVES ADALAH CALON ISTRIKU!"😎
😳😯😲😨😰😱⚰️
.
.
__ADS_1
.