
Castin bangkit dari duduknya, kemudian membantu Cleona melepas kancing baju satu persatu. Setelah semua kancing terbuka, belahan pepaya super jumbo menjadi pemandangan pertamanya.
Castin menelan saliva, kemudian fokus pada tugasnya. Saat Castin akan melepas pengait bra milik Cleona. Cleona justru menahan dan tak mengizinkan Castin membuka bra-nya.
"Tidak perlu dilepas, ada resletingnya di sana."
"Oh iya, aku lupa, Sayang," Castin lupa bahwa Cleona memakai bra khusus menyusui yang ditengah-tengahnya melingkar resleting yang dapat dibuka bila ingin menyusui ataupun memompa asi.
"Aku buka, ya?" Castin meminta izin, Cleona langsung mengangguk cepat.
Rasa malu seakan tertutup dengan rasa sakit tak tertahankan, Cleona tak sanggup menahannya terlalu lama, Castin yang baik dan perhatian memberikannya rasa percaya dan aman.
Cleona memejamkan mata, sementara Castin menelan saliva bersusah payah, hawa panas menghampiri tubuhnya, apalagi senjata di bawah sana begitu cepat merespon.
"Aku mulai, ya?" kembali Castin meminta izin.
"Iya, tapi pelan-pelan," ringis Cleona dengan suara seksinya.
Tak mau melihat Cleona merasa sakit terlalu lama, Castin langsung menghisap dengan rakusnya.
"Akh!" teriak Cleona kesakitan, kali ini benar-benar terdengar kesakitan. Tidak seperti saat di lift, di mana Cleona tak sengaja melepaskan suara erotisnya.
__ADS_1
Mendengar teriakan kesakitan itu, Castin langsung menjauhkan mulutnya. "Kenapa, Sayang?" tanyanya khawatir.
"Sudah aku katakan pelan-pelan," ringis Cleona.
"Maaf-maaf, aku akan melakukannya pelan-pelan," Cleona mengangguk, Castin kembali mendekat dan melakukan dengan penuh kelembutan. Cleona merasa lebih baik setelah payu daranya tak lagi membengkak.
"Sudah," tutur Cleona langsung menutup tubuhnya dengan selimut. Castin menjauhkan diri, mengelap sisa cairan di bibirnya, kemudian tersenyum puas. Rasa itu benar-benar membuatnya ketagihan.
"Enak," ucap Castin membuat Cleona langsung membalikkan badan dengan kedua pipi yang memerah. Bila saat sakit ia tak merasa malu, tapi saat ini ia benar-benar malu.
Tok, tok, tok!
Pintu ruangan diketuk, Castin segera bangkit dan membukakannya. "Apa yang kakak lakukan, hem?" tanya Anna bertolak pinggang.
"Sudah tahu kakak ipar sakit, masih saja cari-cari kesempatan. Minggir! Aku mau lihat Kakak ipar," Anna memaksa masuk dan menghampiri Cleona yang telah selesai memperbaiki bajunya.
Castin membiarkan sang adik menemani Cleona, sementara dirinya berbincang dengan Asisten Helder.
"Bagaimana dengan semua bajingan itu?"
"Dibakar hidup-hidup secara perlahan seperti yang tuan perintahkan. Setelah mereka kehilangan nyawa, barulah hutan tersebut di bakar," terang Asisten Helder.
__ADS_1
"Sementara Tisya mengalami pendarahan setelah diperkosa tanpa ampun oleh 36 pengawal. Setelah dioperasi dan dijahit, kondisinya membaik. Tapi, dia sudah melahirkan diri, saat ini para pengawal sudah bertindak untuk menangkapnya kembali," lanjutnya.
"Biarkan dia pergi, tidak perlu menangkapnya lagi. Yang penting tubuh bagian dalamnya sudah dipasangkan chip," ujar Castin tersenyum puas.
"Sudah, tuan. Chip sudah dipasang, pengawal akan selalu memperhatikan gerak geriknya."
"Bagus. Oh iya, kau pergilah ke istana istana dan persiapkan acara pertunanganku dan Cleona," Castin memberi perintah tak sabaran.
"Hari ini, Tuan?" tanya Asisten Helder kaget.
"Papa dan mama akan pulang sore ini, acara tunangan akan dimulai malam ini. Persiapkan segalanya," titah Castin serius.
"Baik, Tuan. Akan segera saya persiapkan," jawab Asisten Helder.
"Satu lagi, setelah itu persiapkan juga pernikahan. Tiga hari setelah bertunangan aku akan langsung menikah. Hubungi perancang busana perancis dan pinta dia kirim koleksi gaun tunangan untuk Cleona malam ini. Setelah itu suruh dia datang ke istana, aku ingin gaun pernikahan siap dalam 24 jam," terang Castin detail.
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya pamit," Castin menganggukan kepala. Setelah itu, Castin kembali masuk ke dalam ruang rawat inap Cleona.
.
.
__ADS_1
.