
Keesokan paginya, Cleona mengerjabkan mata perlahan dikala sinar matahari pagi menyelinap masuk lewat ventilasi jendela. Cleona bangkit dengan pandangan mata yang masih buram.
Dengan santainya Cleona memiringkan kepala ke kiri dan kanan hingga terdengar suara ototnya yang tegang. Setelah itu barulah kedua mata Cleona terbuka dan dapat melihat dengan jelas.
Pandangan pertama yang Cleona lihat adalah dinding-dinding kamar yang dilapisi emas, begitu mewah. Lebih mewah dari kamar milik Castin di istana kedua.
Cleona membuka mulut lebar, ia menguap karena masih merasa mengantuk. Cleona menguap sambil menundukkan kepalanya, ketika melihat tubuhnya yang polos, Cleona pun berteriak sekencang-kencangnya, "Aaaakkkhhh!"
Teriakan histeris itu membangunkan Castin yang tengah terlelap nyenyak dengan mimpi terbang di udara bersama dengan Cleona.
"Apa? Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Castin panik dengan mata yang masih menyatu alias belum terbuka.
"Apa yang sudah tuan lakukan kepada saya?" bentak Cleona dengan tangisan yang pecah.
"Aku tidak melakukan apa pun padamu," jawab Castin jujur sambil meregangkan otot-otot tubuhnya yang sakit akibat semalaman tidur di sofa.
"Lalu kenapa saya tidak berpakaian? Tuan Castin jahat, tuan Castin tega melakukan ini semua!" teriak Cleoan sambil menggenggam erat selimut yang ia gunakan untuk menutupi tubuh polosnya yang hanya berbalut cd.
"Sudah aku katakan aku tidak melakukan apa pun kepadamu. Untuk masalah pakaian, apa kamu lupa bahwa kamu sendiri yang melepaskannya?" sahut Castin langsung berdiri dari duduknya, Cleoan beringsut mundur karena takut Castin menjahatinya lagi.
__ADS_1
"Mana mungkin saya melakukan itu," balas Cleona terisak.
"Sekarang kamu cek tubuh bagian bawahmu. Setelah melihatnya sendiri, kau akan tahu kalau aku tidak melakukan apa pun kepadamu," imbuh Castin menjelaskan.
"Bagaimana saya bisa tahu?" sahut Cleona tak mengerti apa perbedaan fisik seseorang yang masih virgin dan yang tidak virgin.
"Cek apakah ada bercak darah di sana, di selimut atau di kasur," timpal Castin geram.
Dengan polosnya Cleoan memasukkan kepala ke dalam selimut untuk memeriksa apakah ada bercak darah atau tidak. Setelah memastikan tidak ada bercak darah di mana pun, Cleona kembali menatap tajam Castin yang berjarak sekitar lima meter darinya.
"Pasti sudah tuan bersihkan," lontar Cleona kembali menangis pilu.
"Astaga, apa harus aku yang memeriksanya sendiri, setelah itu baru aku jelaskan kepadamu?" Castin maju beberapa langkah.
"Hei wanita, apa di sekolah kamu tidak pernah belajar bagaimana bentuk hymen?" tanya Castin serius.
Cleona menggelengkan kepala sebagai jawaban. Tapi, memang ia tidak mengingat ada guru yang menjelaskan tentang hymen atau sejenisnya.
Sepertinya Cleona ketinggalan pelajaran tentang hal itu, memang pernah dijelaskan tentang a lat kela min, tapi tidak dijelaskan tentang hymen seperti yang Castin katakan.
__ADS_1
"Percayalah, aku tidak melakukan apa pun padamu. Apa saat kau terbangun aku tidur di sampingmu?" tanya Castin dan Cleona menggeleng.
"Apa kamu merasa sakit atau tidak nyaman pada tubuh bagian bawahmu?" Cleona kembali menggeleng, karena yang ia rasakan hanya pusing yang teramat sangat dari kepalanya.
Castin tersenyum kecil, kemudian melangkah maju, Cleona reflek beringsut mundur. Castin duduk di pinggi ranjang, lalu menatap Cleona dengan lembut.
"Apa kamu ingat minuman yang Anna berikan padamu semalam?"
"Sa-saya ingat, Tuan. Saya ingat setelah meminumnya kepala saya pusing dan saya tidak mengingat apa pun lagi," terang Cleona berusaha mengingat-ingat.
"Minuman itu telah dicampur obat perang sang," ungkap Castin membuat Cleoan menutup mulut dengan kedua telapak tangan dan melupakan selimut yang sebelumnya ia pegang untuk menutupi buah pepaya jumbonya yang menggantung.
"Tidak mungkin," sahut Cleoan dengan mata membulat sempurna. Castin langsung mengalihkan pandangan, menatap jendela dengan wajah yang pasrah serta menghela napas kasar.
Ketika Castin mengalihkan pandangan, barulah Cleoan menyadari selimutnya yang telah turun sampai ke perut hingga memperlihatkan pepaya jumbo indah yang menggantung sempurna. Dengan ekspresi paniknya, Cleona langsung berbaring sambil menarik selimut hingga menutupi kepala.
"Memalukan!" jerit Cleona dalam hati.
.
__ADS_1
.
.