
Kawasan 21+, bochil skip dulu ya๐๐. Monggo dibaca sekarang, karena tak lama lagi akan Othor revisi๐
"Jangan menyalahkanku, Cleona."
Castin melepaskan pakaian basahnya satu persatu hingga hanya menyisakan cd saja. Setelah itu, Castin langsung naik ke atas ranjang, lalu mengukung tubuh polos Cleona.
Cleona langsung melingkarkan kedua tangan di leher Castin, kemudian menempelkan bibirnya. Castin terdiam beberapa detik, Cleona hanya menempelkan bibirnya karena itu membuatnya merasa nyaman.
Sementara Castin hampir pingsan akan hal itu. Sudah terlanjur basah, Castin tak akan lagi memikirkan ketakutannya. Tanpa berlama-lama, Castin membalas dengan melu mat, menye sap, meng ulum serta meng gigit lembut bibir bawah dan atas Cleona bergantian. Semuanya Castin lakukan dengan penuh kelembutan yang berhasil membuat Cleoan dan juga dirinya sendiri semakin terbuai akan kenikmatan tiada tara.
Castin tampak sangat menikmati meski Cleona tak melakukan apa pun karena masih kaku. Rasa kenyal, hangat dan manis dari bibir Cleona membuatnya ketagihan. Castin tak akan pernah melupakan sensasi itu, karena kini adalah momen yang paling berharga baginya. Baru bibir tapi Castin sudah K.O, entah apa yang akan terjadi bila ia merasakan sensasi kenikmatan lainnya.
Tak cukup sampai di situ, Castin menginginkan sensasi lebih dengan cara menarik lembut dagu Cleona hingga Cleona pun membuka mulutnya. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Castin langsung menguasai rongga mulut Cleona. Mengabsen satu persatu elemen di dalam rongga mulut Cleona, hingga ia mendapatkan sensasi luar biasa yang tak pernah ia rasakan selama ini.
__ADS_1
Cleona juga tak tinggal diam, ia terus menggeliat tak karuan, membuat hasrat Castin terus menggelora bak api yang terus menyala. Kenikmatan demi kenikmatan yang Castin dapat tak kunjung membuatnya puas, bibir manis Cleona berhasil membuatnya candu, ingin lagi dan lagi dan tak ingin melepaskannya. Kalau saja Cleona tak hampir kehabisan napas, maka Castin tak akan mengakhiri luma tan brutalnya.
Castin bangkit, menatap tubuh indah Cleoan dari atas sampai bawah, benar-benar menggoda. Pikirannya dibuat tak menentu, nafsunya terus menggebu-gebu, Castin tak kunjung puas. Entah magnet jenis apa yang ada di tubuh Cleona, hingga dapat menariknya terus-menerus.
Melihat Cleona yang semakin menggeliat dan mende sah tak karuan. Castin semakin terbuai, rasanya sudah semakin sesak. Tanpa aba-aba, Castin langsung membenamkan wajahnya di kedua pepaya jumbo yang menggoda. Castin memejamkan mata kala menghirup aroma khas di sana, aroma khas yang membuatnya tenang dan melayang di saat yang bersamaan.
Permainan bibir dan lidah Castin mulai turun ke bawah dan berhenti di ceruk leher Cleona, Castin meninggalkan banyak tanda kepemilikan di sana. Puas bermain-main di sana, Castin bergeser ke tempat bermain lain yaitu cuping telinga Cleona. Castin melu mat serta mengigitnya lembut. Sementara kedua tangan nakalnya mulai berkelana, menyentuh dan mere mas inci demi inchi tubuh mulus Cleona.
Karena sudah tak lagi sabar, Castin langsung berpindah pada dua gundukan yang sedari tadi menggodanya. Castin pun mulai menyingkirkan pasties yang menutupi bijinya. Ketika dilepaskan, isinya pun lumer dan tumpah.
Castin melahapnya secara bergantian seraya mere masnya gemas. Sesekali Castin juga meng gigit biji berwarna pink itu, membuat Cleona terus mengerang tak karuan.
Castin terus bermain di kedua pepaya ukuran jumbo milik Cleona yang besar dan sintal. Memiliki asi serta menyusui baby d tak merubah fisik buah nikmat penuh manfaat itu sama sekali. Justru, kedua aset berharga itu semakin indah dan menggoda ketika dimainkan. Castin dibuat menggila.
__ADS_1
"Ti-dak, ta-han la-gi ahhh ...."
Jika tidak kasihan pada Cleona, maka Castin tak akan mengakhiri pemanasan menggelora itu. Karena kasihan dan ia juga tak lagi sanggup menahan hasrat, Castin pun bergegas pindah ke inti di bawah sana.
Dengan perlahan Castin melepaskan cd berukuran L itu. Lihatlah bagaimana Castin tak dapat mengontrol ekspresi kala pertama kalinya melihat pemandangan indah berwarna putih mulus di bagian luarnya.
Mendadak Castin mematung ketika ia membuka kedua paha Cleona, hingga dapat melihat jelas pemandangan gundul nan indah itu. Benar-benar mulus tanpa pori-pori, apalagi warna kemerahan yang entah kenapa mampu menyegarkan matanya.
Castin yang sudah tak lagi sanggup menahan hasrat, mulai mengulurkan tangan, "Emm ...." de sah Cleona ketika Castin mengelusnya dengan lembut.
"Sudah basah, aku langsung saja, ya? Kamu juga sudah tidak tahan lagi, kan?" Castin meminta izin lebih dulu. Ia langsung bangkit dan melepaskan kain terakhir yang menutupi senapannya yang sudah lama telah merubah diri.
Senapan beser, panjang dan keras itu mulai Castin arahkan ke posisi yang seharusnya. Setelah itu, barulah Castin mendorong perlahan dengan penuh kelembutan.
__ADS_1
"Akh!" teriak Cleona kesakitan. Castin menghentikan aksinya kala merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Setelah menyadari sesuatu yang tidak beres itu, Castin langsung menjauhkan diri dari Cleona.
"Tidak mungkin ... Dia masih...."