
Setelah berbincang sebentar dengan Asisten Helder, Castin pun langsung bergegas menuju perusahaan karena ada sesuatu yang harus diselesaikan. Castin bahkan tak sempet berpamitan pada Cleona yang masih menyusui baby d di kamar.
Hanya beberapa menit perjalanan, Castin telah sampai di perusahaannya. Castin berjalan cepat menuju lift khusus untuknya yang dijaga ketat.
Tiba di ruangan, Castin duduk di kursi kebesarannya. Castin langsung berkutat dengan komputer dan banyaknya dokumen guna menyelesaikan sedikit masalah yang mampu ia selesaikan dengan mudah. Sementara Asisten Helder masih di luar ruangan. Ketika masuk, ia membawa seorang gadis bersama.
"Siapa dia, Helder?" tanya Castin yang masih duduk di kursi kebesarannya.
"Dia adalah—"
"Saya adalah office girl di perusahaan ini, Tuan Pangeran. Saya sudah banyak mendengar cerita tentang tuan dari dokter Calvin. Ayah saya adalah pasiennya dan saya adalah putri satu-satunya dari ayah saya. Ayah saya—"
Gadis bertubuh mungil itu tak lagi melanjutkan kalimatnya ketika Asisten Helder menepuknya pelan. Castin mengusap wajahnya kasar, ia tak habis pikir dengan gadis yang Helder pilih untuk mendampingi calon istrinya.
"Helder, apa di istana tidak ada pengawal perempuan?" tanya Castin tampak menahan emosi.
"Ada banyak, Tuan. Tapi, semua pengawal wanita yang kita punya bertubuh besar, berotot dan tidak ada yang wajahnya seumuran nona Cleona," terang Asisten Helder cepat.
__ADS_1
"Lalu, wanita mungil ini. Apa yang bisa dia lakukan?" sahut Castin dengan nada suara meninggi.
"Jangan menilai sesuatu dari luarnya saja, Tuan. Meski tubuh saya kecil, tapi saya dapat melakukan apa pun," sosor gadis tersebut dengan penuh percaya diri.
"Kau yakin?" tanya Castin sedikit tertarik dengan keberanian gadis tersebut.
"Tentu saja, Tuan. Saya dapat melakukan apa pun, bahkan saya rela mengorbankan nyawa demi uang!" tegas sang gadis begitu meyakinkan.
Tiba-tiba Castin teringat akan Cleona, wanitanya yang rela mengorbankan nyawa demi putranya. Sangat berbanding terbalik dengan gadis di hadapannya kini yang rela mengorbankan nyawa demi uang. Benar-benar matre.
"Baiklah, aku tertarik padamu."
Asisten Helder menahan tawa. Itulah salah satu alasannya memilih gadis bertubuh mungil itu sebagai gadis penjaga Cleona selama bersekolah. Asisten Helder khawatir pengawalnya akan berkhianat bila sering bertemu langsung dengan tuannya yang memiliki paras luar biasa. Dan hanya gadis mungil pilihannya yang Helder yakini tidak akan jatuh hati pada tuannya.
"Astaga," Castin mengusap wajahnya kasar. Gadis itu menoleh dengan senyuman bangga pada Asisten Helder yang memberinya satu cap jempol.
"Siapa namamu?" tanya Castin serius.
__ADS_1
"Nana Calista, Tuan."
Author : Yang penasaran seberapa mininya Nana Calista, silahkan lihat dua postingan terbaru reel Ig Author🙌. @Oniya_99
***
Siang itu, usai menyusui baby d hingga terlelap. Cleona berniat akan pergi ke ruang makan untuk makan siang, karena sebelumnya, kepala pelayan Gina sudah memanggilnya.
Ketika akan membuka pintu kamar, Cleona mengurungkan niat karena tiba-tiba merasa sakit yang luar biasa pada bagian luka bekas operasinya.
Cleona berusaha menahan, ia menekannya dengan kuat berharap dapat mengurangi rasa sakit tersebut. Namun, yang ia dapat justru rasa sakit yang semakin terasa.
Wajah Cleona mulai pucat, keringat dingin mengucur deras bersamaan dengan air mata. Cleona mengigit bibir bawah guna menetralisir rasa sakit. Akan tetapi, sakit itu tak lagi sanggup ditahan hingga Cleona pun terjatuh bersimpuh di lantai dingin kamarnya.
"To-long ....
.
__ADS_1
.
.