
PLAK!
Cleona terjatuh ke lantai usai mendapatkan tamparan cukup keras di pipi sisi kirinya. Sakit serta perih Cleona rasakan, ia berusaha menahan air mata. Kulit Cleona yang putih mulus, membuat cap tangan itu begitu berbekas.
Cleona merasai pipinya, lalu menyeka sedikit darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Bukannya menolong, murid lainnya malah menertawakan Cleona yang menyedihkan.
Tak ada satu pun belas kasihan mereka padanya, Cleona benar-benar salah masuk sekolah, karena di sekolah itu hanya dihuni oleh murid-murid kelas atas. Bahkan juga dari kalangan bangsawan.
Mereka semua baru berhenti tertawa ketika seorang guru mata pelajaran telah masuk dan duduk di singasananya. Tak ingin kena marah, Cleona langsung bangkit, menutupi pipi bengkaknya dengan rambut, kemudian duduk di kursi untuk memulia pelajaran di pagi itu.
Setelah jam pelajaran berakhir, Cleona menuju ruangan guru untuk menyerahkan surat pengunduran diri dari lomba. Kali ini Cleona membawa tas lusuh bersamanya karena takut kembali dibuang seperti sebelumnya.
"Pilihan yang bagus, sekarang pergilah," tanpa mengatakan apa pun, Cleona langsung pergi dari ruangan guru.
Cleona tak langsung kembali ke kelas, karena takut kembali dibully dan dilecehkan. Cleona lebih memilih pergi ke rooftop gedung sekolah. Di sana adalah tempat favoritnya karena tidak ada satu pun orang di sana.
Seharusnya saat ini Cleona di kantin dan makan siang seperti murid lainnya. Namun, Cleona ingin berhemat karena ia punya banyak hutang saat ini. Cleona lebih memilih minum air putih yang selalu ia bawa di dalam tasnya.
__ADS_1
Setelah minum, Cleona menempelkan botol minumnya pada pipinya yang memerah dan bengkak. Rasa dingin itu mampu sedikit mengurangi perih dan sakit yang sebelumnya ia rasakan.
"Sepertinya aku harus pindah sekolah, bukan di sini seharusnya aku berada," awalnya Cleona masuk ke sekolah itu karena mendapatkan beasiswa. Namun, semua berjalan tidak lancar. Cleona gagal mendapatkan beasiswa dan pada akhirnya terjebak.
***
Cleona menyusuri jalanan sepi menuju kontrakannya. Entah kenapa akhir-akhir ini harinya terasa semakin berat. Tidak hanya bulliying dan pelecehan, tapi ia juga kehilangan pekerjaan hingga memiliki hutang yang sangat besar jumlahnya.
Cleona bingung bagaimana harus membayar hutang-hutangnya, sedangkan untuk makan sehari-hari saja ia kesulitan. Langkah gontainya seketika terhenti kala tak sengaja mendengar suara tangisan seorang bayi. Cleona menajamkan telinganya, berusaha mencari sumber suara.
Cleona segera berlari menuju tempat terpencil itu, suara tangisan berasal dari dalam tong sampah yang ada di sana. Cleona langsung membukanya, dan betapa kagetnya ia kala melihat ada seorang bayi di dalamnya.
Cleona yang merasa kasihan, reflek langsung mengeluarkan bayi tampan yang tangisannya terdengar begitu histeris. Cleona menggendong bayi mungil menggemaskan itu, tak disangka, tangisan histerisnya langsung berhenti dalam sekejab.
Cleona melihat ke kira dan kenan, berharap menemukan pelaku yang tega membuang seorang bayi yang begitu tampan dan menggemaskan. Air mata meluncur karena merasa sangat kasihan dengan bayi malang yang ia temukan.
"Kamu lapar, ya?" tanya Cleona kala melihat sang bayi terus mengemut jarinya. Cleona menuju sebuah pohon rindang di samping tempat sampah, Cleona berinisiatif untuk menyusui sang bayi malang.
__ADS_1
Setelah merasa aman, Cleona pun duduk di akar pohon. Meski tak pernah menyusui sama sekali, tapi dengan insting keibuannya, Cleona berhasil menyusui sang bayi mungil yang dia temukan di dalam tong sampah.
Cleona tersenyum merasa senang sekaligus bangga, ia senang karena hari ini ASI-nya tak terbuang sia-sia. Di balik perasaan senangnya, Cleona juga merasa sedih karena nasib bayi malang itu, sama persis seperti nasibnya yang juga dibuang oleh orangtuanya.
Cleona tak tahu siapa orangtuanya, semasa kecil ia habiskan waktunya di panti asuhan. Sayangnya panti tempat tinggalnya telah digusur, semua penghuninya berakhir menjadi anak-anak jalanan termasuk dirinya.
Namun, nasib Cleona masih tergolong beruntung karena ia bisa hidup sedikit layak daripada teman-temannya yang entah seperti apa nasibnya.
Usai menyusui sang bayi hinga kenyang, Cleona terpaksa meletakkan kembali bayi itu di pinggir jalan yang sering dilewati. Bukan di tempat sampah sebelumnya.
"Maafkan aku karena harus meninggalkanmu. Selain tidak mampu, aku juga takut kamu menyesal hidup susah bersamaku. Semoga kamu ditemukan oleh seseorang yang bisa menjamin kebahagiaanmu."
.
.
.
__ADS_1