
"Tentu saja memasang alat ini, memangnya apa yang kamu pikirkan? Sudah, jangan buang-buang waktuku dan cepat buka bajumu!"
"Se-sekarang?" tanya Cleona ragu. Yang benar saja? Bila Castin yang memasangkan alat penyedot asi tersebut padanya, bukankah itu artinya Castin akan melihat asetnya yang berharga?
"Abad depan, ya sekarang," kesal Castin.
"Bagaimana kalau Tuan jelaskan saja kepada saya cara memasangnya, setelah itu saya akan memasangnya sendiri," pinta Cleona dengan nada suara selembut mungkin.
"Ya sudah," Castin mengalah dan memberikan kedua alat bermotif sapi itu kepada Cleona. Castin memasang selang ke botol asi yang sudah ia letakkan di atas alat khusus yang dapat mensterilkan botol dot.
Sementara Cleona memperhatikan serta mengingat-ingat saat Castin memasang alat-alat asing tersebut. Saat sudah selesai, Castin mengangkat wajahnya menatap Cleona yang masih memegang kedua alat berbentuk cekungan payu dara di tangannya.
Castin mengambil lagi buku berisi tutorial berbahasa Inggris sebelumnya. Ia membaca bagian selanjutnya. "Mana kotaknya?" tanya Castin, Cleona langsung mengambilnya.
"Ini, Tuan." jawab Cleona sambil mengulurkannya.
Castin menerimanya, kemudian mengambil bra khusus yang ada di dalamnya. Kedua pipi Cleona langsung memerah kala merasa malu ketika Castin membentang bra yang di bagian tengah atau pu tingnya dapat dibuka dan ditutup dengan mudah karena berbahan kain yang elastis.
"Kenakan bra ini," Castin memberikan bra khusus itu kepada Cleona. Cleona menerimanya ragu.
"Ada apa lagi?" tanya Castin heran karena Cleona tak kunjung memasangnya.
"Se-sepertinya ... ini bukan ukuran saya, Tuan," jawab Cleona pelan karena malu.
__ADS_1
"Kembalikan," Castin merebut kembali bra khusus itu, lalu mengambil gambar dengan ponselnya. Setelah mengirim gambar bra tersebut, Castin langsung menghubungi desainer yang bertanggung jawab mengurus pakaian kerajaan.
"Hallo, Tuan Bangsawan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seseorang di seberang sana.
"Lihat gambar yang aku kirim padamu," titah Castin.
"Baik, Tuan." jawabnya.
"Ukuran berapa, Tuan?" tanyanya di seberang sana. Andai bisa melihat ekspresinya, pasti sangat shock kala melihat gambar yang tuannya kirimkan.
"Ukuran berapa?" tanya Castin pada Cleona sambil menjauhkan ponselnya.
"40D, Tuan," jawab Cleona reflek menutupi wajahnya karena malu. Apalagi saat melihat bagaimana ekspresi kaget Castin saat mendengar ukuran payu dara Cleona yang tak main-main.
"Tuan bangsawan," panggil desainernya di seberang sana. Castin menempelkan kembali ponsel di telinganya.
"40D," jawab Castin cepat. Lenggang beberapa detik, sepertinya sang desainer juga kaget mendengar ukuran Cleona.
Sepersekian detik kemudian barulah terdengar sahutan, "Kapan mau diambil, Tuan?"
"Aku beri waktu lima menit, dalam lima menit satu bra harus sudah sampai di sini. Satu saja dulu, selebihnya boleh besok-besok," jawab Castin.
"Baik, Tuan Bangsawan. Akan saya kerjakan secepat mungkin," jawabnya penuh semangat, Castin langsung memutuskan panggilan.
__ADS_1
"Jangan membungkuk begitu," protes Castin dan Cleona reflek duduk dengan tegap. Posisi duduk yang seperti itu, membuat dua gundukannya semakin menonjol.
"Apa berat?" tanya Castin tiba-tiba. Dengan pipi yang merona merah Cleona menganggukan kepalanya.
"Apa asli?" Cleona kembali menganggukan kepala sebegai jawaban. Tentu saja asli, apa ia terlihat seperti orang kaya yang bisa menghambur uang hanya untuk membesarkan payu daranya. Andai pun ia kaya dan punya banyak uang. Maka, Cleona akan memilih operasi untuk mengecilkan payu daranya.
Sudah tak sanggup lagi Cleona mendapatkan pelecehan, belum lagi seringnya kram punggung karena menahan beban yang berat. Bukan hanya beban hidup, tapi juga beban payu dara.
"Ukuran berapa yang kamu gunakan? Sepertinya sempit," Castin semakin penasaran.
Cleona mengalihkan pandangannya pada ranjang baby d, lalu berkata, "Saya beli setahun lalu, karena tidak ada ukuran 40D. Jadi, saya membeli dan menggunakan ukuran 36D," terang Cleona sangat pelan, nyaris tak terdengar.
"Setahun lalu?" tanya Castin kaget. Entah sudah seperti apa bentuknya, belum lagi Cleona menggunakan yang bukan ukurannya. Tak bisa Castin bayangkan betapa sesak dan menderitanya membawa pepaya jumbo yang berat dan besar setiap hari.
Tanpa Castin sadari, tangannya bergerak sendiri. Tak bisa dikendalikan dan hingga tanpa sadar, jemarinya sudah mendarat di permukaan pepaya Cleona. Sementara Cleona tak melihat karena pandangannya tertuju pada ranjang baby d, bukannya pada Castin di hadapannya.
"Tuan!"
.
.
.
__ADS_1