
"Payu—"
Tut-tutt!
Lampu utama maupun lampu indikator lift tiba-tiba mati, suasana terang di dalam lift bernuansa emas itu seketika menjadi gelap. Castin mengerutkan dahi heran, sementara Cleona memejamkan mata, memeluk Castin dengan eratnya. Rasa sakit dan takut bercampur menjadi satu.
"Tuan," lirih Cleona.
"Tenanglah, hanya mati sebentar. Kau tidak apa-apa, kan?" tanya Castin sambil membentangkan salah satu tangan dan meletakkannya di kepala Cleona. Castin melindungi bagian fital tubuh Cleona.
"Aaakh!" teriak Castin dan Cleona bersamaan saat tubuh keduanya terhempas ke pojok lift, ketika lift tiba-tiba terhentak dan berhenti tiba-tiba.
Castin terluka di bagian tangan karena terbentur pegangan di dalam lift, sementara Cleona baik-baik saja. Castin berhasil melindungi Cleona. Namun, tentu saja hentakan barusan membuat payu dara Cleona yang membengkak semakin sakit. Takut bercampur sakit, Cleona tak kuasa menahan air mata.
Castin tetap tenang meski darah mengalir dari punggung tangannya, ia sudah menekan cincin khusus yang melingkar di jari tengahnya. Jika menekan cincin itu. Maka, Asisten Helder akan menerima sinyal darurat yang berarti kalau ia sedang tidak baik-baik saja dan membutuhkan bantuan.
Saat ini, Asistem Helder pasti sudah mengetahui posisinya. Castin juga yakin pihak keamanan sudah mencoba melakukan perbaikan terhadap lift yang rusak tiba-tiba. Akan tetapi, Castin tahu itu akan membutuhkan waktu cukup lama.
Saat ini, yang perlu Castin lakukan adalah membantu Cleona. Untuk memeriksa kondisi Cleona, ia membutuhkan cahaya. Castin meraba saku-saku di jas maupun celananya. Sayang, Castin meninggalkan ponselnya di mobil.
Dalam kegelapan Castin memeriksa tubuh Cleona dengan detail, Castin bernapas lega karena Cleona tak terluka sedikit pun. Kini, posisi Castin bersimpuh di lantai lift yang masih berhenti, sementara Cleona terbaring di atas pangkuannya. Semuanya benar-benar tak berfungsi.
__ADS_1
"Apa sangat sakit?" tanya Castin yang matanya mulai beradaptasi dengan gelap, dalam kegelapan itu ia dapat melihat air mata Cleona yang mengalir.
"Hem," dehem Cleona sebagai jawaban, Cleona tentu menahan sakit.
"Apa ada yang bisa aku lakukan untuk mengurangi rasa sakitnya?" tanya Castin merasa kasihan. Ia benar-benar tak tega melihat Cleona kesakitan.
Mendengar pertanyaan Castin, Cleona langsung menengadah menatap Castin ragu. Matanya juga sudah beradaptasi dalam kegelapan, meski tak terlalu jelas. Tapi, Cleona dapat melihat raut wajah Castin tak tampak mesum. Akan tetapi, lebih terlihat mengkhawatirkannya dengan tulus.
Cleona berpikir, haruskah ia meminta bantuan Castin? Kalau iya, maka ia harus merelakan bagian yang selama ini ia jaga disentuh begitu saja oleh Castin. Tapi, bila tidak dilakukan, maka entah sampai kapan ia dapat bertahan akan rasa sakit yang terus mendesaknya.
"Kalau tidak diizinkan, aku tidak akan melakukannya," tutur Castin mengerti perasaan Cleona. Meski nafsunya sangat tinggi terhadap Cleona. Namun, ia tetap berusaha menahannya.
Wajah Cleona semakin pucat, ia bahkan tak sanggup membuka mulut untuk berbicara. Rasa sakit benar-benar melumpuhkannya, merengut energi dan membuatnya semakin kesulitan bernapas di dalam lift yang memang minim udara.
"Tidak akan sampai lima belas menit," jawab Castin tampak ragu.
Kerusakan cukup parah, bisa ditangani bahkan berjam-jam. Tapi, dengan bantuan orang-orangu yang handal, hanya butuh waktu beberapa menit. Akan tetapi, di posisi Cleona saat ini, lima belas menit bukankah waktu yang sebentar untuk menahan rasa sakit yang terus menyerang.
"Bisa-kah tuan mem-bantu saya?" tanya Cleona lemah. Cleona merasa akan kehilangan nyawa bila masih harus menunggu dalam kurun waktu selama itu.
"Dengan senang hati akan kulakukan."
__ADS_1
.
.
.
Author : Lakukan apa, woy?😳
Castin : Makasih dan sering-sering, ya, Thor🖤
Author : Tunggu halal dulu, woy!😤
Castin : Darurat, Thor🌚
Author : sqlshehrnfidydnweskdhd🤬
.
.
.
__ADS_1
Sabar, ya, Guys🙌😘 Kita sama kok, Othor juga gak sabar buat myelesain novel ini🤭