
"Siapa mereka berdua, Helder?" tanya Castin yang belum mengetahui sosok wanita paruh baya dan juga pria paruh baya mengenaskan tersebut. Asisten Helder hanya mengatakan informasi dari bawahannya bahwa mereka telah menemukan banyak fakta tentang Cleona.
"Wanita dan pria tua ini adalah orang yang menjadi penyebab bekas luka di perut nona Cleona, Tuan." terang Asisten Helder masih berdiri tegap, sementara Castin sudah duduk di sebuah kursi yang telah pengawalnya siapkan. Ia melepaskan kacamatanya, kemudian menatap kedua manusia tak berwujud di hadapan.
Sementara wanita dan pria paruh baya menundukan wajahnya dalam, bahkan tubuh mereka berdua bergetar ketakutan saat pertama kali Castin datang. Keduanya tak menyangka bahwa Cleona punya bekingan yang tak main-main.
"Lanjutkan," Castin bersedekap dengan kedua kaki ia silangkan.
Asisten Helder melangkah menuju kedua sekapan mereka, kemudian mengelilingi keduanya sambil menjelaskan, "Nona Cleona bekerja paruh waktu sebagai karyawan pengantar makanan dari meja ke meja di restoran pria tua ini," tuturnya memberi jeda mengambil napas.
Sedangkan Castin merasakan jantungnya berdegup kencang ketika mendengar pekerjaan yang Cleona lakukan. Castin juga turut merasakan sakit itu, ia tahu tidak mudah menjadi orang miskin di negeranya. Pasti banyak sekali kemalangan yang telah menimpa Cleona.
Bahkan, saat pertemuan pertama dan kedua kali, Cleona benar-benar menderita. Castin merasa bersalah karena terlambat menemukan Cleona. Andai ia menemukan Cleona lebih awal, Castin pastikan bahwa ia akan tetap mengikat Cleona dengan pernikahan walau saat itu Cleona tak sedang bersama bayinya.
Sekali pun Cleona juga tak memiliki darah bangsawan yang mengalir kental di dalam tubuhnya, Castin juga akan tetap mencintai Cleona. Karena bagi Castin, Cleona adalah wanita yang derajatnya paling mulia di hatinya saat ini.
Baru mendengar fakta tentang pekerjaan yang Cleona lakukan, tapi Castin sudah merasa tak tenang, entah apa yang akan terjadi kalau dia mengetahui fakta lainnya. Apakah Castin akan melanggar aturan kerajaan, kemudian mengikat Cleona dalam pernikahan tanpa menunggu lama?
__ADS_1
Sebelum melanjutkan ucapannya, Asisten Helder memberikan kode pada pengawal untuk memperlihatkan sebuah rekaman cctv pada tuannya.
"Ini, Tuan."
Seorang pengawal memberikan sebuah tab dengan merek apel digigit. Castin pun menerimanya dengan bingung. Namun, ia langsung mengerti ketika melihat rekaman cctv yang masih dijeda di layar tab-nya. Ketika Castin mengkliknya untuk memulai, rekaman tersebut pun mulai menampakkan suasana restoran yang rame.
Sepersekian detik kemudian, Cleona datang dengan membawakan pesanan berupa kopi panas. Saat menyajikan kopi, seorang pria dengan sengaja membuat Cleona tersandung hingga sisa kopi panas di atas nampan tumpah ke dada Cleona dan juga tamu lainnya. Cleona menggelepar kesakitan tapi orang-orang malah menertawakannya.
Castin terdiam dengan wajah yang memerah serta urat-urat leher yang mengencang. Andai Castin berada di sana, maka ia akan melepaskan pelurunya tepat pada mulut-mulut yang terbuka lebar menertawakan Cleona.
"Tangkap dan eksekusi semua orang di dalam sana!" bentak Castin langsung melempar tab-nya ke arah kedua manusia tua yang tubuhnya semakin bergetar kala mendengar suara bass Castin menggelegar mengerikan. Tab tersebut hancur lebur tepat di hadapan kedua manusia tua yang semakin ketakutan.
"Lanjutkan," pinta Castin dengan moodnya yang sudah tidak baik sedari tadi.
"Pra tua ini adalah manajer restoran tersebut," Asisten Helder menunjuk pria yang tak kunjung mengangkat wajahnya di hadapan seorang Prince Castin Afson. Jika mulutnya tak dilakban dan tubuhnya tidak terikat, mungkin ia sudah berlutut dan memohon ampun pada Castin.
"Dia menghakimi nona dengan meminta ganti rugi sebesar lima puluh juta rupiah," Castin menggenggam erat tangan membentuk tinjuan. Namun, ia berusaha menahan emosi karena Asistennya belum selesai menjelaskan.
__ADS_1
"Karena nona tak sanggup membayarnya, pria ini mengambil paksa baby d sebagai jaminan hingga nona membayar hutangnya."
"Beraninya kau!"
Bug!
Castin memberikan tonjokkan keras pada pria paruh payah hingga kursinya terjungkir ke belakang, hidungnya mengalir darah segar. Castin benar-benar telah habis kesabaran, beraninya pria itu menyekap putranya tercinta dan membuat wanitanya terjebak dalam masalah yang kian membuatnya menderita.
Perasaan bersalah pada Cleona kian membesar. Sesungguhnya Castin belum merasa puas, tapi masih ada banyak cerita yang ingin ia dengar.
"Lanjutkan!" tegas Castin murka.
"Setelah itu, nona mengorbankan ....
.
.
__ADS_1
.