
Setelah kejadian malam itu, Reino benar-benar berusaha untuk membuktikan kalimatnya. Dia berusaha sebaik mungkin jadi ayah siaga dan suami romantis, apalagi malam itu Lydia sudah melayaninya di tempat yang seharusnya.
Yup. Saat di restoran kala itu, mereka dengan beraninya bercinta. Bukan di dalam ruangan makan, tapi di kamar mandi. Agak riskan, tapi berhasil dilalui dengan sangat baik.
Itu jelas saja membuat Reino makin bersemangat untuk menjadi suami yang baik. Tentu saja Lydia juga senang dengan kelakuan suaminya itu. Seperti yang terjadi hari ini.
“Udah selesai belanja dengan mama?” Reino menanyakan itu dari sambungan telepon.
“Ya. Sekarang kami lagi makan karena tiba-tiba aku pengen pizza. Kamu bisa datang ke sini gak, Rei?” tanya Lydia dengan nada manja.
“Itulah gunanya aku meneleponmu. Aku memang ingin menjemput.” Reino membalas dengan senyuman. “Bagi lokasinya ya. Aku akan segera ke sana.”
“Kau terlihat makin mesra dengan Reino ya.” Liani berbicara ketika putrinya sudah menutup telepon.
“Tapi masih tidak seromantis Pak Hadi ke Mama. Reino masih kalah jauh,” jawab Lydia sengaja ingin menggoda ibunya.
“Apaan sih.” Liani tentu saja tersipu malu mendengar nama calon suaminya disebut.
“Mama tahu kalau Hadi itu romantis, tapi tidak perlu disebutkan juga.” Liani memukul lengan putrinya cukup keras dan membuat Lydia terkejut.
__ADS_1
Walau agak sedikit kesal, tapi Lydia tidak bisa banyak berkomentar. Mamanya melakukan itu tidak dengan sengaja dan karena sedang malu saja.
“Yang penting Mama bahagia. Itu saja sudah cukup untuk Lydia.” Ibu hamil itu tersenyum lembut pada ibunya.
Lydia merasa sang ibu sudah banyak menderita karena harus berjuang sendiri untuk membesarkan dua anak. Itu yang membuat Lydia tak keberatan kalau ibunya mengejar kebahagiaan lain.
Menikah lagi pada usia pertengahan empat puluh mungkin tidak mudah, tapi kalau itu yang diinginkan sang mama, Lydia tak akan protes. Yang penting dia bahagia.
“Jangan hanya Mama saja dong yang bahagia.” Liani kini menggenggam tangan putrinya dengan erat. “Kau juga harus bahagia dan melahirkan cucu Mama dengan sehat.”
“Tapi, Ma.” Lydia baru saja teringat sesuatu. Tepatnya setelah mamanya menyebut kata cucu. “Mama masih datang bulan?”
“Ya. Memangnya kenapa?” tanya Liani dengan raut wajah bingung.
“Katakan saja, Mama gak akan marah.” Liani yang tahu bagaimana karakter putrinya, meyakinkan Lydia dengan senyum lebar.
“Jangan punya anak ya,” pinta Lydia dengan wajah meringis.
Jujur saja, Liani agak terkejut dengan permintaan anaknya. Itu seperti bukan permintaan yang akan diajukan putrinya. Bahkan Lydia sendiri pun agak merasa bersalah saat mengatakan itu.
__ADS_1
“Bukannya aku tidak mau, tapi masa iya adekku seumuran anakku,” lanjut Lydia menjelaskan apa maksudnya. “Masa iya aku beda dua puluh lima tahun dengan adikku.”
Liani meringis mendengar apa yang dikatakan putrinya. Itu adalah sesuatu yang sangat masuk akal sebenarnya, memang akan aneh jika punya anak dengan jarak usia sampai lebih dua puluh tahun. Apalagi sekarang Liani sudah akan punya cucu.
“Tapi gimana ya?” Liani meringis pelan dan terlihat sangat bimbang.
“Kenapa Mama ngomong gitu?” Lydia jadi merasa aneh dengan balasan sang ibu.
“Ya. Soalnya Mama udah telat hampir seminggu.” Akhirnya Liani memberitahu hal yang membuat sang putri makin melongo saja.
Lydia benar-benar terkejut. Mulutnya terbuka lebar, begitu pun dengan matanya. Dia tidak pernah menyangka kalau sang ibu rupanya nakal juga.
“Mama udah cek?” Lydia bertanya setelah dia sudah merasa lebih baik.
“Belum sih. Rencananya nanti mau sekalian ke dokter dengan Hadi,” jawab Liani takut-takut karena putrinya sudah berubah jadi menyeramkan.
“Sayang.” Bersamaan dengan selesainya kalimat Liani, Reino datang dan menyapa istrinya. Tentu saja dia juga menyapa ubu mertuanya, tapi Reino tidak mendapat jawaban.
“Kok kalian berdua diam sih?” tanya Reino jelas saja bingung dengan suasana mencekam yang sekarang.
__ADS_1
“Mana Pak Hadi?” Tiba-tiba saja Lydia bertanya. “Aku mau bikin perhitungan dengannya.”
***To Be Continued***