
"YANG BENAR SAJA" Kenzo berteriak dengan suara yang cukup besar.
"Mama mau menikah lagi?" Suara Kenzo sedikit mengecil setelah dipelototi sang kakak.
"Ada yang salah dengan itu?” Lydia yang bertanya.
Saat ini, kebetulan keluarga kecil itu tengah berkumpul di rumah Lydia sebelum menikah. Lydia yang menjadwalkan semua itu karena memang ingin membicarakan hal ini. Kenzo pun harus tahu soal ibunya yang sudah punya pacar.
“Salah karena lelaki sialan itu tidak pernah datang ke sini. Bagaimana mungkin aku tidak marah ketika lelaki pengecut itu tidak pernah menampakkan batang hidungnya di depanku
"Kenzo. Jaga mulutmu. Liani tentu saja menegur. "Hadi tidak seperti itu. Dia pria yang baik. Lagi pula Mama yang meminta untuk tidak memberitahu kalian dulu.”
"Itu artinya Mama tidak serius dengannya. Kalau serius, kenapa dia tidak berani menemuiku? Kenapa tidak pernah memperkenalkannya secara resmi? tanya Kenzo membuat sang ibu terdiam. Itu adalah hal yang tidak salah.
"Bagaimana mungkin aku membiarkan Mama menikah dengan orang tak jelas dan belum pernah kulihat, bahkan sekali pun," tambah pria muda itu menggebu-gebu.
"Kau pernah bertemu dengan dia, Ken. Cuma mungkin saat it belum menjadi pacar Mama," jelas Lydia singkat.
"Hah? Siapa? Tentu saja Kenzo bingung dengan pernyataan itu. Rasanya dia belum perna bertemu dengan Siapa pun yang berpotensi menjadi pacar ibunya.
“Pak Hadi yang pengawal pribadi, sekaligus asisten kakak iparmu"
Jawaban Lydia itu membuat adiknya mengernyit. Dla sepertinya masih mengingat-ingat, mana lelaki yang kakaknya maksud itu.
"Ah" pekik Kenzo setelah beberapa menit. "Lelaki besar yang selalu mengekori Reino ke manapun itu?"
__ADS_1
“Ya, itu dia. Tapi tidak bisakah kau sedikit lebih sopan pada suamiku?” Lydia melotot mendengar cara adIKnya memanggl sang suami. “Dia jauh lebih tua darimu, Ken. Harusnya kau memanggil Reino dengan sebutan kakak”
“Ck. Orangnya saja tidak peduli.” Kenzo mengibaskan tangan dengan acuh. “Sekarang aku ingin tanya sama Mama. Apa karena sering bertemu makanya Mama sampai sama dia atau bagaimana?”
“Ya, enggak juga sih. Mama suka Hadi karena dia romantis dan baik” jawab Liani malu-malu. “Mama sudah suka dia sejak Hadi datang menjenguk, waktu Mama operasi kepala.”
“Hah?” Kenzo dan Lydia menyahut bersamaan.
“Ya, pokoknya begitu.” Liani makin terlihat malu-malu. “Hadi itu lelaki yang romantis. Dia selalu memperhatikan Mama, banyak kasih hadiah juga.”
Lydia meringis mendengar itu. Dia tak menyangka kalau ibunya bisa berubah jadi seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta. Rasanya, itu bahkaln lebih parah dari Lydia dan Reino.
Bukan hanya Lydia yang punya pikiran seperti itu, tapi juga Kenzo. Lelaki yang belum genap 25 tahun itu, bahkan meringis dan memasang tampang jijik. Dia tak habis pikir dengan kakak dan ibunya yang terlihat bodoh ketika jatuh cinta.
Baru juga Kenzo ingin memprotes lag, bel rumah berbunyi. Mau tidak mau, Kenzo harus menutup kembali menutup mulutnya. Membiarkan Lydia pergi untuk membuka pintu. Rupanya yang datang adalah Reino. Lelaki itu datang untuk menjemput istrinya.
“Memangnya apa yang kallan obrolkan? Reino bertanya dengan kening berkerut. Karena tahu istrinya masih ingin tinggal, Reino pun melangkah masuk.
“Kami membicarakan hubungan Mama dan Pak Hadi,” ucap Lydia, sambil melebarkan pintu.
“Eh?” Hadi yang rupanya berada di belakang Reino larngsung menyahut ketika mendengar namanya disebut.
“Loh, ada Pak Hadi juga? Sudah mulal kerja lagi?” Lydia tentu saja terkejut, apalagi ketika melihat tangan Hadi masih di gips.
“LELAKI SIALAN ITU DATANG?” Suara teriakan itu bisa didengar oleh semua orang. “MANA DIA?”
__ADS_1
Reino dan Hadi yang tidak tahu apa-apa, menatap Lydia dengan bingung. Perempuan itu hanya bisa meringis dan merasa tidak enak pada Hadi karena teriakan sang adik. Sungguh, Lydia ingin memukul adiknya itu.
Kenzo muncul tak lama kemudian dengan rahang mengeras dan wajah sedikit memerah. Dia jelas sedang marah, terutama setelah melihat Hadi dengan tangan ter-gips. Untung tangan pria itu terluka, kalau tidak, Kenzo pasti sudah memukulnya.
“KAU” Kenzo berteriak dan menunjuk Hadi, membuat yang ditunjuk tersentak.
“Hei, jangan tidak Sopan.” Lydia dan Liani menegur bersamaan, bahkan memukul lengan anak itu.
“Ini urusan lelaki. Kalian para perempuan tidak usah ikut campur” hardik Kenzo, sambil mengusap lengannya. Rasanya cukup sakit
“Kau.” Kenzo kembali melirik Hadi, kali ini tanpa menunjuk dan suara lebih tenang. “Bagaimana mungkin kau mengencani ibuku, tanpa pernah sekalipun memperkenalkan diri padaku?”
“Kurasa Liani sudah cukup dewasa untuk menentukan dengan siapa dia berkencan.” Hadi menjawab tanpa ragu. Jujur saja, itu membuat Liani dan Lydia kagum, bahkan Reino juga cukup terkejut.
“Mungkin saya bersalah karena selama berkencan belum memperkenalkan diri, tapi itu tidak berarti saya tidak serius.”
Hadi menatap Kenzo tepat di mata tanpa berkedip, menunjukkan keteguhan dan keseriusannya. Itu membuat Kenzo makin kesal karena dia merasa kalah dan dia tak suka itu.
“Kalau begitu aku menantangmu.” Kenzo mengucapkanya dengan Suara yang cukup lantang. “Setelah itu baru aku akan memikirkan hubunganmu dengan Mama.
“Ken.” Liani memekik. “Jangan gila. Hadi sedang terluka”
Liani sudah panik mendengar ucapan anak bungsunya itu, sementara Lydia dan Reino terlihat biasa saja. Pasangan itu justru menunggu tanggapan Hadi. Mereka ingin tahu reaksi Hadi yang sejak tadi terlihat tenang. Ini rasanya seperti menonton film thriller.
“Dengan senang hati,” jawab Hadi diiringi dengan senyum miring yang membuat Kenzo makin kesal.
__ADS_1
***To Be Continued***