
“Kapan kalian mau kasih Mama cucu?”
Pertanyaan Clarissa itu membuat Lydia tersedak, sementara Reino terlihat santai saja. Pria itu bahkan tidak membantu Lydia yang terbatuk-batuk kalau bukan atas perintah Clarissa.
“Kamu ini masa istri tersedak gitu gak dibantuin sih?” hardik Clarissa dengan mata melotot.
“Lydia kan bukan anak bayi yang gak bisa mengurus diri sendiri, Ma,” seru Reino sembari mengulurkan gelas berisi air pada Lydia.
Ini adalah hari ketiga sejak Lydia tinggal di rumah orang tua Reino. Walau tidak selalu berada di rumah, dia tetap tidak terbiasa dengan kehidupan palsunya ini.
Salah satunya ya itu tadi. Makan malam bersama, diselingi dengan pertanyaan ‘kapan ada cucu?’ Ugh, rasanya Lydia ingin cepat-cepat pulang ke rumah saja.
“Kami gak buru-buru kok, Ma,” jawab Reino setelah batuk Lydia mereda.
“Iya, Ma. Kami masih ingin menikmati masa-masa awal menikah dulu,” jawab Lydia menimpali jawaban Reino.
“Apa itu artinya kalian menunda?” kali ini Leon yang bertanya.
“Kurang lebih,” jawab Lydia ragu-ragu, sambil melirik Reino yang mengangguk.
“Tapi jangan terlalu lama pakai pil KB. Nanti malah susah hamil loh,” timpal Clarissa terlihat serius.
“Eh, masa?” tanya Lydia agak panik.
Selama ini memang Lydia tidak minum pil KB, tapi dia meminum obat pencegah kehamilan. Obat itu dikonsumsi setelah melakukan hubungan badan dan rasanya cara kerja dengan pil KB hampir mirip. Sama-sama merangsang hormon.
Dan kalimat Clarissa tadi membuat Lydia panik. Walau tidak sekarang dan tidak dengan Reino, Lydia juga ingin punya anak suatu hari nanti. Jadi informasi itu membuatnya sedikit panik.
“Mama gak usah aneh-aneh deh. Yang begituan hanya dokter dan Tuhan yang tahu,” Leon yang membantu menjawab pertanyaan Lydia.
Mendengar penjelasan dari papa mertua palsunya, Lydia mengangguk mengerti. Memang yang seperti ini harus dikonsultasikan dengan dokter. Dan Lydia mengingatkan dirinya untuk bertanya pada dokter online nantinya.
__ADS_1
“Tapi ingat ya. Jangan nunda terlalu lama. Ingat umur, Rei. Kamu tuh sudah dua sembilan,” nasihat Clarissa sebelum akhirnya makan malam itu usai.
Dan karena tidak ada lagi yang bisa Lydia lakukan, dia memutuskan masuk ke kamar saja. Tentu saja kamar yang dipakai berdua dengan Reino.
Tapi tenang saja, kali ini Lydia benar-benar bisa bertahan untuk tidak tergoda oleh Reino. Dia masih marah dengan kalimat kurang ajar Reino kali lalu.
“Sampai kapan kau tidak mengizinkanku menyentuhmu?” tanya Reino dengan tatapan mata tajam dan dingin yang siap membekukan seisi rumah.
“Itu bukan urusan, Pak Reino,” jawab Lydia sama sekali tidak takut lagi dengan tatapan itu.
“Itu jelas urusanku. Karena kalau kau menolak, artinya kau melanggar kontraknya,” hardik Reino dengan suara kecil.
Reino tidak bisa seenak hati memperlakukan Lydia di rumah ini. Kedua orang tuanya mendukung Lydia dan dia yang akan celaka kalau Lydia mengadu. Atau mungkin ada seorang pelayan yang kebetulan melihat atau mendengar entah apa, lalu melaporkan pada Clarissa atau Leon.
“Aku sama sekali tidak melanggar kontrak,” balas Lydia menatap balik Reino dengan tatapan mengancam.
“Di kontraknya jelas tertulis ‘atas kesepakatan bersama dan tidak bisa dipaksakan’. Dan saat ini sampai entah kapan aku sedang tidak mau,” lanjut Lydia jemawa. Dia merasa diatas angin.
Reino menggeram marah. Sudah tiga hari dan dia sama sekali tidak bisa mencari pelampiasan di luar. Tubuhnya hanya menginginkan Lydia dan dia ingin sekarang juga.
“What? Gak bisa gitu dong,” jawab Lydia waspada.
Lydia yang tadinya duduk santai di atas ranjang kini bangkit berdiri. Dari ekspresi wajahnya, dia sangat tahu kalau Reino tidak main-main dan benar-benar akan menyerangnya.
“Dengar ya, Pak Reino. Aku bisa teriak nih kalau Pak Reino macam-macam.”
“Teriak saja. Paling-paling mereka akan berpikir kalau kita sedang bercinta dengan sangat liar. Mereka tahunya kita pasangan suami istri dan bercinta adalah hal yang wajar,” jawab Reino dengan senyum miringnya.
Lydia langsung menggeram kesal. Dia melupakan fakta kalau mereka masih pura-pura menikah. Dan ini jelas sangat tidak menguntungkan bagi Lydia.
“Okay, begini saja. Bagaimana kalau... tiga hari lagi?” tanya Lydia mencoba menawar.
__ADS_1
Tiga hari lagi mereka sudah tidak menginap di rumah besar ini, jadi Lydia punya banyak alasan untuk menghindar. Selain itu jadwal haidnya juga sudah dekat. Lydia yakin bisa menghindar dengan baik selama seminggu atau mungkin lebih.
“Kau pikir aku bisa dikelabui begitu saja?” tanya Reino maju selangkah dari tempatnya berdiri dan membuat Lydia mundur selangkah.
“Kau pasti akan menghindar setelah kita keluar dari rumah ini kan? Dengan berbagai macam alasan, misalnya cuti.”
Lydia makin menggeram ketika Reino tahu pikirannya. Sebenarnya pria itu bisa membaca pikiran orang atau apa sih?
“Tapi saya kan sedang haid dan baru akan selesai sekitar 3 hari lagi. Lagian kenapa sih harus saya? Biasanya Pak Reino mencari perempuan di luar kan?” Lydia kembali mencoba peruntungannya dengan berbohong.
“Okay. Kalau kau memang sedang haid, perlihatkan padaku. Dan bukan urusanmmu juga dengan siapa aku ingin tidur,” jawab Reino terus melangkah mendekati Lydia.
Lydia makin kelabakan saja. Dia sudah hampir mengitari seluruh kamar karena Reino terus mendekatinya, sementara Lydia terus berjalan mundur. Sampai akhirnya Lydia terpojok tepat di depan pintu kamar.
Tangan Lydia sudah menggapai ke arah kenop pintu, tapi Reino lebih lincah. Dia mengunci pintu itu sekali dan melempar kuncinya ke sembarang arah. Membuat Lydia memekik.
“Astaga itu kalau kuncinya hilang gimana kita keluar dari sini?”
“Aku tidak keberatan tinggal seharian di kamar. Itu jelas lebih menyenangkan,” jawab Reino mulai mengelus pipi Lydia.
“Pak Reino jatuh cinta pada saya ya? Sampai-sampai gak bisa lepas gitu? Hmph...”
Pertanyaan asal Lydia membuat Reino menekan pipinya dengan sangat keras. Membuat bibir Lydia maju ke depan beberapa senti dan dia kesakitan. Sayangnya Reino tidak peduli dengan semua itu.
“Jatuh cinta padamu?,” bisik Reino seduktif.
Dia belum melakukan apa-apa. Hanya sekedar menekan kedua pipi Lydia dan menggesekkan lututnya, tapi itu sudah cukup membuat Lydia tersengal. Padahal sentuhannya tidak langsung, tapi Lydia sudah mulai kewalahan.
“In your wild dreams, Lydia. Aku tidak mungkin jatuh cinta pada wanita sepertimu,” lanjut Reino masih berbisik.
“Tahu dirilah sedikit. Kau hanya berguna di atas ranjang. Yah, walau kuakui otakmu juga lumayan berguna.”
__ADS_1
Lydia benar-benar sakit hati mendengar hinaan itu, tapi tak ada lagi yang bisa dia lakukan selain pasrah. Tenaga Reino terlalu kuat untuk dia lawan dan sebenarnya Lydia juga sudah sangat menginginkan Reino. Bahkan sejak beberapa hari lalu.
***To Be Continued***