Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Benci


__ADS_3

“Sebenarnya aku salah apa sih?” tanya Lydia dengan suara isak tangis yang tak bisa dibendungnya.


Sekarang bahkan belum jam pulang kerja, tapi Lydia sudah pulang duluan. Dia tidak peduli lagi dengan Reino. Mau dipecat, potong gaji atau apa pun itu, Lydia hanya ingin segera pulang.


Lydia yang tidak punya kegiatan lain, kemudian mengajak para sahabatnya untuk bertemu. Dan untungnya semua sedang punya waktu untuk ngumpul.


“Emang kau diapaiin sih?” tanya Erika prihatin sekali dengan keadaan Lydia.


Seumur-umur, tiga orang itu belum pernah melihat Lydia menangis. Karena itu ketika Lydia menelepon sambil terisak, mereka semua meluangkan waktu untuk menemani sahabat mereka itu. Dan karena Cinta agak sulit keluar rumah, mereka memilih untuk berkumpul di apatemen ibu hamil itu.


“Polar Bear Sialan itu,” seru Lydia dengan suara cukup keras. “Dia menghindariku.”


“Terus?” tanya Cinta terlihat penasaran.


“Aku tidak tahu apa salahku, tapi dia menghindariku seoalah aku ini virus mematikan,” lanjut Lydia diikuti dengan isakan pelan.


“Tadi dia bahkan melempariku dengan map. Lihat nih, pipiku sampai tergores kertas.” Lydia menunjuki pipinya yang memang ada garis berwarna merah muda.


“Wah, berani sekali Polar Bear itu. Lalu kau tidak tanya salahmu apa?” tanya Vanessa mulai terlihat kesal.


“Aku menanyakannya, tapi dia menolak menjawabku. Jangankan menajwab, dia bahkan tidak mau melihatku. Hua...”


Tiba-tiba saja tangisan Lydia makin menjadi. Erika yang duduk paling dekat dengan Lydia, langsung memeluk sahabatnya itu. Ketiga orang yang lain pun saling memandang dengan bingung. Mereka sama sekali belum mengerti apa yang membuat Lydia menangis.


“Okay. Boleh aku bertanya gak?” tanya Cinta hati-hati.


“Mau tanya apa?” jawab Lydia setelah tangisnya agak mereda.


“Aku bisa mengerti kalau kau marah dengan kelakuan Reino yang melemparimu map, tapi kenapa menangis?”


“Ya tentu saja karena aku sakit hati banget,” hardik Lydia cukup keras.


“Kalian dengar gak sih? Aku dicuekin tahu gak. Sudah beberapa hari,” lanjut Lydia masih ngegas.


“Jadi kau nangis karena dicuekin Reino. Dan hari ini puncaknya karena dia lempar map ke wajahmu?” tanya Erika mencoba untuk mengurai apa yang dia pahami.


“Memangnya kenapa kalau dia tidak mempedulikanmu?” tanya Vanessa seyelah Lydia menganguk. “Maksudku kalian kan tidak ada hubungan apa-apa sampai kau harus sakit hati karena tidak dianggap.”


“Kalian ini gimana sih? Dia kan suami pura-puraku,” hardik Lydia kesal karena merasa omongannya tidak dianggap.


“Nah itu masalahnya. Dia hanya suami pura-pura, Lyd. Untuk apa sakit hati?” giliran Erika yang bertanya.


Lydia tercenung mendengar pertanyaan itu. Erika benar. Untuk apa sakit hati, toh pada dasarnya mereka hanya pura-pura saja.

__ADS_1


Sebelum ini Reino juga selalu menghina dan mengabaikannya, tapi Lydia sama sekali tidak terpengaruh. Lalu kenapa sekarang dia harus sakit hati?


“Iya ya. Untuk apa aku merasa sakit hati?” tanya Lydia pada semua sahabatnya.


“Apa kau suka padanya?”


“APA KAU GILA?” teriak Lydia pada Cinta yang tadi bertanya.


“Ya cuma itu alasan paling logis dari rasa sakit hatimu itu,” jawab Cinta diikuti anggukan setuju dari Erika.


“Itu tidak masuk akal,” hardik Lydia tidka mau menerima penjelasan tidak masuk akal itu.


Vanessa sudah akan menambahkan argumen yang lain, ketika mendengar ponsel Lydia yang ditaruh di atas meja berdering. Tulisan ‘Polar Bear’ tertulis jelas di sana, disertai gambar beruang berwarna putih.


Lydia segera menyambar ponselnya dengan senyum terkulum, tapi sedetik kemudian segera berubah menjadi cemberut. Dia langsung melempar ponselnya ke sofa, enggan mengangkatnya.


“Gak mau diangkat? Siapa tahu dia mau minta maaf,” tanya Erika terlihat serius.


“Dia berlutut pun aku tidak mau memaafkannya.”


Alis ketiga sahabat Lydia itu terangkat. Mereka tidak habis pikir dengan kelakuan kekanakan Lydia. Katanya tidak suka, tapi kenapa harus sesakit hati itu?


“Itu teleponmu berdering lagi. Siapa tahu mau mengajak make-up ***,” kali ini Vanessa yang bersuara.


“Pasangan suami istri kan biasa gitu, Lyd. Habis bertengkar ya begituan buat baikan,” jawab Erika terlihat santai saja.


“Aku gak pernah begitu ya.” Cinta mengangkat kedua tangan tidak ingin ikut dalam percakapan mesum itu.


Tapi setelah mendengar itu dari Vanessa, Lydia mengambil ponselnya. Dia melihat layar ponselnya dan Reino menelepon lagi untuk yang ketiga kalinya.


Lydia menggigit bibir bawahnya, antara ingin mengangkat atau tidak. Tapi pada akhirnya, Lydia mematikan teleponnya.


“Kenapa gak diangkat?” tanya Erika menahan senyum.


“Gak ah. Nanti aku dibilangin kegatelan lagi.”


“Apa itu artinya kau menantikan melakukan itu dengan Reino?” tanya Cinta terkikik geli.


Well, kalau ingin jujur. Lydia tanpa ragu akan mengatakan ya. Dia sangat menantinya. Tapi mana mungkin dia mengatakan itu pada para sahabatnya kan.


“Gak lah. Emang aku cewek apaan,” jawab Lydia dengan suara lirih.


“Lalu rasanya main sama Reino gimana? Dia blasteran, artinya ‘itunya’ besar kan?.”

__ADS_1


Lydia terlihat berpikir untuk menjawab pertanyaan Vanessa. Kalau mau jujur Lydia akan menjawab luar biasa untuk semua pertanyaan itu, tapi Lydia juga tidak mungkin mengatakannya dengan jujur. Itu terlalu memalukan.


Untung saja sebelum yang lain sempat menggodanya lagi, giliran ponsel Erika yang berbunyi. Itu cukup menyelamatkan Lydia karena atensi semua orang beralih pada wanita cantik itu.


“Iya. Aku lagi sama Lydia dan kawan-kawan. Ada apa?” tanya Erika dengan raut wajah bingung.


“Hah? Ngapain kamu mau bicara sama Lydia?”


Pertanyaan Erika pada si penelepon itu membuat Lydia menaikkan kedua alisnya. Lydia tidak tahu siapa yang menelepon Erika, tapi orang itu pasti mengenalnya.


“Nih, Kai mau ngobrol denganmu.” Erika menyerahkan ponselnya dengan wajah cemberut.


“Halo,” Lydia menyapa setelah menyalakan speaker.


“LYDIA,” teriak kencang sebuah suara yang dikenal Lydia. Dan itu membuat semua orang terlonjak.


“Kau ada di mana?” hardik suara itu terdengar sangat kesal.


“Itu bukan urusan Pak Reino,” Lydia balas menghardik.


Para sahabat Lydia menaikkan alis mereka. Terkejut dengan penelepon yang menelepon ke ponsel Erika lewat bantuan orang lain.


“Itu urusanku karena ini masih jam kerja,” teriak Reino murka.


“Lalu kenapa? Toh saya akan resign dalam waktu dekat. Saya gak peduli kalau gaji saya dipotong. Lebih baik saya pulang cepat dari pada kena semprot Pak Reino.”


“Mana saya gak salah lagi,” sergah Lydia mulai terisak lagi.


Terdengar suara geraman rendah dari ujung sambungan telepon itu. Lalu sunyi. Hanya semenit saja dan setelah itu Reino kembali bicara dengan suara yang sedikit lebih lembut.


“Kembali ke kantor. Aku tidak mau kau berkeliaran di luar dan bertemu Viktor.”


“Memangnya kenapa kalau ketemu Pak Viktor? Pak Reino gak punya hak ya ngatur-ngatur saya. Mau saya ketemu, pacaran atau tidur sama Pak Viktor itu bukan urusan Pak Reino.”


“LYDIA.”


“APA?”


“Berani kau membiarkan dirimu disentuh Viktor, aku akan menghukummu.”


“Hukum saja. Memangnya saya takut? Lagian Pak Reino kan memang seperti itu, asal menghukum orang yang tak bersalah.”


“POKOKNYA SAYA BENCI PAK REINO.”

__ADS_1


***To Be Continued***


__ADS_2