Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Polar Bear Mesum


__ADS_3

Kepala Reino berdenyut kencang. Tidak ada satu pun pekerjaannya yang beres hari ini. Dan itu semua karena asisten barunya.


Ya, benar. Semua karena Lydia. Andaikata perempuan itu tidak menolaknya lagi, Reino yakin kerjaannya tidak akan berantakan andaikata tidak ada penolakan. Sebab salah satu penyumbang sakit kepalanya adalah dia tidak mendapat pelampiasan. Dan itu hal normal bagi lelaki yang aktif di ranjang, apalagi sudah hampir 2 minggu.


Reino menatap Lydia dari meja kerjanya. Wanita itu terlihat sangat fokus dalam bekerja, seolah tidak punya rasa bersalah telah menolaknya kemarin. Apa hanya dirinya yang terus terbayang-bayang malam itu?


Saking kepikirannya, Reino bahkan sampai mimpi basah. Bukan hanya sekali, tapi sudah dua kali. Tadi pagi, Reino bahkan menuntaskan hasrat dengan tangannya sedniri. Itu pun harus dibarengi dengan memikirkan mantan istrinya itu dengan cara yang paling sensual.


“Argh… Aku pasti sudah gila bisa tertarik dengan tubuh seperti itu,” geram Reino frustasi.


“Pak Reino memerlukan sesuatu?”


Reino langsung mendonggak menatap empunya suara. Wanita yang sudah menjadi asistennya selama beberapa hari iru menatapnya dengan wajah serius. Sejak kemarin, tidak ada lagi senyum yang Lydia perlihatkan. Bahkan senyum terpaksa pun tidak.


“Aku butuh bercinta,” jawab Reino dengan kelewat jujur, sampai membuat kedua alis Lydia terangkat.


“Akan saya panggilkan Thalita,” jawab Lydia setelah bisa mengendalikan ekspresi dan emosinya.


“Aku gak bisa bercinta dengannya. Lagipula dia sangat menyebalkan. Kalau gak terpaksa, aku juga gak akan mau sama dia,” desis Reino dengan kepala tertunduk.


Dirinya juga tidak tahu kenapa, tapi rasanya Reino bisa mengatakan segalanya pada Lydia. Wanita itu apa ya? Dia berbeda dengan wanita lain yang malah memohon untuk ditiduri. Lydia justru membuat Reino yang memohon. Itu membuat harga diri dan ego Reino terusik, tapi Reino tetap menginginkan asistennya itu.


“Tapi kemarin kalian melakukannya,” jawab Lydia datar.


“Hanya sampai make out. Selebihnya gagal.”


“Eh… Apa… Pak Reino memiliki kelainan?” tanya Lydia dengan wajah meringis.


“Maksudku bukannya biasa sama Thalita? Lalu kenapa tiba-tiba tidak bisa?” tambah Lydia dengan cepat. Enggan membuat Reino tersinggung.


Sebenarnya dia gak kasihan juga dengan Reino. Apalagi jika mantan suaminya itu benar-benar punya kelainan seksual atau sejenisnya. Rasanya pria itu sudah harus ke psikolog.


“Itu karena kau,” jawab Reino dengan geraman rendah. Dia marah, tapi tak bisa berkutik.


“Kok jadi menyalahkan saya sih?” tanya Lydia tidak terima disalahkan.


“Karena memang seperti itu,” bentak Reino sudah sulit mengendalikan diri. “Sejak kita tidur bersama aku tidak bisa lagi tidur dengan perempuan lain.”

__ADS_1


“Nonsense.” Lydia berbalik, enggan melihat Reino lagi.


Lydia menggerutu dalam hati, dengan wajah merona. Dia merasa sangat malu membicarakan hal seperti ini dengan bosnya, padahal mereka tidak punya hubungan apa-apa. Polar Bear itu terlalu jujur.


“Tidakkah kau merasa kasihan padaku?” tanya Reino mencoba untuk memelas, tapi jelas gagal. Wajahnya yang galak itu tidak cocok dengan ekspresi memelas, apalagi yang dipaksakan seperti sekarang ini.


“Sama sekali tidak,” jawab Lydia dengan ketus.


Lydia tidak lagi peduli pada Reino yang mesum itu. Dia sekarang lebih memilih untuk mengerjakan pekerjaannya. Dan itu sebenarnya hal yang buruk bagi Lydia.


Karena di dalam ruangan Reino ini tidak ada CCTV dan karena Lydia sedang fokus kerja, Reino memutuskan melakukan hal gila. Ditutupi dengan meja kerjanya yang besar, Reino membuka ikat pinggang berikut kancing celana dan menarik resleting celannya. Dia mengeluarkan perangkatnya dan mulai berfantasi sambil melihat Lydia.


***


Lydia menahan napasnya. Dia baru saja menoleh ke meja Reino untuk minta izin ingin pergi makan siang, tapi dia mengurungkan niatnya. Walau masih tertutupi meja kerja yang cukup besar, tapi Lydia masih bisa melihat gerakan tangan Reino yang naik turun tidak jelas.


Walau Lydia minim pengalaman, tapi bukan berarti dia tidak tahu apa yang sedang dilakukan pria bejat itu. Apalagi dengan napas beratnya dan mata terpejam seolah sedang menikmati sesuatu.


“Apa yang harus kulakukan?” batin Lydia dengan wajah memerah, bersamaan dengan suara lenguhan Reino.


“Lydia, kamu punya tisu?” tanya Reino dengan napas memburu.


“Hah?”


“Tisu. Aku butuh tisu. Yang banyak.” Reino menunjuk buntalan tisu yang ada di atas meja Lydia.


“Oh ..... Oke,’” balas Lydia dengan terbata.


Sungguh Lydia tidak ingin melangkah ke arah meja kerja Reino. Lelaki itu pastinya belum menaikkan celananya kan? Nanti gimana kalau kelihatan?


“Lydia,” geram Reino mulai tidak sabar menunggu.


“I… iya, Pak. Sabar.”


Lydia menyambar tisunya, kemudian segera berjalan dengan pelan ke arah Reino. Kepalanya menunduk dalam untuk menatap lantai, enggan mengangkat kepalanya sedikit pun.


Dia kemudian berhenti agak jauh dari meja Reino. Lydia lebih memilih mengulurkan tangannya jauh-jauh dibanding mendekat.

__ADS_1


“Ambilkan baju baru untukku di kamar. Lengkap dengan **********,” pinta Reino ketika Lydia berhasil menaruh tisu di atas meja tanpa mendonggak. Namun permintaan Reino barusan membuatnya mendonggak.


“Ya?”


“Harus kuulangi?” geram Reino benar-benar tidak sabar menghadapi asistennya.


“Tidak, Pak.” Jawab Lydia menatap puncak kepala atasannya.


Lydia betul-betul berusaha meluruskan tatapannya, tanpa melirik ke bawah. Napasnya pun tertahan selama melakukan itu dan ntungnya saja dia berhasil melakukannya.


“Astaga dasar gila,” gumam Lydia ketika sudah berada dalam kamar Reino.


Wanita muda itu mengibaskan kedua tangan di wajahnya yang terasa panas, bahkan mungkin sudah semerah kepiting rebus. Napasnya juga memburu karena sejak tadi menahan napas.


“Jangan bilang tadi dia melakukannya sambil menatapku?” seru Lydia dengan mata membulat.


Tadi dia memang sempat merasa kalau Reino memperhatikannya, tapi Lydia sama sekali tidak peduli. Lydia pikir Reino masih menatapnya dengan kesal.


“Oh, dasar Polar Bear mesum dan bejat. Penjahat kelamin sialan,” keluh Lydia mengibaskan tangan lebih kencang.


Setelah cukup tenang, Lydia segera beralih ke lemari yang ada di sana. Dia mulai mengambil beberapa hal yang diperintahkan Reino.


“Astaga dasar mesum,” pekik Lydia ketika dihadapkan dengam jejeran dalaman milik Reino.


Lydia menghembuskan napas dengan kasar. Dia bukannya tidak pernah menyentuh dalaman pria, Lydia pernah kok menjemur dalaman punya adiknya. Tapi ini kan punya Reino si Polar Bear yang tidak punya hubungan apa pun dengannya. Ini terasa sangat memalukan bagi Lydia.


“Ngapain sih kamu? Ambil baju saja lama banget,” gertak Reinomdiawali dengan pintu yang terbuka kasar.


“Astaga, Pak.” Teriak Lydia bukan hanya karena kaget dengan kedatangan Reino, tapi juga karena kemeja lelaki itu tidak terkancing.


Ya. Kemeja Reino memang masih melekat, tapi seluruh kancingnya sudah terbuka menampakkan otot dada yang menggiurkan. Belum ditambah dengan celananya yang juga tidak terkancing.


“Apa yang kau lakukan?” teriak Reino karena Lydia malah membuang bajunya ke lantai untuk menutup mata dengan kedua tangan.


“Maaf, saya permisi, Pak,” pekik Lydia sebelum berlari keluar ruangan.


***To Be Continued***

__ADS_1


__ADS_2