Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Sudah Cantik Lagi


__ADS_3

“Aku sudah ada di luar rumahmu. Keluar sekarang juga.”


Lydia menggeram kesal ketika telepon dari Reino itu terputus tiba-tiba. Padahal baru sekitar sejam dia berada di rumahnya, tapi Reino sudah menjemput saja. Ini gara-gara Lydia harus mengelabui Clarissa.


Ya. Perjalanan itu nyatanya memakan waktu lebih dua jam. Dan membuat Lydia yang sebenarnya kelelahan makin lelah saja. Mana di rumah dia juga tidak istirahat karena harus menemani ibunya.


“Ma. Sepertinya Lydia sudah harus balik lagi deh,” seru Lydia dengan wajah cemberut.


“Eh? Secepat ini?” tanya Liani juga ikutan cemberut.


“Mau diapa lagi. Namanya juga masih kerja. Nanti kalau ada waktu dan dapat izin, Lydia pasti mampir lagi kok.”


Mau tidak mau, Liani harus merelakan putri kesayangannya pergi bekerja lagi. Andai kata dia masih bisa bekerja, Liani pasti akan memastikan Lydia keluar dari pekerjaannya. Dia kurang suka putrinya harus bekerja keras, sampai menginap di rumah orang.


“Bos kamu baik juga ya. Tiap kali pasti dijemputin,” seru Liani ketika mengantar Lydia keluar.


“Hah? Gimana, Ma?”


“Yang di dalam mobil itu bosmu kan? Reino kan namanya?” tanya Liani menatap lurus ke arah mobil.


Lydia ikut menatap mobil yang terparkir di depan rumahnya. Kaca mobil yang hitam pekat, membuat tidak ada seorang pun yang bisa melihat ke dalam. Lalu dari mana Liani tahu kalau yang menjemput adalah Reino?


“Ini mobilnya kan?” tanya Liani lagi.


“Kok Mama tahu ini mobilnya? Ini bisa saja mobil kantor kan?” Lydia balik bertanya..


“Mama kan jadi followersnya dia, Lyd. Dia sering foto dengan mobil ini. Ganteng baget ya. Mana bodinya bagus lagi,” kikik Liani seperti anak remaja kasmaran.


Lydia memutar matanya dengan gemas. Bisa-bisanya ibunya itu malah jadi fans bos, sekaligus mantan mantunya sendiri. Mana sampai segitunya lagi.


Karena merasa Reino menatapnya dari dalam mobil dengan intens, Lydia buru-buru pamit dan masuk ke dalam mobil. Kali ini Lydia memilih untuk duduk di depan, tapi tidak jadi.


Selain karena sudah ada Pak Hadi di depan, Reino juga sudah memelotoinya dengan tajam. Dan karenanya, Lydia terpaksa bergerak ke kursi penumpang belakang.


“Lain kali lebih berhati-hatilah, Pak. Mama saya menyadari kalau anda ada di dalam mobil,” beritahu Lydia dengan sopan.


“Lalu?”

__ADS_1


Lydia gemas sekali dengan tanggapan Reino yang singkat itu. Tapi apa mau dikata, dari pada dia makin lemas karena dihukum lebih baik Lydia menjelaskan dengan baik. Yah. Lydia suka sih kalau dihukum seperti itu, tapi kelelahan yang harus ditanggungnya tidak.


“Mama saya kan tidak tahu hubungan kita dari awal seperti apa, jadi mohon kerja samanya,” pinta Lydia lebih sopan.


Tidak ada jawaban dari Reino karena dia masih sibuk memeriksa laporan. Karenanya Lydia yang masih merasa lelah, memutuskan untuk tidur sejenak.


Niatnya sih hanya tidur selama perjalanan yang kurang lebih menghabiskan waktu antara 30-45 menit. Tapi pada kenyataannya, Lydia tidak terbangun juga walau sudah sampai di rumah orang tua Reino.


“Hei, bangun.” Reino menepuk pipi Lydia lumayan keras, tapi wanita itu tak juga terbangun.


“Saya rasa Bu Lydia terlalu lelah akibat ulah anda semalam, Pak,” seru Hadi dengan senyum terkulum.


“Apa maksud kalimatmu itu?” tanya Reino melirik asistennya dengan tajam.


“Gosip menyebar dengan sangat cepat, Pak. Dari pelayan ke sopir, dari sopir ke satpam kantor, dari satpam ke cleaning servis dan ob. Kemudian berakhir ke telinga karyawan.”


“Saya rasa sebagian besar penghuni kantor sudah tahu kejadian malam tadi,” lanjut Hadi dengan senyum penuh arti.


Reino yang mendengar itu, langsung melirik ke arah sopir yang masih duduk di belakang kemudi. Tatapan mematikan yang jelas membuat sopir itu ketakutan dan berkeringat dingin.


“Maaf Pak, tapi tidak bisa. Jika saya yang menggendong, pasti Bu Clarissa akan curiga atau minimal memarahi kita.”


Reino langsung menggeram mendengarnya. Dia melupakan sedang berakting menikah dengan Lydia, di depan kedua orang tuanya. Mau tidak mau, Reino yang harus menggendong Lydia yang masih pulas.


Hal pertama yang Reino lakukan adalah menyelimuti Lydia dengan jasnya. Setelah itu barulah dia mengangkat tubuh kurus itu ke dalam pelukannya. Sangat ringan.


“Lydia kenapa, Rei?”


Clarissa yang sedang duduk di ruang tengah segera menghampiri anaknya. Dia terlihat cemas ketika menantunya itu sepertinya tidak sadar.


“Cuma tidur saja, Ma,” jawab Reino pelan. Takut suaranya bisa membangunkan Lydia.


“Kalau memang kelelahan, harusnya tadi dia gak keluar saja,” keluh Clarissa ikut naik ke lantai dua menemani putra dan mantunya.


“Kamu sih. Semalam heboh banget.”


“Kenapa Mama juga ikut-ikutan membahas itu sih?” tanya Reino menunggu ibunya membukakan pintu.

__ADS_1


“Ya habisnya kalian kan heboh banget,” jawab Clarissa menyingkap selimut, agar Reino bisa segera membaringkan Lydia.


“Padahal Mama yang terus-terusan minta cucu. Giliran ribut dikit saja dalam prosesnya diprotes juga,” cibir Reino kini menanggalkan sepatu Lydia dengan telaten.


“Ya, tapi gak dibikin secapek ini juga kali.” Clarissa memukul tangan kekar anaknya cukup keras.


“Tapi kok Mama udah di rumah sih jam segini? Biasanya kan kalau udah kumpul dengan ibu-ibu penggosip itu lama,” tahya Reino terlihat bingung.


“Kebetulan acaranya batal. Padahal tadi sudah hampir sampai tempat tujuan,” jawab Clarissa dengan santainya.


“Udah ah. Mending Mama keluar saja deh biar Lydia bisa istirahat dengan nyaman. Kamu juga pergi mandi ya, Rei. Sudah bau asem.”


Reino langsung mengernyit dan refleks mengangkat lengan untuk mengendus ketiaknya. Masih wangi dan tidak ada bau aneh sama sekali. Tapi pada akhirnya Reino tetap pergi mandi untuk menyegarkan diri.


Setelah sudah segar, Reino yang keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk, mendapati selimut yang dipakai Lydia sudah tidak menutupi tubuh kurus itu.


“Apaan sih? Perempuan kok tidurnya berantakan,” gumam Reino mencoba untuk memperbaiki selimut Lydia.


Hal yang dilakukan Reino itu sia-sia saja, sebab Lydia kembali menendang selimutnya dengan kuat. Berkali-kali Reino memperbaiki selimut itu, berkali-kali pula Lydia menendangnya.


Reino yang sudah kesal, membuang selimut itu ke lantai. Dia sudah hendak beranjak dari pinggir ranjang, ketika menyadari kalau Lydia berkeringat.


“Perasaan pendinginnya menyala,” gumam Reino seraya mendonggak untuk memerika pendingin ruangan.


Angin dingin yang menyapa kulit telanjangnya adalah bukti kalau benda itu menyala dan dalam keadaan baik. Lalu kenapa Lydia bisa kepanasan?


Reino menurunkan suhu ruangan, sebelum pergi untuk memakai pakaian. Tapi setelah berpakaian lengkap, Lydia masih berkeringat. Bahkan bajunya sudah basah.


“Kamu kenapa sih?” gumam Reino menyeka keringat di pelipis mantan istrinya itu.


Reino bahkan berhasil mengganti pakaian Lydia dengan yang lebih nyaman dan tipis. Dia juga menyeka seluruh tubuh Lydia, tanpa membuat wanita itu terbangun. Setelah memakaikan Lydia baju, barulah Reino tesenyum puas.


“Sudah cantik lagi,” gumam Reino tanpa sadar, sembari merapikan anak rambut Lydia yang berantakan.


“Tunggu? Tadi aku bilang apa sambil tersenyum?” tanya Reino pada dirinya sendiri.


***To Be Continued***

__ADS_1


__ADS_2