Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Bertengkar


__ADS_3

Hari sudah malam ketika Liani menatap anaknya yang sedang mengemas beberapa pakaiannya ke dalam koper ukuran sedang. Wajahnya terlihat khawatir, tapi dia tidak kuasa melarang.


“Harus selama itu ya?” tanya Liani tidak lagi bisa diam.


“Mau gimana lagi, Ma. Nyonya besar maunya aku jadi asisten pribadinya selama dia di Indonesia. Dan dia minta aku tinggal di tempatnya. Katanya biar mudah,” jawab Lydia tanpa menghentikan aktifitasnya.


Hanya helaan napas pasrah yang bisa diberikan Liani sebagai tanggapan. Dia juga tahu kalau anaknya tidak bisa menolak karena Lydia hanyalah karyawan biasa. Permintaan dari Nyona Besar tentu tidak bisa ditolak seenak hati kan?


“Nanti perginya naik taksi online?” tanya Liani lagi.


“Gak. Katanya nanti ada yang jemput,” jawab Lydia setengah berbohong.


Nanti memang ada yang menjemput, tapi bukan sopir saja yang datang. Katanya Reino sendiri yang datang menjemput karena ada beberapa hal yang harus mereka lakukan lebih dulu. Tentunya dalam konotasi yang positif. Lydia sudah cukup malu kemarin setelah keluar dari ruangan Reino dan dia tidak ingin mengulanginya lagi.


Coba bayangkan ketika keluar dari ruangan Reino dan menemukan beberapa orang menatapmu dengan wajah merah dan canggung. Apalagi Lydia cukup lama keluar dari ruangan Reino dan penampilannya masih saja berantakan walau sudah berbenah.


“Oh, sepertinya jemputanmu sudah datang.” Liani mengintip dari jendela setelah mendengar suara klakson.


“Nanti aku akan mampir kalau ada waktu,” Lydia pamit dengan memeluk ibunya.


“Kak Lydia cuma nginap di rumah orang aja, Ma. Mama kok kayak mau lepas anak perempuannya buat nikah sih?” celetuk Kenzo muncul entah dari mana.


Liani langsung memukul putranya, diikuti derai tawa Lydia. Setelahnya Lydia keluar rumah dan sopir segera menyambutnya. Setelah memasukkan kopernya ke bagai, Lydia digiring untuk duduk di kursi belakang. Dan karenanya Lydia tidak bisa membuka kaca jendela untuk melambai pada ibunya. Nanti Liani bisa melihat Reino yang juga duduk di belakang.


“Kita ke apartemenku dulu,” sahut Reino tanpa menoleh dari tabletnya. Dia sedang membaca berita online.


“Buat?” tanya Lydia penuh antisipasi.


“Tentu saja untuk membenahi penampilan dan isi kopermu.”


“Apa yang salah dengan semua itu?” tanya Lydia tidak mengerti.

__ADS_1


“Sebagai ‘istriku,” Reino memperagakan tanda kutip di udara dengan kedua tangannya. “Masa kau menggunakan koper buluk begitu?”


“Excuse me? Itu baru kubeli tahun lalu dan harganya lumayan,” balas Lydia dengan mata membulat. Dia tidak terima kopernya disebut buluk.


“Listen. Kau menantu orang kaya. Walau suka berpakaian sederhana, setidaknya kau harus punya sedikit perhiasan. Dan karena aku yakin kau tidak punya, kemarin aku sudah menyiapkan beberapa. Termasuk beberapa pakaian yang agak layak untukmu.”


Lydia menggeram dalam hati mendengar penghinaan itu. Rasanya dia ingin sekali berteriak dan menjambak rambut Polar Bear Sialan itu, tapi dia tidak bisa melakukannya. Yang ada nanti malah Lydia yang kena hukuman.


Mau tidak mau dia terpaksa pasrah saja. Dan siapa sangka kalau Reino benar-benar menyiapkan semuanya.


Reino menyulap apartemennya, seolah ada dua orang yang hidup di sana. Semua barang jumlahnya sepasang dan kembar. Mulai dari slippers, mug, sikat gigi, bahkan piyama. Bukan hanya itu, Reino juga membeli cukup banyak pakaian wanita yang anehnya sangat pas ditubuh Lydia. Katanya biar kedua orang tua Reino tidak curiga kalau mereka berkunjung.


“Dari mana Pak Reino tahu ukuranku?” tanya Lydia dengan mata menyipit, setelah mencoba satu dress.


“Apa kau pikir aku meremas dan membuatmu keenakan tanpa bisa menebak berapa ukurannya?” tanya Reino dengan kedua alis terangkat.


Lydia mengetatkan rahangnya. Dia kesal sekali dengan kalimat menghina itu dan kali ini Lydia enggan membiarkannya.


“Tidak begitu perjanjiannya Lydia,” geram Reino tidak senang dengan ancaman itu.


“Kan katanya badanku rata dan gak nyaman disentuh. Ya kalau gitu gak usah,” hardik Lydia hiperbola dengan mata yang masih melotot.


“Aku tadi cuma bilang tubuhmu rata. Kenapa sekarang malah merambah ke seluruh badan dan gak nyaman disentuh?” protes Reino karena tidak merasa mengatakan hal seperti itu.


“Lah, itu Pak Reino barusan ngomong.”


“Astaga. Itu kan kau yang ngomong duluan. Aku cuma bilang dada. Bukan tangan, bokong dan sebagainya.”


“Oh, jadi sekarang bokongku juga dibilangin tepos nih? Tapi perasaan situ suka banget nepuk bokongku sampai merah. Terus apa itu dan sebagainya? Mau menghina bagian intimku juga? Memang aku kurus, tidak menggairahkan dan tidak memuaskan. PUAS?”


Reino mengernyit bingung dengan perkataan sekretaris sekaligus teman tidurnya itu. Perasaan dia hanya menyinggung satu hal, tapi kenapa Lydia malah menyebutkan hal lain?

__ADS_1


Bingung dengan kelakuan Lydia yang masiih mencak-mencak sendiri, Reino menatap Hadi dengan tatapan bertanya. Hanya senyum penuh pengertian yang bisa diberikan pada bosnya itu.


"Semua perempuan memang begitu, Bos. Mereka tidak suka diejek, melebih-lebihkan masalah dan tidak mau kalah,” gumam Hadi dalam hati.


***


“Kalian bertengkar?” tanya Clarissa begitu melihat anak dan menantunya.


“Tidak.”


“Ya.”


Lydia dan Reino menjawab bersamaan, membuat kedua manusia itu saling menatap. Reino yang merasa tidak ada lagi masalah di antara mereka, menatap istri pura-puranya dengan tatapan bingung. Sementara Lydia menatap Reino dengan tatapan sengit.


Clarissa menatap dua orang di depannya secara bergantian. Hanya dalam waktu sekejap saja, dia bisa menyimpulkan siapa yang bersalah dalam hal ini.


“Yuk, Lyd. Jangan pedulikan suamimu itu, mulutnya memang tidak pernah sopan. Mama saja heran kamu bisa tahan lama dengan dia.”


Clarissa segera menarik wanita yang masih dia anggap sebagai mantu. Dia menggandeng Lydia dan mencebik kesal ke arah anaknya. Reino sampai bingung dengan kelakuan dua wanita itu. Dan karena Reino bisa dibilang anak Mama, dia tidak menegur ibunya itu. Tapi begitu sampai ke ruang tengah Clarissa mengadu lagi pada Leon.


“Coba itu anaknya diajarin yang bener, Pa. Masa dia jahatin istrinya sih.”


“Aku gak ngapa-ngapain ya, Pa,” bantah Reino dengan cepat. Dia enggan disalahkan atas apa yang tidak dia perbuat. Atau lebih tepatnya tidak merasa kalau masalah tadi di apartemen masih berlanjut.


“Reino,” panggil Leon dengan nada lelah. “Jangan jahat-jahat sama istrimu. Oke.”


Reino menganga tidak percaya mendengar ayahnya yang biasanya tegas, langsung mengalah pada Clarissa. Tahu kalau anaknya itu sedang bingung, Leon meminta Reino untuk mendekat dan berbisik di telinga anaknya.


“Perempuan kalau sudah mengamuk itu bahaya. Lebih baik hindari pertengkaran apa pun,” Leon memberi nasihat sembari menepuk bahu anaknya.


Itu membuat Reino makin tercengang saja.

__ADS_1


***To Be Continued***


__ADS_2