Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Yakin


__ADS_3

Walau sudah menyatakan kesediaannya untuk menjalin hubungan dengan Reino, Lydia masih saja menghela napas. Dia masih memikirkan bagaimana mungkin dirinya memiliki anak pada usia semuda ini.


Mana sekarang Reino ngebet ingin menikah ulang lagi. Itu bertentangan dengan keinginan Lydia yang baru ingin menikah di umur paling cepat 26 tahun. Tinggal setahun lagi sih, tapi tetap saja dia merasa ragu-ragu.


“Hah.”


“Hei, kenapa menghela napas?” Lydia langsung mendonggak menddengar suara yang sudah dia kenali.


“Selamat pagi Pak Viktor. Mau ketemu Pak Reino?” Lydia langsung berdiri menyambut tamu kehormatan itu.


Setelah libur seminggu, akhirnya hari ini Lydia kembali bekerja. Tentu saja masih jadi sekretaris Reino, dengan beban pekerjaan yang sangat sedikit.


“Sebelum bertemmu Reino, aku ingin bertemu denganmu dulu.”


Sebelah alis Lydia terangkat. Perempuan bertubuh kurus itu menunggu kelanjutan kalimat pria yang berdiri di depannya itu.


“Bagaimana keadaanmu?” tanya Viktor dengan raut wajah serius.


“Baik. Saya sudah jauh merasa lebih baik,” Lydia menjawab dengan jujur. Dia memang sudah merasa baikan.


“Tolong berhentilah menggunakan bahasa sopan seperti itu. Kau tidak perlu sesopan itu, walau ini di kantor.”


Lydia tidak membalas kalimat Viktor dan hanya memberi senyum. Jujur saja, Lydia kesulian melakukan hal yag diminta pria blasteran di depannya itu. Pada Reino saja dia masih sulit, apalagi orang lain.


“Oh, iya. Apa kau suka makan cokelat?” tiba-tiba saja Viktor bertanya.


“Suka sih.”


“Bagus. Kalau begitu pilihanku tidak salah.”


Viktor terlihat menunduk mengambil sesuatu di lantai dan itu ternyata adalah buket. Lebih tepatnya buket bunga dan cokelat yang tadi memang tidak dilihat Lydia. Tadi perempuan itu melamun sambil menunduk, sehingga tidak melihat Viktor datang dengan buket yang lumayan besar itu.


“Ini sebagai permintaan maaf karena tidak bisa menolongmu waktu itu. Maaf juga karena tidak menjengukmu di rumah sakit.”


“Oh, terima kasih.” Lydia menerima buket itu dengan gerakan canggung. Sesungguhnya dia agak sungkan menerima buket cantik itu.


“Omong-omong sebentar siang bagaimana kalau kita makan siang bersama?”


“Sayang sekali Lydia sudah punya janji dengan orang lain.” Bukan Lydia yang menjawab, tapi Reino.

__ADS_1


Pria tinggi besar itu sepertinya baru keluar dari ruangannya. Reino terlihat begitu berang dengan kehadiran sang sahabat dan makin marah lagi melihat buket bunga yang dipegang Lydia.


Dengan gerakan kasar, Reino mengambil buket itu dan melemparnya ke dalam tong sampah. Tentu saja tidak muat, tapi setidaknya bagian tangkainya masih muat.


“Apa maumu mengajak tunanganku pergi makan siang dan memberinya buket bunga?” tanya Reino mendorong Viktor dengan keras.


“Pak.” Lydia tentu saja menarik lengan kekasihnya itu. Dia tidak ingin terjadi perkelahian di sini.


“Oh, sabar dulu Bro.” Viktor menaikkan kedua tangan, meminta sahabatnya untuk tidak langsung menghajarnya. “Lagi pula sejak kapan kalian jadi tunangan?”


“Sejak beberapa hari lalu. Apa itu masalah untukmu?” Reino masih saja berbicara ketus pada sahabatnya.


“Santai, Bro. Aku cuma mengajak dan memberi buket karena ingin minta maaf, gak lebih. Lagi pula aku berniat mengajakmu juga.”


Karena Reino terus mendekat, Viktor terpaksa terus mundur. Dia tahu kalau tinju Reino itu sangat sakit, jadi dia tidak mau cari gara-gara.


“Reino Andersen,” pekik Lydia kesal sekali dengan tingkah kekasihnya. “Berhenti sekarang atau aku akan marah padamu.”


“Aku bahkan tidak melakukan apapun.”


Dengan gerakan cepat Reino berbalik menjauhi sahabatnya. Dia bahkan langsung merangkul bahu Lydia dengan mesra, seolah tak ada kesalahan yang dibuatnya.


Lanjutan kalimat Reino membuat Lydia memutar bola matanya. Bicara dari Hong Kong? Tadi Reino jelas sudah akan memukul sahabatnya itu.


“Tapi ini serius? Kalian sudah tunangan? Akan menikah lagi?” Viktor kini bertanya dengan lebih berani.


“Apa ada masalah dengan itu?” tanya Reino kembali ketus, membuat Viktor mengambil ancang-ancang untuk mundur.


“Oh, ayolah Pak! Bagaimana Pak Reino mau bicara sama keluarga saya kalau emosian begini?” hardik Lydia makin kesal. “Sudah mau jadi bapak juga, tapi emosinya seperti anak kecil.”


“Sorry?” tanya Viktor dengan mata membulat lebar. “Jadi bapak?”


“Ya. Lydia sedang hamil,” jawab Reino dengan tegas.


Viktor menutup mulut dengan kedua tangannya. Dia terlalu syok dengan kenyataan itu. Pasalnya Reino sudah sering kali menolak menikah, apalagi punya anak.


Dia hanya ingin bersenang-senang di atas ranjang, tanpa ingin serius. Tapi coba lihat sekarang? Reino akan punya anak, bahkan sudah siap menikah.


“Wah, cinta memang bisa merubah orang ya,” gumam Viktor masih tidak percaya.

__ADS_1


“Kalau sudah tahu begitu, silakan cari istri sana. Jangan mengganggu calon istri orang.”


Tanpa pamit, Reino menarik tangan kekasihnya untuk masuk ke dalam ruangan. Lydia tidak bisa menolak karena genggaman tangan Reino sangat erat.


“Gagal sebelum mencoba,” gumam Viktor ketika tinggal dia sendirian di sana. “Nasib.”


***


Lydia lagi-lagi menghela napas. Ini sudah jam pulang kanyor dan dia sedang perjalan pulang menggunakan mobil kantor. Reino yang masih lembur, terpaksa hanya bisa memaksa kekasihnya untuk diantar menggunakan mobil kantor, walau dia ungib mengantar sang kekasih pulang.


Ini sebenarnya cukup menguntungkan bagi Lydia karena dia merasa perlu merenung. Kehadiran Reino tentu akan mengganggunya.


“Pak, boleh singgah di mal dulu gak sih? Saya mau beli makanan,” Lydia meminta tolong pada sopir kantor.


Tiba-tiba saja, Lydia ingin memakan ayam cepat saji yang dibeli di mal. Keinginan yang aneh, tapi rasanya Lydia mengerti kenapa ini terjadi. Dia pasti ngidam.


Lydia sebenarnya belum mengecek ke dokter, tapi sepertinya dia memang hamil. Terbukti dengan dirinya yang tiba-tiba ingin makan ayam yang harus dibeli di mal.


“Aduh.”


Lydia yang sedang mengantri langsung menunduk begitu mendengar suara imut dan merasakan kakinya menabrak sesuatu. Rupanya ada anak perempuan yang sepertinya baru saja menabrak dirinya.


“Hai, sweety,” Lydia yang jarang bergaul dengan anak-anak tiba-tiba saja ingin menyapa. “Kau baru saja menabrakku?”


“Maaf,” gumam anak kecil itu dengan wajah tertunduk.


“Apa ada yang sakit?” tanya Lydia sedikit khawatir melihat wajah sedih anak itu dan segera menjadi lega ketika anak itu menggeleng.


“Astaga Nana!” Suara pekikan itu terdengar ketika Lydia mengelus kepala anak cantik nan imut itu.


“Maaf ya, Mbak. Anak saya jadi ganggu,” Ibu anak tadi meminta maaf.


“Gak apa-apa kok, Bu. Saya justru terbantu.”


“Eh?” Ibu tadi tentu saja bingung.


Kata-kata Lydia mungkin memang aneh, tapi dia mengatakan kejujuran. Berkat anak kecil tadi, Lydia tidak lagi ragu menghadapi kehamilannya.


Lydia berinteraksi dengan anak itu hanya sebentar, tapi efeknya luar biasa. Naluri keibuan perempuan kurus itu langsung tersentil dan membuatnya tiba-tiba saja ingin segera menggendong bayi. Dia tak lagi takut, tapi sangat menantikan.

__ADS_1


***To Be Continued***


__ADS_2