
“Oh, my God. Kenapa gak diangkat sih?” gerutu Lydia menaiki tangga darurat dengan ponsel menempel di telinga.
Tidak berhasil menghubungi Reino, Lydia langsung menghubungi Pak Hadi. Dan untungnya pria itu mengangkat teleponnya pada dering ketiga.
“Pak Hadi saya perlu bicara dengan Pak Reino sekarang juga.”
“Maaf, Mbak. Beliau sedang berdiskusi dengan klien,” jawab Hadi sopan.
Lydia menggeram marah. Dia tahu tidak seharusnya dia marah dan menginterupsi, tapi ini juga masalah yang penting. Bahkan jauh lebih penting dari apa pun.
“Tolong bilang sama Pak Reino. Kedua orang tuanya saat ini baru saja sampai di kantor kita.”
Tidak ada jawaban apa pun dari Pak Hadi, tapi Lydia tahu pria itu pasti sedang berusaha memberi tahu Reino apa yang terjadi. Butuh waktu agak lama memang, tapi Lydia dengan setia menunggu.
“Pak Reino akan mencoba menghubungi mereka dan untuk sementara, Mbak Lydia boleh bersembunyi di kamar pribadi dulu.”
“Okay. Thank you.”
Lydia yang sudah sampai di lantai lima, segera membuka pintu darurat dan melangkah dengan cepat. Dia melangkah dengan terburu-buru menuju ruangan Reino. Secepat mungkin Lydia sudah harus mengunci diri di private room itu.
“Eh, Mbak Lydia kebetulan. Ada tamu-“
“Nanti, Tuti. Aku buru-buru,” Lydia memotong perkataan asistennya dengan cepat karena tidak mau dihalangi apa pun.
Namun ketika membuka pintu ruangan Reino, Lydia dikejutkan dengan pemandangan yang dilihatnya. Kedua orang tua Reino, beserta dengan Pak Fendi sedang duduk di sofa dengan santainya.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Lydia.”
Hardikan Pak Fendi dan panggilan penuh kerinduan Clarissa terdengar nyaris bersamaan. Papa mertua Lydia lah yang pertama kali menyadari hardikan Pak Fendi, tapi dia lebih fokus pada anak mantunya yang terlihat... makin kurus. Dan fokusnya tersita oleh deringan telepon.
“Sini, Sayang.” Mama Clarissa menepuk tempat kosong di sampingnya.
Lydia tersenyum penuh ringisan. Mau tidak mau. Suka tidak suka. Dia harus mendekat di bawah tatapan heran dari Pak Fendi dan Maya. Sekretaris Pak Fendi itu, baru saja mau beranjak keluar ketika Lydia masuk.
“Ya. Papa sedang mengobrol dengan Pak Fendi di ruanganmu. Kebetulan Lydia juga baru datang. Hei, kau baru saja mengumpati ayahmu?”
__ADS_1
Suara percakapan Leon Andersen terdengar oleh semua orang. Tanpa diberitahu pun semua orang tahu kalau dia berbicara dengan Reino. Dan Lydia bisa menebak alasan Reino mengumpat.
“Kamu dikasih makan gak sih sama Reino? Kok sepertinya tambah kurus dari yang terakhir Mama lihat?” tanya Clarissa pada Lydia.
“Di... dikasih makan kok.... Ma,” jawab Lydia sedikit terbata.
“Katanya Reino sebentar lagi akan kembali ke kantor. Tunggu saja dia, biar Papa marahin karena gak bisa menjagamu dengan benar,” tambah Leon terdengar sedikit kesal.
“Anda berdua rupanya sudah berkenalan dengan Lydia ya?” tanya Pak Fendi dengan nada canggung.
Lydia memejamkan matanya dengan rapat. Dia tahu ke mana arah pembicaraan ini dan Lydia berharap bisa mencegah gosip apa pun itu menyebar. Tapi percuma juga sih. Walau sudah dilarang, berita pasti akan menyebar dengan cepat.
“Ma. Pa. Lydia dan Reino sudah memutuskan untuk tidak mempublikasikan hubungan kami,” seru Lydia walau tahu usahanya sia-sia saja.
“Loh? Kok disembunyiin sih? Karena kamu masih mau kerja?” tanya Clarissa terlihat tidak suka.
“Kurang lebih seperti itu.” Ringis Lydia menjawab pertanyaan mantan ibu mertuanya.
“Kerja sih boleh. Tapi kamu tidak seharusnya jadi karyawan biasa lagi. Apalagi kata Reino kamu itu anaknya cerdas,” tambah Leon yang makin membuat Lydia meringis.
“Kok tehnya cuma tiga sih? Buat Lydia mana?” tanya Clarissa menatap Maya dan Tuti dengan mata melotot.
“Eh, gak Ma. Aku biasanya suka minum susu vanila yang didinginkan 5 menit di kulkas,” jawab Lydia terburu-buru.
Lydia kemudian melirik cepat ke arah Tuti dan bermain mata dengan asistennya itu. Tuti yang bingung hanya bisa melotot. Pasalnya tidak ada susu vanila selain kental manis yang kadang di campur dengan kopi.
“Anda sangat perhatian sekali ya dengan, Lydia. Padahal masih pacar saja,” gumam Pak Fendi makin bingung saja.
“Pacar apanya?” tanya Leon dengan nada suara meninggi. “Lydia itu menantu saya.”
Semua orang yang mendengar itu langsung melotot. Tuti yang baru sampai di depan pintu untuk membuat kental manis pun menoleh dengan mata melotot.
***
“Saya sungguh minta maaf. Tiba-tiba saja ada sedikit masalah keluarga, jadi saya harus kembali lebih cepat.”
Reino memasang wajah memelas yang sama sekali tidak meyakinkan, sambil menjabat tangan kliennya. Tapi karena alasan yang diberikan masuk akal, klien itu tentu saja mengizinkan.
__ADS_1
“Tidak masalah. Lagi pula kita memang sudah selesai. Dan kuharap masalahmu cepat selesai.”
Reino memberi senyum profesionalnya sebelum berbalik untuk keluar dari restoran. Senyuman itu pun langsung hilang begitu dia berbalik, tergantikan dengan wajah masamnya yang biasa.
“Aku harus sudah di kantor dalam waktu 5 menit,” geram Reino pada Hadi.
“Maaf, Pak. Walau dekat, tapi 5 menit itu mustahil. Apalagi ini rush hour, jalanan pasti macet,” jawab Hadi dengan sopan sesuai dengan fakta yang ada.
“Aku tidak mau tahu, Hadi. Tugasmu adalah membawaku kembali ke kantor dalam 5 menit, sebelum 2 orang tua itu membuat keributan.”
Dengan helaan napas panjang, Hadi segera menekan headset yang terhubung dengan walkie talkie miliknya untuk meminta disiapkan motor dalam waktu semenit. Itu adalah kendaraan tercepat yang bisa mereka gunakan saat ini.
“Excuse me? Kau menyuruhku naik motor?” tanya Reino ketika mendengar perintah Hadi pada anak buahnya.
“Maaf, Pak. Untuk saat ini itu adalah kendaraan tercepat yang bisa kami dapatkan,” jawab Hadi dengan wajah datar.
Reino mendengus keras. Dia tidak mau dandanannya rusak karena naik motor, tapi seperti kata Hadi tadi. Motor yang tercepat dan Reino tidak punya pilihan lain karena harus segera kembali.
Sampai di luar restoran, seorang pengawal yang memakai motor, menyerahkan kunci motornya pada Hadi. Pria itu yang akan membonceng Reino karena bosnya tidak tahu menjalankan sepeda motor.
“Lima menit, Hadi,” Reino kembali mengingatkan ketika sudah duduk di boncengan.
“Siap, Pak.” Hadi segera menyanggupi dan berdoa agar mereka bisa menembus kemacetan tanpa ada halangan.
Sayangnya, walau Hadi sudah cepat dan walau kemacetan bisa dilalui dengan baik. Reino tetap terlambat.
Begitu Reino menjejakkan kaki di lobi kantor, setelah membiarkan rambutnya berantakan, gosip sudah menyebar. Semua orang berbisik-bisik sambil melihatnya melintasi lobi dan seorang petinggi perusahaan segera menghampirinya dengan wajah semringah.
“Pak Reino. Kenapa anda tidak mengatakan kalau sudah menikah?”
“Hah?”
“Orang tua anda yang memberi tahu. Mereka bahkan mengajak Bu Lydia keliling kantor dan pabrik. Pantas saja Pak Reino tiba-tiba menarik Bu Lydia jadi asisten tak lama setelah dia terkenal.”
Reino mengumpat dalam hati mendengar kelakuan orang tuanya.
***To Be Continued***
__ADS_1