
“Tidakkah Kak Reino merasa kalau Pak Fendy aneh?” tiba-tiba saja Lydia bertanya.
“Aneh apanya?” Reino menjawab sambil berganti pakaian.
Hari sudah malam dan mereka telah sampai di rumah, bahkan sudah bersiap untuk tidur. Lydia pun sudah dalam mood yang lebih baik, tapi dia malah menanyakan hal yang aneh.
“Ya, aneh gitu. Dia kayak ngelirik ... “
“Dia melirikmu? Melecehkanmu dengan matanya?” potong Reino dengan mata melotot.
“Bukan. Dia tidak melirikku, tapi melirikmu.” Lydia menunjuk sang suami yang baru mau naik ke atas ranjang.
“Hah? Aku?”
“Ya. Tadi waktu nunggu lift dia sepertinya melirikmu dengan raut wajah marah,” Lydia menjawab dengan wajah serius. Membuat Reino menaikkan sebelah alis Reino terangkat.
“Jangan bilang kalau dia itu penyuka sesama jenis,” Reino langsung bergidik ketika memikirkannya.
“Kenapa jadi seperti itu? Aku kan tadi bilang dia melihat dengan tatapan marah.”
“Dia marah karena aku lebih memilih menikah denganmu. Bisa saja kan?”
Lydia hanya bisa menggeleng. Menurutnya pemikiran sang suami terlalu absurd, sama sekali tidak masuk akal. Lydia jadi malas menghadapi pria itu. Lebih baik dia tidur.
***
“Selamat pagi, Bu Lydia.”
“Selamat pagi, Pak Fendy,” Lydia membalas dengan sopan.
“Pak Reino ada?”
“Iya. Silakan masuk, Pak.” Lydia yang masih menjabat sebagai sekretaris utama sang suami langsung melangkah untuk membukakan pintu.
“Eh, gak perlu.” Pak Fendy segera mencegah Lydia membuka pintu. Biar bagaimanapun dia nyonya bos.
“Gak perlu membuka pintu, nanti Pak Reino malah marah,” lanjut Pak Fendy menjelaskan. “Sebagai gantinya apa saya bisa minta tolong Bu Lydia saja?”
“Minta tolong seperti apa?” tanya Lydia dengan kening berkerut.
__ADS_1
Pak Fendy tidak menjawab, tapi dia mengeluarkan map yang sedari tadi dia sembunyikan di belakang punggungnya. Itu adalah gerakan mencurigakan yang jelas membuat Lydia mengernyit.
“Ini ada dokumen yang perlu secepatnya di tanda tangan Pak Reino,” gumam Pak Fendy menjelaskan.
“Cuma kalau saya atau sekretaris saya yang minta tanda tangan biasanya akan ditanya-tanya lagi. Padahal ini sifatnya sangat urgent.”
Penjelasan yang menurut Lydia amat tidak masuk akal. Bertanya sebelum menanda tangani adalah prosedur standar. Sama halnya dengan membaca isi dokumen. Kalau memang penting, harusnya Pak Fendy saja yang membawa masuk karena Lydia pasti tidak bisa menjawab kalau ditanya.
“Bukannya justru karena itu lebih baik Pak Fendy saja yang bawa masuk?” tanya Lydia tetap mencoba sopan.
“Kalau Bu Lydia yang bawa masuk, mungkin Pak Reino bisa langsung tanda tangan.”
Kini kening Lydia makin berkerut. Dokumen apa yang harus langsung ditanda tangan, tanpa dilihat isinya?
“Akan saya coba.” Walau curiga, Lydia tetap mengambil map itu.
“Kalau begitu saya titipkan saja dulu ya. Sebentar sekretaris saya yang akan ambil.”
Lydia tidak menjawab. Dia hanya tersenyum saja dan membiarkan Pak Fendy pergi. Dan ini jelas membuat kecurigaannya bertambah besar.
“Kok Pak Fendy kayak mencurigakan ya?” Lydia bisa mendengar gumaman wakilnya- Ika.
“Kenapa kau bilang dia mencurigakan?” Lydia bertanya pada Ika.
“Itu, Mbak. Yang soal nitip dokumen biar langsung ditanda tangan gitu.” Ika menunjuk map yang dipegang Lydia.
“Kalau emang urgent kenapa gak ditungguin aja? Emang tanda tangan dokumen berapa lama sih? Paling juga gak sampai 5 menit. Lagian, ini kayak yang ada di film-film gak sih?”
Lydia menaikkan sebelah alisnya. Dia menunggu Ika menyelesaikan kalimatnya.
“Biasanya ada dokumen lain yang diselip diantara dokumen kantor. Atau enggak ada kertas kosong gitu, jadi setelah ditanda tangan kertasnya bakal diketik.”
Kini kedua alis Lydia terangkat naik. Dia sama sekali lupa kalau memang ada film seperti itu. Bukan hanya film lokal saja, tapi rasanya ada drama Korea yang seperti itu. Hanya saja Pak Fendy terlalu kentara.
“Kalau begitu coba kulihat dulu apa isinya.”
Lydia kembali duduk di kursinya dan membuka map. Isinya sih terlihat seperti dokumen bisnis pada umumnya. Ada kesepakatan yang tertulis di sana, tapi jujur saja ada halaman yang tidak sinkron dengan yang lainnya.
“Er, ini bukannya perjanjian yang baru ditandatangani kemarin?” Ika yang berdiri di samping Lydia bertanya.
__ADS_1
“Oh, ya? Kok bisa tahu?”
“Soalnya saya baru mau file.” Ika memperlihatkan map perjanjian yang dimaksud.
Lydia mengambil map itu dan membandingkan isinya. Memang itu adalah hal yang sama, tetapi hanya dia tercampur dengan perjanjian dan surat edaran lainnya. Dan seperti yang dikatakan Ika ada kertas kosong di antara tumpukan kertas yang sangat banyak itu.
“Astaga orang ini betul-betul.”
***
“Gimana, Pa? Udah?” Istri Pak Fendy yang menunggu suaminya di ruangan pria itu, segera menyambut sang suami yang baru masuk ruangan.
“Sudah aku titip ke istrinya,” jawab Pak Fendy menghembuskan napas lega.
“Bagus. Nanti kita tinggal tunggu berkasnya ditanda tangani.” Wanita paruh baya itu memekik antusias.
“Tapi bukannya lebih bagus kalau ditungguin aja ya?” tanya Pak Fendy yang sebenarnya tidak setuju berkasnya ditinggal.
“Gak usah, Pah. Nanti kalah Papah tungguin malah disuruh jelasin isi map itu. Kalau Papah tiba-tiba jadi gugup gimana dong? Nanti rencana kita bisa gagal.”
Pak Fendy hanya mengangguk saja. Dia yang memang sudah lama ingin menyingkirkan Reino, baru kali ini membuat rencana dengan bantuan sang istri. Karena rencananya cukup bagus, Pak Fendy ikut saja.
“Tapi yakin bakal berhasil kan?” tanya Pak Fendy masih menyimpan keraguan.
“Yakinlah, Pah. Kan sudah sering Mamah lihat di tv. Lagian ya emang sudah seharusnya ini dilakukan,” istri Pak Fendy mulai mengompori suaminya.
“Papah kan sudah lama banget di Linder. Papah juga yang bantuin si Leo Andersen dari zaman dulu. Masa Papah cuma jadi wakil CEO, sementara anak tengiknya yang gak tahu apa-apa itu malah jadi CEO.”
Pak Fendy mengangguk setuju. Memang dia sudah merasa kecewa sejak Reino ditunjuk untuk memimpin perusahaan. Jangankan jadi CEO, bahkan dia tidak mendapat bagian saham dari perusahaan itu.
Bukannya tidak dapat sama sekali sih, tapi hanya sekian persen dari saham milik Reino. Mungkin hanya 2 persen saja. Itu masih sangat sedikit dari apa yang dia harapkan.
Pak Fendy berharap minimal mendapat setidaknya sekitar 8-10 persen saham. Perbedaan persentasenya memang sedikit, tapi kalau dirupiahkan itu banyak.
“Ya sudah. Mending kita tunggu saja hasilnya sebentar lagi. Papah juga yakin kalau perempuan itu tidak akan memeriksa isi mapnya. Apalagi isinya banyak,” gumam Pak Fendy dengan senyum penuh keyakinan.
“Papah memang pintar.”
***To Be Continued***
__ADS_1