Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Tidak Siap


__ADS_3

Sepanjang pagi, Lydia lebih banyak melamun. Liani tidak menegur karena ada Reino yang juga hanya memperhatikan Lydia tanpa banyak bicara. Setelah Reino terpaksa pergi karena ada yang harus dia urus di kantor, barulah Liani bertanya.


“Tidak ada apa-apa kok, Ma.” Lydia tersenyum pada ibunya sebagai jawaban.


“Kamu pasti kepikiran omongan dokter tadi kan?”


Lydia menunduk ketika ibunya berhasil menebak apa yang ada dipikirannya. Ya. Lydia memang memikirkan kemungkinan kalau dia sedang hamil.


Bukannya Lydia tidak ingin punya anak, tapi dia belum siap. Sama sekali tidak siap malah. Di usia yang baru saja menginjak 25 beberapa bulan lalu, Lydia belum mau punya anak. Apalagi dengan status belum menikah, alias janda.


“Kenapa? Kamu gak mau punya anak dengan Reino?”


“Bukan gitu, Ma. Aku Cuma ... belum siap saja,” Lydia menjawab dengan cepat.


“Kalau gak siap kenapa melakukannya? Katamu kamu gak dipaksa kan?”


“Aku memang tidak dipaksa, tapi ... aku gak siap, Ma. Kalau dua atau tiga tahun lagi sih mungkin gak masalah. Kalau sekarang? Nanti gimana aku kerjanya? Kita kan masih perlu makan. ”


“Kalau dua atau tiga tahu lagi kan Kenzo sudah kerja. Dan aku yakin gajinya sudah lumayan untuk menghidupi Mama kalau aku menikah dan punya anak nanti.”


Liani menghela napas. Dia tidak pernah terpikir kalau anak sulungnya itu begitu memikirkan dirinya. Bahkan sampai sejauh itu. Tidak heran jika putrinya itu punya pikiran nekat untuk melunasi hutang keluarga.


Lydia rupanya berpikir kalau kini dialah yang menjadi tulang punggung keluarga. Dan itu membuat Laini terharu. Rupanya anak sulungnya itu sudah sedewasa ini.


“Kamu gak perlu memikirkan itu. Kepala rumah tangga untuk saat ini kan Mama.” Liani menggenggam tangan putrinya yang sama sekali tidak terpasang infus.


“Mama kan sakit. Gimana mungkin aku membiarkan Mama kerja?” tanya Lydia balas menggenggam tangan ibunya.


“Mana mungkin juga Mama menghalangi jodoh kamu? Kalau kamu beneran hamil, tidak mungkin kan Mama melarangmu menikah dan terus memintamu bekerja. Lagi pula akan lebih baik kalau kamu hamil saja, dari pada mengidap penyakit.”


Liani menatap putrinya dengan tatapan penuh harap. Jika mendengar penjelasan dokter tadi pagi, tentu semua orang akan berharap kalau lebih baik kenaikan hormon itu adalah indikasi yang baik.


Tapi sekali lagi. Lydia masih belum siap dan belum rela meninggalkan ibunya dalam keadaan tanpa pekerjaan seperti ini. Apalagi Kenzo masih kuliah dan belum punya penghasilan.

__ADS_1


Bekerja saat hamil sih mungkin saja. Tapi setelah itu? Pasti akan sangat sulit menjaga bayi sambil bekerja kan? Apalagi dengan keadaan ayah bayinya juga bekerja.


“Lalu aku harus gimana?” lirih sekali Lydia mengucapkan pertanyaan itu.


“Pasti akan ada jalan untuk setiap masalah, Lyd. Sekarang kamu hanya perlu untuk memulihkan diri dulu. Pastikan kamu sehat dan kita bisa membicarakan ini nanti. Oke?”


Tidak ada yang bisa dikatakan Lydia selain memberi anggukan pelan. Dia tidak ingin membuat ibunya khawatir, tapi juga tidak bisa membuang bayinya kalau dia benar sedang hamil.


***


“Apa rasanya punya bayi?” tiba-tiba saja Lydia bertanya ketika para sahabatnya datang berkunjung.


Seharusnya Lydia sudah boleh pulang siang ini, tapi dari pihak dokter menahan. Katanya akan dilakukan observasi yang berkaitan peningkatan kadar hormon HCG Lydia karena tidak ditemukan tanda-tanda kehamilan pada hasil USG Transvaginal.


Jika dalam waktu satu atau dua hari tidak ada gejala lain yang muncul, Lydia akan diizinkan pulang. Itu pun dia harus datang lagi 3 minggu depan untuk mengecek kemungkinan hamil atau yang lainnya.


“Siapa yang kau tanya? Belum ada yang punya bayi di sini,” Vanessa menjawab Lydia dengan nada mencibir.


“Itu bukannya memang bayi?” Lydia menunjuk perut Cinta yang sudah sangat besar untuk ukuran lima bulan.


“Kalau begitu bagaimana rasanya hamil? Aku ingin tahu, terutama saat yang pertama.”


Kening Cinta berkerut mendengar pertanyaan sahabatnya itu. Baginya itu adalah pertanyaan yang aneh sekali.


“Kau hamil ya?” Erika bertanya dengan nada menuduh.


“Gak tahu. Dokter belum bisa memastikan, tapi ada kemungkinan ke sana,” jawab Lydia dengan tatapan menerawang.


“Dan apa Reino tidak mau bertanggung jawab?” Vanessa bertanya sudah terdengar sangat berang.


“Hasilnya saja masih belum jelas, Nes. Apanya yang mau dipertanggungjawabkan? Bisa saja itu malah penyakit.”


“Hush. Kok ngomongnya begitu sih? Amit-amit tahu,” tegur Erika keras.

__ADS_1


“Itu yang dikatakan dokter.” Lydia mengedikkan kedua bahunya dengan santai ketika menjawab.


“Berpikirlah positif sedikit. Lebih baik kau hamil dibanding kena penyakit aneh,” balas Vanessa bergidik melihat betapa santainya Lydia.


“Aku hanya mengatakan apa yang dikatakan dokter, Nes. Itulah kenyataannya. Aku tidak menambahkan atau mengurangi,” balas Lydia masih terlihat santai.


Sejujurnya apa pun hasilnya 3 minggu lagi, Lydia tetap masih merasa tidak siap. Hasil apa pun yang ada tetap menghambatnya bekerja.


Walau sudah berjanji akan memikirkan ini lagi nanti, tapi Lydia tidak bisa melakukannya. Dia merasa perlu memikirkan masa depannya dan keluarganya sendiri.


Andaikata nanti Lydia menikah dengan Reino yang kaya raya mungkin tak ada masalah. Tapi Lydia tidak ingin terus menggantungkan hidup keluarganya pada Reino. Rasanya pria itu sudah terlalu banyak membantunya.


“Biar kutebak,” Cinta menjeda kalimatnya sejenak. “Kau pasti belum siap jika dinyatakan hamil kan?”


Lydia hanya bisa menghela napas untuk menjawab Cinta. Itu sudah cukup untuk membuat para sahabatnya mengerti. Tentu tidak ada yang mau hamil di luar nikah. Apalagi Lydia yang punya banyak tanggungan.


“Aku juga dulunya merasa tidak siap,” seru Cinta mulai memberitahu.


“Tidak ada perempuan yang ingin hamil tanpa suami, apalagi belum pernah menikah. Tapi anak itu adalah darah dagingku, aku tidak akan membuangnya.”


“Awalnya memang akan sangat mengejutkan. Tapi seiring berjalannya waktu, kau pasti akan menyayanginya. Apalagi jika ada yang menemanimu melewati semuanya,” Cinta mengakhiri ceritanya dengan senyuman.


Lydia membalas senyuman Cinta. Tapi masalahnya sekarang apakah Reino mau menemaninya melewati semua ini? Lydia juga tidak yakin.


“Menurutku Reino pasti akan menemanimu dan bersedia menikahimu kok,” kali ini giliran Erika yang menasehati. “Jadi kamu gak perlu khawatir.”


“Kenapa kau seyakin itu?” tanya Lydia dengan senyum mengejek.


“Yakin saja. Soalnya dia terlihat bucin. Itu yang dikatakan Kai,” Erika mengedikkan bahunya.


“Tuh dengar. Jadi kamu gak perlu khawatir lagi soal Reino,” lanjut Vanessa segera mengiyakan.


“Aku mengkhawatirakan keluargaku. Kalau benaran hamil kan aku pasti gak bisa kerja dengan efektif. Dan kalau pun Reino menerimaku, aku juga gak bisa membuatnya membiayai keluargaku kan?” Lydia akhirnya mengatakan apa yang membuatnya khawatir.

__ADS_1


***To Be Continued***


__ADS_2