
“Jangan gila, Hadi.” Liani membentak kekasihnya, tidak peduli kalau lelaki itu masih diperban.
“Aku sama sekali tidak gila.” Hadi tersenyum manis menatap kekasihnya itu. “Aku bisa melakukan ini dan akan menang.”
“Demi Tuhan! Kenzo itu mengajakmu balapan motor di sirkuit. Bukan mengajakmu lomba makan. Tanganmu masih di gips.” Liani tidka bisa tidak berteriak ketika mengatakan itu.
Bagaiamana mungkin Liani tidak emosi. Dalam keadaan bahu dislokasi dan tulang tangan retak, tentu saja Hadi tidak mungkin mengendalikan motor dengan baik. Lelaki itu bisa terjatuh dan terluka makin parah.
Hal lain yang membuat Liani kesal adalah kekasihnya menerima tantangan sang putra yang tidak masuk akal itu dengan penuh percaya diri. Liani tak habis pikir bagaimana Hadi bisa sepercaya diri itu ketika dia terluka.
“Wow. Ini keren.” Liani mendelik tajam ke arah putranya, ketika mendengar suara teriakan itu.
“Aku tidak pernah balapan di sirkuit dan baru pertama kali menggunakan motor balap.” Kenzo yang baru mencoba motor yang dipinjamkan padanya, melepas helm dengan senyum semringah.
Yap. Mereka sudah ada di sirkuit dan sudah siap melakukan balapan. Sudah lewat beberapa hari sejak Kenzo mengajukan tantangan dan sejak saat itu pula Liani tak henti-hentinya membujuk Hadi. Sayangnya pria itu tetap pada pendiriannya.
Hadi meyakinkan Liani kalau dia tidak perlu terlalu khawatir. Lagi pula, Reino dan kawan-kawan yang mengatur semuanya, jadi jelas ini akan aman. Itu pula yang membuat Kenzo berjingkrak karena diizinkan menggunakan motor balap sunguhan.
“Ma, aku boleh beli motor seperti ini tidak?” Kenzo bertanya pada ibunya, tanpa ada rasa bersalah sama sekali.
“Sekali lagi kau bersuara, maka aku akan mematahkan lehermu.” Liani jelas saja akan memarahi putranya.
__ADS_1
“Ck. Mama sekarang gak sayang padaku lagi ya?” tanya Kenzo mengejek dengan amat sangat jelas.
“Itu karena kau mengajukan hal yang tidak masuk akal, ketika orang yang kau tantang sedang sakit.”
Kenzo hanya tersenyum lebar ketika mendengar itu. Dia sengaja memeberikan tantangan yang tidak masuk akal, dengan harapan Hadi akan mundur. Sayangnya, sampai sekarang kekasih ibunya itu belum mau mundur.
Kalau sudah seperti ini, Kenzo hanya bisa sedikit mengalah. Dia tak akan memaksakan diri, agar tidak terjadi kecelakaan yang membuat namanya dicoret dari karu keluarga. Lagi pula, dia belum sekejam itu.
“MAMA.” Lydia meneriaki sang ibu. “AYO NAIK SINI.”
Liani mendesah menatap putri sulungnya yang sudah duduk di tribun paling depan dengan teman-temannya dan juga Reino. Mau tidak mau, Liani yang berdiri di samping sirkuit harus naik ke kursi penonton. Dia tak mungkin terus berada di sana.
“Sudah Tante gak perlu cemas. Saya yakin pacar Tante itu cukup jago.” Vanessa-salah satu sahabat Lydia memberi semangat.
“Bukan seperti itu, Ma.” Lydia ikut menenangkan mamanya yang baru duduk tepat di sebelahnya. Reino ada di sebelah Lydia yang lain dan para sahabat duduk di belakang.
Salah satu sahabat Lydia, kebetulan bersuamikan sahabat Reino. Jadinya sahabatnya yang lain juga ikut tahu dan ingin datang menyemangati. Tentu saja mereka lebih mendukung Hadi, ketimbang Kenzo yang tak masuk akal.
“Maksud Vanessa itu, Pak Hadi pasti sudah tahu resikonya. Dia menerima tantangan ini, pasti karena yakin bisa melakukannya.” Lydia kembali menenangkan ibunya.
“Betul Tante. Jadi Tante doakan saja yang terbaik.” Erika yang duduk di belakang bersama dengan suaminya-Kaisar yang merupakan sahabat Reino, mengiyakan.
__ADS_1
“Pak Hadi pasti menang kok.” Sahabat putrinya-Cinta, juga menyemangati Liani.
Liani pada akhirnya hanya bisa mendesah pelan. Yang dikatakan para anak muda itu tidak sepenuhnya salah. Dari pada cemas, lebih baik Liani berdoa yang terbaik saja untuk dua orang pria yang dia sayangi.
***
Kenzo dan Hadi sudah bersiap di lintasan. Hadi memegang motornya dengan satu tangan saja, tapi dia tampak sangat percaya diri. Jujur, itu membuat Kenzo agak kesal juga.
“Yakin Om tidak mau mundur saja?” tanya Kenzo terlihat jemawa.
“Sama sekali tidak.” Hadi masih tersenyum dari balik helmfull face. “Aku yakin bisa menang.”
“Dengan hanya satu tangan yang mengendalikan motor?” Kenzo mendengus dengan sombongnya. “Mana mungkin.”
“Percayalah, Nak. Aku sudah terbiasa melakukan ini dan jelas aku lebih banyak pengalaman darimu.”
Jawaban itu membuat Kenzo makin kesal. Dia yang tadinya ingin bersikap lunak, kini tak lagi menginginkan hal itu. Kenzo akan menunjukkan kalau dia tak mungkin kalah dengan orang yang terluka.
Sayangnya, itu hanya akan jadi impian belaka saja. Diluar dugaan, Hadi bisa mengendalikan motornya dengan baik, walau hanya menggunakan satu tangan. Hadi bisa melewati setiap tikungan dengan sangat baik, walau dengan tangan masih dibebat.
Kenzo saja sampai terkejut melihat itu. Dia nyaris saja tidak bisa mengendalikan motornya karena terkejut akibat disalip. Pada akhirnya Hadi yang memenangkan pertandingan tak masuk akal itu.
__ADS_1
“Ck. Menyebalkan.” Reino yang paling pertama berkomentar ketika itu terjadi.
***To Be Continued***