Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Makin Banyak Hadiah


__ADS_3

“Coba kamu jujur ke Mama deh, Lyd. Kamu pasti punya pacar kan? Cuma mungkin lagi marahan aja,” tanya Liani dengan sebelah tangan menopang dagu dan senyuman penuh arti.


Lydia memutar bola matanya dengan gemas melihat tingkah ibunya. Belum ditambah dengan tatapan menyelidik sang adik yang terlihat sangat menyebalkan.


“Gak ada yang seperti itu,” hardik Lydia kesal sekali.


“Lantas yang setiap malam dikirim ke rumah dan Kakak tolak itu siapa yang kirim? Gak mungkin juga salah kirim setiap hari kan?” tanya Kenzo dengan cengirian mengejeknya.


“Pokoknya gak ada yang gituan,” hardik Lydia kesal dan segera meninggalkan meja makan, walau sarapannya belum habis.


Liani hanya bisa menggeleng pelan melihat tingkah putrinya, sementara Kenzo si adik malah tertawa. Dan ini semua gara-gara Polar Bear Reino.


Coba bayangkan saja bagaimana dua orang itu tidak berpikir aneh-aneh kalau atasannya itu mengirim hadiah tiap hari. Yes. Setiap hari. Dan tiap harinya kirimannya pasti berbeda-beda.


Dimulai dari tas, kemudian perhiasan, sepatu, jam dan boneka beruang besar. Semuanya tentu saja ditolak Lydia, apalagi jika disertai dengan kartu ucapan tak senonoh. Untung saja kartu-kartu itu tidak dibaca oleh Liani atau Kenzo.


“Bu Lydia.”


Lydia segera berbalik begitu mendengar seseorang memanggilnya ketika baru tiba dikantor. Dan rupanya bagian resepsionis yang memanggilnya. Wanita yang seumuran dengan Lydia itu segera berlari menghampirinya.


“Itu Bu.” Si resepsionis menunjuk pria yang terlihat seperti kurir. “Ada kiriman bunga untuk Bu Lydia.”


“Tolak saja,” seru Lydia langsung berniat pergi. Dia tidak perlu tahu siapa yang mengirim. Itu pasti Reino.


“Eh, jangan gitu Bu. Itu karangan bunganya cantik banget loh, sayang kalau gak diterima. Siapa tahu dari pacarnya.”


“Saya gak punya pacar,” sergah Lydia terdengar kesal.


“Ah, Ibu ini. Udah deh ayo diterima dulu.”


Tanpa segan, rekan resepsionis itu menarik lengan Lydia. Dengan langkah malas dan enggan, Lydia mengikuti langkah resepsionisnya.


“Ini Bu buket bunganya.”


Si kurir mengambil sesuatu dari lantai dan memberikannya pada Lydia. Dan itu langsung membuatnya terkejut.

__ADS_1


Bukan hanya sekedar buket bunga biasa, tapi buket bunga raksasa. Isinya pun tidak main-main. Lydia munhkin tidak bisa menghitug jumlah tangkai aneka warna bunga mawar itu, tapi dia yakin kalau jumlahnya ada ratusan. Tadi Lydia tidak melihat buket bunga itu karena fokusnya sedang terpecah.


“Tunggu Pak.” Lydia tidak langsung mengambil buket bunganya. Dia terlebih dahulu mencari kartu ucapannya.


‘Aku sayang padamu. So let’s have ***.’


Lydia langsung meremas kartu itu dan melemparnya ke lantai. Namun sadar bisa saja kartu itu diambil dan dibaca orang, dia segera mengambilnya lagi.


“Kembalikan saja bunganya. Saya tidak mau menerimanya.”


“Eh, gak bisa Bu. Saya diperintahkan untuk mengantarkan dan diterima oleh Bu Lydia asisten CEO. Kalau tidak saya bisa dipecat,” bantah pria tadi.


“Kalau begitu buang saja.”


Setelah mengatakan itu, Lydia segera berbalik pergi. Dia tidak lagi mau peduli dengan kurir, resepsionis ataupun orang-orang yang meliriknya ingin tahu. Dan sepertinya dia harus memperingatkan Polar Bear lagi soal ini. Terutama dengan kata-kata vulgarnya


“Kau lagi-lagi menolak pemberianku?” geram Reino begitu melihat asistennya masuk ke ruangan.


“Maaf, Pak. Saya kan sudah bilang untuk tidka mengirimkan hadiah lagi,” jawab Lydia takut-takut. Takut jika tiba-tiba Reino mengamuk.


“Kau kan hanya bilang untuk tidak mengirimkannya ke rumah,” gertak Reino tidak mau kalah. Tapi sebenarnya memang itulah yang pernah dikatakan Lydia.


“Fine.”


Lydia menyipit mendengar betapa mudahnya pria itu mengalah. Rasanya seperti ada yang direncanakan Reino, tapi Lydia memutuskan untuk tidak terlalu peduli. Hari ini banyak kerjaan dan dia ingin fokus.


Saking fokusnya Lydia, dia sampai tidak memperhatikan kalau mantan suami sekaligus bosnya itu sedang menatapnya. Yah, walaupun sebenarnya ini bukan yang pertama kalinya Reino menatap asistennya bekerja.


Setiap hari sejak pertama kali dirinya memutuskan mengirim hadiah, Reino selalu memperhatikan mantan istrinya itu. Mencari tahu kira-kira hal apa yang membuat wanita kurus itu bersedia tidur dengannya.


Dan hasilnya nihil. Sampai detik ini Lydia masih menolak semua pemberiannya. Padahal kalau perempuan lain, tidak pernah menolak pemberian seperti itu. Sebaliknya, malah para perempuan yang selalu meminta.


“Jadi kenapa dia tidak mau menerimanya?” Reino ingat pernah menanyakan ini pada Hadi, si kepala pengawalnya.


“Mungkin karena Nona Lydia berbeda dari wanita kebanyakan, Pak. Kurasa dia sedikit unik. Coba anda cari tahu apa yang dia sukai.”

__ADS_1


Reino juga mengingat apa jawaban Hadi kala itu. Tapi masalahnya, semenjak pertama kali kenal sampai sekarang, dia tidak tahu apa yang disukai wanita itu.


“Uang?” bisik Reino pada dirinya.


“Tapi dia menolak untuk tidur denganku, bahkan ketika aku memberi uang.” Reino mengernyit mengingat hal itu.


“Tapi waktu nikah kontrak kali lalu dia senang sekali mendapat uang,” Reino kembali bergumam.


“Apa Bapak mengatakan sesuatu?” tanya Lydia yang mulai menyadari kalau atasannya itu sedang berbicara entah dengan siapa.


“Ya. Aku ingin tahu apa yang kau sukai.”


“Tidak akan saya beritahu,” jawab Lydia datar, tahu jika bosnya itu akan memberinya apa pun yang dia sebutkan.Dan itu membuat Reino mendengkus kesal.


Sombong sekali, pikir Reino benar-benar kesal. Kalau bisa, dia sungguh ingin memukul Lydia sekali saja. Tapi nurani Reino menolak ide itu. Ibunya akan marah kalau sampai tahu dia memukul seorang perempuan dan Reino sendiri pun tak suka memukul perempuan. Hanya banci yang melakukannya.


Oh, apakah Lydia akan luluh jika dibelikan rumah? Penthouse mungkin? Atau vila mewah? Sepertinya Reino ingat ada perempuan yang memintanya membelikan mereka properti.


Reino kembali menatap Lydia. Seingatnya wanita itu masih punya ibu dan adik. Itu artinya akan lebih baik jika membeli sebuah rumah kan? Mungkin sekalian dengan perabotan dan kendaraan?


“Baiklah,” gumam Reino mengangguk senang. “Aku akan cari rumah yang bagus.”


Baru saja Reino akan bertanya rumah seperti apa yang diinginkan Lydia, asistennya itu tiba-tiba saja bangkit berdiri dari kursinya dengan wajah pucat. Tangan wanita itu memegang ponsel dengan mata terpaku ke layar.


“Ada apa?” tanya Reino merasa ada yang aneh dengan mantan istrinya itu.


“Anu, Pak,” balas Lydia terlihat sangat gugup.


Reino tidak menjawab karena dia tahu Lydia masih akan melanjutkan ucapannya. Dia menunggu dengan cukup sabar sampai wanita itu meredakan kegugupannya.


“Bo... Boleh saya izin pulang lebih cepat?”


“Apa-apaan ini? Apa sekarang dia akan menghindar?” batin Reino sangat marah.


“Ibu saya-”

__ADS_1


“Kau tidak boleh kemana-mana,” geram Reino memotong kalimat Lydia


***To Be Continued***


__ADS_2