
Reino yang hari ini datang sedikit lebih awal, tidak menemukan Lydia di mejanya. Dan saat akhirnya dia melihat Lydia dari layar tanngkapan CCTV, wanita itu justru terburu-buru berlari ke arah toilet.
Penasaran dengan asistennya, Reino mengekori dengan langkah santai. Langkah kakinya yang panjang, membuat Reino dengan mudah mengejar sekretarisnya itu. Dan betapa terkejutnya Reino ketika mendengar suara tendangan yang cukup keras.
Awalnya Reino berpikir kalau itu suara Lydia yang terjatuh menghantam pintu atau sejenisnya. Tapi baru juga pintu toilet terbuka, Reino sudah bisa mendengar suara caci maki Lydia.
Reino menyandarkan tubuhnya ke dinding dekat pintu untuk mendengar semua keluh kesah yang dilontarkan sekretarisnya itu. Entah dengan alasan apa, Reino merasa perlu mendengarnya.
“Loh, Pak Reino? Ada yang bisa dibantu, Pak?” Tuti yang merupakan asisten Lydia dan kebetulan mau ke toilet bertanya ketika melihat bosnya bersandar dekat toilet perempuan.
Reino tidak menjawab dan hanya mengusir Tuti dengan lambaian tangan. Dan tanpa berkata apa-apa wanita itu segera pergi dengan ekspresi bingung.
Cukup lama Reino bertahan di sana. Dia baru pergi setelah merasa Lydia sudah cukup tenang dan tidak lagi berceloteh.
“Pak Reino, anda sudah kembali?” tanya Hadi basa-basi saja dan dijawab dengan gumaman pelan.
“Hadi,” panggil Reino tanpa embel-embel ‘pak’ walau Hadi lebih tua. “Kamu pernah pacaran gak?”
“Hah?”
“Aku tanya. Kamu pernah pacaran atau tidak?” geram Reino kesal harus mengulang pertanyaannya.
“Pernahlah, Pak.”
“Apa yang kalian lakukan selain bergulat di atas ranjang?”
Hadi langsung terbatuk mendengar pertanyaan bosnya itu. Rasanya dia ingin bertanya apakah otak bosnya itu habis terbentur sesuatu. Kenapa isinya hanya adegan ranjang saja?
“Pak. Sesungguhnya adegan ranjang itu tidak termasuk gaya pacaran yang sehat. Itu katakanlah hanya selingan saja, bukan untuk dilakukan sesering mungkin. Lagi pula di zaman saya, pacaran itu tidak bebas. Ciuman saja rasanya masih agak tabu, apalagi lebih dari itu.”
“Lalu apa yang kalian lakukan?”
“Hm... Saling berkabar mungkin, nonton film bareng, makan, sekedar jalan-jalan sambil bergandengan. Dan hal-hal semacam itu,” jawab Hadi setelah berpikir sebentar.
“Ck. Membosankan sekali,” jawab Reino mengalihkan fokusnya ke hal lain.
__ADS_1
Hadi hanya bisa menatap bosnya ddengan tatapan heran. Tapi ketika sudah masuk jam makan siang, dia kahirnya tahu maksud pertanyaan Reino tadi. Walau dalam prakteknya, kelakuan Reino hampir membuat Hadi tersedak liurnya sendiri.
***
“Pak? Anda sedang sakit atau gimana sih?” tanya Lydia dengan suara pelan, sembari tangannya berusaha melepaskan diri dari genggaman tangan Reino.
Entah kerasukan setan apa, selain memanggil Lydia dengan panggilan ‘sayang’, dia juga menggandeng tangan wanita itu. Mulai dari ruangan Lydia, sampai sekarang mereka sedang mengantri di kantin lantai dua untuk makan siang.
“Memangnya gak boleh makan berdua pacar?” tanya Reino dengan raut wajah datar yang sama sekali tidak berubah.
Kening Lydia langsung berkerut mendengar penuturan Reino dengan wajah datar cenderung masamnya. Lydia jadi makin yakin kepala Polar Bear ini kepalanya terbentur saat di Jogja kemarin.
“Pak. Kita kan tidak perlu mesra di kantor. Bukannya cukup di depan orang tua Pak Reino kan? Atau mungkin orang tua Pak Reino mau datang ya?” tanya Lydia.
Lydia tiba-tiba saja teringat kalau Reino memang meminta menyembunyikan perceraian mereka. Jadi bisa saja kedua orang itu ingin berkunjung dan Reino terpaksa bersikap mesra.
“Kenapa tiba-tiba bicara soal Mama dan Papa? Mereka menghubungimu?” tanya Reino tanpa mengecilkan suaranya, membuat Lydia memukul lengan Reino.
“Suaranya dikecilkan dikit, Pak. Nanti kalau orang-orang dengar gimana?” desis Lydia di dekat telinga Reino.
Sebagian berpikir Lydia sedang berusaha menggoda Reino, sebagian lagi berpikir mereka sangat romantis. Dan orang-orang yang kebetulan mendengar kalimat Reino tadi, berasumsi kalau Lydia akan segera menjadi nyonya muda.
Tapi apa pun pikiran orang, Lydia masih tidak habis pikir dengan kelakuan Polar Bear. Baginya ini hal tidak masuk akal walau menguntungkan bagi dirinya.
Menguntungkan karena bekal yang dibawa Lydia sudah habis sejak pagi. Dan sekarang dia bisa makan gratis di kantin perusahaan. Bahkan sampai dilayani oleh Hadi. Atau lebih tepatnya Reino memaksa pria itu mengambilkan makanan untuk dirinya dan Lydia.
“Pak, saya rasa tidak perlu seperti ini,” Lydia kembali berusaha untuk menyadarkan Reino dari tingkah absurdnya. Lydia merasa tidak enak hati dengan Hadi.
“Kau ingin makan apa? Semur ayam?” tanya Reino tanpa mempedulikan protesan Lydia.
“Iya boleh, tolong bagian pahanya ya. Saya juga mau cah toge,” jawab Lydia refleks.
Kalau sudah menyangkut makanan biasanya Lydia akan mudah teralihkan. Cacing di perutnya lebih butuh perhatian ekstra agar bobotnya bisa bertambah walau hanya sedikit.
“Mau sekalian oseng tempe gak?” tanya Reino lagi.
__ADS_1
“Aku mau yang pedas,” jawab Lydia refleks.
Reino yang masih menggandeng Lydia, hanya perlu melotot pada Hadi dan pria itu akan meminta pada petugas kantin. Hadi sekaligus meminta porsi untuk bosnya juga.
Hadi melakukan semuanya dengan suka cita. Dia yang sudah lama bekerja dengan Reino akan merasa senang jika dua orang di sampingnya bisa benar-benar jatuh cinta dan rujuk. Kebetulan Hadi adalah satu dari sedikit orang yang tahu soal pernikahan kontrak setahun lalu.
“Pak Reino, saya serius bertanya. Untuk apa kita makan berdua seperti orang pacaran di kantin kantor?” bisik Lydia masih belum menyerah untuk mencari jawaban.
“Rasanya tadi aku sudah bilang kan? Kita di sini untuk kencan,” geram Reino mulai marah karena Lydia tidak sepatuh di atas ranjang.
“Tapi untuk apa? Kita kan tidak benar-benar pacaran.”
“Tapi orang sekantor percaya kalau kita pacar.”
“Iya, sih. Tapi rasanya tetap aneh. Ini tidak seperti Pak Reino yang biasanya.”
“Harusnya kau bersyukur. Setidaknya dengan terlihat mesra, orang-orang akan berpikir aku yang jatuh cinta padamu. Bukan kau menjual tubuhmu padaku,” geram Reino nyaris saja berteriak karena marah.
Walau Reino terlihat marah, tapi Lydia sama sekali tidak merasa takut atau tersudut. Sebaliknya dia merasa terharu.
Entah bagaimana sepertinya Reino sedang berusaha memulihkan nama baik Lydia. Mungkin gosip soal Lydia yang menggoda Reino Andersen sudah sampai ke telinga pria itu dan dia dengan senang hati membantu. Hal itu membuat Lydia luluh.
Yah, walau sepertinya Reino melakukan itu semua dengan terpaksa. Tapi setidaknya, pria itu sudah sedikit peduli padanya. Itu saja cukup membuat hati Lydia menghangat.
“Terima kasih,” gumam Lydia setelah beberapa menit.
“Sudah seharusnya.” Reino mengangguk angkuh.
“Dan satu lagi. Ucapan terima kasih saja tidak cukup buatku. Aku perlu dihadiahi dengan malam panas tanpa pengaman.”
Lydia langsung melotot mendengar bisikan vulgar itu. Hatinya yang tadinya terasa menghangat kini tiba-tiba jadi sebeku Kutub Utara.
“Dasar Polar Bear Mesum. Sekali mesum, tetap saja mesum,” teriak Lydia hanya berani dalam hati.
***To Be Continued***
__ADS_1