
“Aku takut.” Lydia terlihat sudah ingin menangis ketika mengatakan itu.
“Tidak perlu takut. Kau akan baik-baik saja.” Reino mengecup istrinya yang sudah berganti pakaian dengan jubah operasi yang steril.
Yap. Hari ini pada akhirnya ibu hamil itu akan melahirkan dengan prosedur operasi cesar menggunakan metode ERACS. Itu adalah jenis operasi yang bisa membuat Lydia tak perlu tinggal lama di rumah sakit karena pemulihannya lebih cepat.
Sebenarnya Lydia ingin mencoba normal, tapi dia tak bisa melakukan itu. Ukuran bayinya terlalu besar, sementara panggulnya agak kecil. Tidak tanggung-tanggung berat bayi dalam kandungan diperikan sudah melebihi tiga koma lima kilo. Itu membuat Lydia kesulitan berjalan selama trisemester akhir.
“Kau tidak perlu takut.” Ibu mertua Lydia menenangkan menantunya. “Zaman sudah modern dan alat kedokteran juga sudah canggih. Semua akan aman.”
“Aku juga akan mendampingimu.” Reino mengelus lengan istrinya yang makin bertambah gemuk, seiring pertumbuhan si bayi.
Lydia hanya bisa mengangguk saja. Dia juga hanya pasrah saja ketika dirinya dibawa ke ruang operasi, sementara Reino harus berganti dengan pakaian operasi terlebih dulu.
“Bagaimana rasanya?” Reino bertanya setelah dia duduk dengan nyaman di kursi yang sudah disediakan, tepat di atas kepala istrinya.
“Menegangkan.” Lydia mengulurkan tangannya pada sang suami. “Coba rasakan tanganku. Dingin sekali kan?”
“Kalau begitu aku akan menghangatkannya.” Reino tanpa ragu mengambil dan menggenggam kedua tangan sang istri, bahkan mengecupnya pelan.
“Jangan aneh-aneh. Kita sedang di ruang operasi,” desis ibu hamil yang tengah terbaring pasrah itu, sambil berusaha menarik tangannya.
“Ini tidak aneh, Sayang. Aku hanya mengecup punggung tanganmu, bukan memakanmu di ba ....” Reino berhenti berbicara karena sang istri kini mendesis dengan lebih galak.
__ADS_1
Reino hanya bisa tertawa melihat tingkah menggemaskan istrinya. Dia lalu mengecup kening Lydia untuk kembali menenangkan perempuan yang kini mengerut itu. Lydia bisa merasakan kalau ada yang bergerak di sekitar perutnya.
“Sakit?” Reino bertanya dengan lembut.
“Tidak, tapi ... rasanya aneh. Kau tahu apa maksudku kan? Tidak sakit, tidak geli, tapi aku bisa merasakan sesuatu bergerak.” Kali ini Lydia memilih untuk berbisik.
“Ya, aku mengerti.” Reino mengangguk dengan senyum miring. “Mungkin mirip saat aku bergerak di dalamm ... Ouch.”
Tanpa diperingatkan terlebih dulu, tangan Lydia mendarat di pipi sang suami yang memang menyandar di sisi kepala Lydia. Lelaki itu jelas saja akan mengatakan hal mesum dan dia harus segera dihentikan.
“Maaf, tidak apa-apa. Lanjutkan saja.” Perempuan yang perutnya tengah diotak-atik itu tersenyum pada perawat yang berdiri di dekatnya.
“Kenapa kau jahat pada suamimu sih? Ini sakit,” keluh Reino dalam desisan pelan.
“Itu karena mulutmu sangat lancang.” Lydia ikutan mendesis karena tidak ingin mengganggu fokus para dokter.
“Tapi bukan berarti kau bisa mengatakannya sekeras itu. Ini di ruang operasi dan mereka sedang mengeluarkan anakmu.”
Reino kembali terkekeh mendengar sang istri, tapi hanya sebentar saja karena detik berikutnya tangisan bayi sudah terdengar. Itu membuat pasangan suami istri itu mendonggak, walau Lydia agak kesulitan.
“Bolehkah aku melihatnya?” Lydia langsung bertanya, tanpa bisa dia cegah.
Jangankan Lydia. Reino saja sudah berkaca-kaca mendengar suara tangisan itu. Tangisan yang memekakkan telinga, tapi juga terdengar begitu indah.
__ADS_1
“Biar kami bersihkan dulu ya.” Si perawat menjawab dan segera membawa si bayi besar pergi. Dari jauh pun Lydia tahu kalau bayinya memang besar.
“Apa dia tidak terlalu besar untuk anak perempuan?” tanya Lydia tidak lagi terlalu peduli dengan yang dilakukan dokter pada perutnya.
“Tentu saja tidak karena dia akan jadi model. Sepertinya tingginya cukup untuk jadi model,” ucap Reino penuh percaya diri. “Lagi pula kalau sudah besar dia pasti bisa diet.”
“Kenapa kau sudah menentukan karir anakmu?” Lydia memutar bola matanya dengan gemas.
“Aku kan tukang ramal,” jawab Reino kini berdiri dari tempatnya duduk, bersiap menyambut putri mereka yang sudah bersih.
“Kita akan inisiasi menyusu dini dulu ya. Mungkin sekitar dua puluh atau tiga puluh menit.” Si perawat mengatakan itu, sembari meletakkan si bayi di dada Lydia yang sudah tak tertutupi apa pun. “Nanti bayinya jangan dibantu ya.”
“Hai, Mel.” Reino berbisik pelan, mencoba menyentuh tangan mungil bayi merah itu.
“Mel? Kenapa Mel?” tanya Lydia heran dan tak lagi terharu. “Bukannya kau ingin memberi nama Aurora?”
“Aurora juga cantik, tapi aku lebih memilih Melody. Suaranya tangisannya terlalu indah.” Lelaki yang baru saja menjadi ayah itu tersenyum melihat bayinya yang tengah menggeliat mencari sumber makanan.
“Kau membuatku ingin menangis.” Lydia sudah cemberut.
“Kenapa? Apa namanya jelek?” Reino agak bingung mendengar istrinya.
“Tidak. Justru bagus. Sangat bagus malah.” Lydia dengan cepat menghapus air yang membasahi sudut matanya.
__ADS_1
“Selamat datang di dunia Melody Andersen,” bisik Reino pelan, kemudian mengecup jemari mungil anaknya.
***To Be Continued***