Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Pernyataan


__ADS_3

“Lydia, apa yang kau …” Ucapan Reino terpotong ketika sang istri memintanya diam, dengan menaikkan telapak tangan.


Bukan hanya meminta suaminya diam, tapi tangan Lydia yang satunya ikut bergerak menutup mulut. Perutnya tiba-tiba saja berputar dan asam lambungnya terasa naik sampai kerongkongan. Dia ingin muntah.


“Sayang?” Reino mendekat dengan wajah khawatir.


Tanpa bisa berkata-kata, Lydia bergegas mengangkat tiang infusnya. Berat, tapi dia perlu segera ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.


“Lydia.” Reino segera mengikuti dengan wajah panik, diikuti oleh tatapan Mary dan Clarissa.


Mary beranjak masuk, tanpa dipersilakan. Dia melewati Clarissa yang tampak tak senang, bahkan sudah memaki. Namun perempuan itu seolah tuli dan pergi melihat Lydia dan Reino.


Di dalam kamar mandi yang lebih luas dari kamar mandi di ruang rawat inap biasa, Reino memegangi rambut panjang istrinya. Dia juga terlihat telaten memijat tengkuk Lydia, sementara perempuan itu muntah. Itu membuat Mary cemburu.


Ya. Cemburu karena dulu dia tak pernah mendapat perlakuan seperti itu dari suaminya, pun dari Reino yang masih dia cintai.


“Sudah kubilang pergi dari sini.” Clarissa yang kesal karena tidak dipedulikan, kini menarik Mary dengan kasar.


“Ah, maaf.” Mary tersentak dan segera mundur.


Melihat ada pengganggu, Reino segera menutup pintu kamar mandi. Dia tak ingin sang istri terdistraksi dengan kehadiran perempuan gila yang mengaku punya anak dengannya.


“Kenapa pintunya ditutup?” Lydia bertanya dengan suara lemah.


“Karena aku tahu kau pasti muak melihatnya,” jawab Reino disertai dengan ******* napas pelan. “Maaf.”


“Untuk apa kau minta maaf?”


“Karena membuatmu merasa khawatir. Karena masa laluku yang jelek,” jawab Reino tegas. Dia tak bisa memungkiri kesalahannya yang itu.


“Sebaiknya kita keluar saja.” Lydia beranjak mencuci mulutnya yang terasa asam. “Sepertinya Mama mulai tidak sabaran menghadapi perempuan itu.”

__ADS_1


Reino kembali mendesah. Dia juga bisa mendengar bagaimana mamanya terdengar mendebat Mary. Suaranya tidak keras, tapi tetap terdengar dari dalam kamar mandi.


“Itu anak Reino.”


Baik Lydia maupun Reino bisa mendengar bagaimana Mary bersikeras soal hal itu. Membuat Lydia ingin kembali muntah, tapi berusaha dia tahan. Dia harus berperang dulu melawan Mary.


“Buktikan,” gumam lydia pelan, setelah berhasil menekan rasa mualnya. “Buktikan kalau itu anak Reino.”


“Untuk apa aku membuktikannya?” tanya Mary mulai terlihat marah. “Kau kan sudah melihatnya. Jelas dia anak Reino.”


“Aku tidak percaya kalau itu bukan tes DNA.”


“Kalau begitu aku juga bisa mengatakan hal yang sama denganmu.” Tiba-tiba saja Mary menyerang dengan kata—kata. “Anak yang kau kandung itu bukan anak Reino.”


“Jaga mulutmu,” hardik Reino menunjuk wajah Mary dengan berang. “Lydia bukan pelacur sepertimu.”


“Aku bukan pelacur.” Mary balas menghardik.


Mary mengeraskan rahangnya. Dia sungguh ingin menampar mulut Reino yang lancang itu, tapi dia tahu yang dikatakan pria itu ada benarnya. Dirinya memang tidur dengan beberapa pria dan menerima hadiah untuk itu.


“Tapi aku tidak menjual diriku,” geram Mary pelan. “Aku tidak pernah benar-benar meminta hadiah itu.”


“Kami tidak mau peduli dengan masa lalumu.” Kali ini Clarissa yang berbicara. “Yang kami inginkan hanya bukti kalau anak yang kau sebut itu adalah benar cucuku.”


Mary terdiam. Dia juga sebenarnya tahu kalau ini adalah satu-satunya cara, tapi dia sendiri ragu. Mary benar-benar ragu status anaknya itu. Apalagi ternyata itu bukan anak dari mantan suaminya, kemungkinan itu bukan anak Reino juga cukup besar.


“Tidakkah kau mempercaiku?” tanya Mary pada Reino. Berusaha untuk mencari simpati.


“Tentu saja tidak.” Reino menjawab dengan tegas.


Sekali lihat saja dia tahu kalau anak Mary bukan anaknya. Bagi Reino tes DNA ittu tidak perlu, tapi jelas dia butuh bukti agar Lydia mau percaya. Dia tak butuh orang lain percaya dan hanya perlu sang istri untuk percaya.

__ADS_1


“Aku teramat sangat yakin itu bukan anakku,” lanjut Reino, berusaha memapah istrinya untuk pergi duduk di sofa. “Lagi pula kalau kau yakin itu anakku, kau tidak perlu takut untuk melakukan tes.”


Lagi-lagi kalimat reino menampar Mary. Dia tak bisa berkutik lagi ketika mendengar itu, namun sisi dirinya yang lain menjadi serakah.


Mary menyukai Reino sejak awal. Dia memberikan segalanya untuk pria itu. Dirinya memang pernah melakukan beberapa kesalahan saat berpacaran dengan Reino, tapi itu tidak disengaja. Karenanya Mary ingin kembali setelah berhasil cerai.


“Aku masih mencintaimu,” bisik Mary pelan dan bergetar. Mata beningnya pun terlihat berkaca-kaca.


Pernyataan cinta yang sangat mengharukan, tapi tidak bagi Lydia. Kalimat itu terdengar bagai kutukan baginya. Membuat perut perempuan hamil muda itu kembali terputar.


“Sayangnya aku tidak.” Jawaban dari Reino tiba-tiba saja membuat gejolak di perut Lydia mereda. Apalagi setelah mendengar kelanjutannya.


“Dari awal aku sudah bilang padamu kalau jangan terbawa perasaan. Dari awal aku sudah mengatakan kalau hubungan kita hanya di atas ranjang dan jangan pernah mengharap lebih sampai kapanpun.”


Mary tertegun mendengar kalimat itu. Dia sama sekali sudah melupakan hal yang pernah Reino katakan itu. Kalimat yang bahkan tidak mampu menjauh dari seorang Reino Andersen yang begitu mempesona.


“Lalu kenapa kau menikahinya?” tanya Mary dengan suara lesu, sambil menattap Lydia.


“Kau masih bertanya?” Reino mendegkus. Dia merasa perempuan di depannya sudah gila.


“Dia tidak cantik. Tubuhnya juga kurus,” sambung Mary tak peduli jika dia terkesan menghina.


“Karena dia hebat,” jawab Reino tanpa ragu. “Hebat dalam segala hal dan jelas melebihimu. Yang paling penting aku menikah karena aku ingin menghabiskan hidupnya hanya dengan dia.”


Clarissa tersenyum mendengar kalimat sang putra. Bukan hanya dia, tapi juga Lydia. Ibu hamil itu hanya tidak sadar kalau dirinya sedang senang karena mendapatkan pernyataan cinta dari sang suami.


“Sekarang untuk mempercepat proses, bawa datang anakmu untuk tes.”


“Bagaimana kalau dia adalah anakmu?” tantang Mary masih berharap Reino akan kasihan.


“Aku akan membiayainya, tapi hanya itu. Tak ada yang lain.”

__ADS_1


***To Be Continued***


__ADS_2