Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Antar Aku


__ADS_3

“Lydia, Sayang.” Reino memanggil istrinya semesra mungkin. “Apa kau sudah tidur?”


Lydia bisa merasakan kehadiran sang suami yang sangat dekat dengannya. Belaian lembut di rambut pun terasa membuai, sekaligus mebuat Lydia ingin muntah.


Tidak ingin berbicara dengan suaminya, Lydia memutuskan untuk pura-pura tidur. Tentu saja sekalian menahan rasa mualnya sekuat tenaga.


“Sepertinya dia sudah tidur. Biarkan saja,” bisik Clarissa tidak ingin mengganggu tidur menantunya.


“Apa kata dokter?” Reino masih bertanya, walau tadi sempat dijelaskan oleh Hadi.


“Gak apa-apa, tapi harus dijaga biar tidak stress. Soalnya stres bisa memicu mual.”


Reino mendesah mendengar kabar itu. Untuk saat ini itu adalah hal yang kelas tidak mungkin. Setidaknya sampai dia bicara dengan sang istri.


Sebenarnya Reino juga tak tahu apa yang dibicarakan Mary sampai istrinya seperti ini. Namun satu yang pria itu yakini, Mary pasti berbicara hal-hal tidak masuk akal, bahkan mungkin menjebaknya.


“Mama gak apa-apa jagaiin Lydia dulu?” tanya Reino dengan raut wajah datar.


“Gak masalah sih. Memangnya kenapa? Clarissa balas bertanya.


“Aku perlu pergi sebentar. Ada urusan penting.”


Lydia yang memunggungi sang suami, ingin sekali langsung memukul pria itu. Ini sudah tengah malam. Memangnya Reino ada urusan apa semalam ini? Apakah bertemu Mary?


“Urusan penting? Jam segini?” tanya Clarissa mewakili apa yang ada di pikiran Lydia.


“Sayangnya ya. Ada sesuatu yang harus kubereskan agar bisa hidup tenang.”

__ADS_1


Lydia nyaris saja mendengus. Mungkin lebih terpatnya Reino ingin pergi menuntaskan hasrat dengan Mary. Setidaknya itu yang Lydia pikirkan.


“Dasar anak ini. Memangnya Mama bisa melarangmu?” Clarissa mengeluh, tapi tetap membiarkan anaknya pergi kareba Reino memang tidak akan mau mendengar.


“Aku hanya sebentar.” Lydia bisa merasakan Reino mengecup kepalanya dengan ringan.


Setelah merasakan pintu kamar tertutup, Lydia membuka mata. Kemudian setelah beberapa menit berlalu, dia bangun dari posisi tidurnya.


“Eh, Lydia. Kok bangun sih, Nak? Butuh sesuatu?” tanya Clarissa lembut sekali.


“He … he … he … Lydia lapar ma. Boleh minta tolong dibelikan makanan gak?”


“Oh, tentu saja. Mau makan apa?” tanya Clarissa tentu saja berniat untuk menyanggupi apapun yang diinginkan sang menantu.


“Tapi aku mau Mama yang belikan. Apat tidak masalah?” tanya Lydia terlihat ragu-ragu.


“Coba sebutkan dulu, nanti Mama coba carikan.”


“Oh, gampang. Bisa ditinggal sendirian kan?”


Tentu saja Lydia mengangguk antusias. Clarissa pun dengan senang hati pergi untuk memenuhi ngidam menantunya. Namun siapa sangka, ketika Clarissa kembali, dia tak menemukan Lydia di manapun.


***


Setelah mertuanya pergi, Lydia segera menyelinap keluar kamar. Dia pergi ke kamar Pak Hadi untuk meminta bantuab, tapi siapa sangka malah mendengar percakapan telepon yang tak seharusnya.


“Baik, Pak. Akan segera saya carikan alamat Mary. Ya, saya tahu. Saya tidak akan memberitahu Nyonya Muda.”

__ADS_1


Tak perlu diberitahu pun, Lydia tahu siapa yang Hadi telepon. Itu pasti Reino.


Kalau yang mereka bicarakan hanya tentang bisnis atau hal lain, Lydia mungkin akan lega. Namun ini jelas hal yang paling ditakutkan Lydia.


“Sampai kapan anda akan berdiri di sana?”


Suara bariton yang dalam itu membuat Lydia terlonjak. Pintu yang tadinya hany terbuka sedikit itu, kini membuka memperlihatkan yang menginap di sana.


“Kenapa Mbak Lydia berdiri di sini?” Hadi jadi sedikit menurunkan kewaspadaannya begitu melihat siapa yang ada di sana.


“Aku mendengar apa yang Pak Hadi bicarakan,” jawab ibu hamil itu jujur.


“Apapun yang anda dengar, tolong jangan salah paham dulu.” Hadi menggeser tubuhnya agar Lydia bisa masuk, tapi perempuan itu bergeming.


“Aku ingin diantar.” Tiba-tiba saja Lydia punya ide.


“Ya?” Hadi bingung dengan permintaan nyonya mudanya.


“Aku ingin diantar ke tempat Reino dan perempuan itu, tapi jangan bicarakan apapun pada Reino.”


Sebenarnya bukan ide yang cemerlang, tapi dia ingin melakukan ini. Setidaknya kalau Reino benar-benar ingin kembali dengan mantannya, maka Lydia harus melihatnya dengan mata kepala sendiri.


“Pak Reino ke sana untuk menyelesaikan masalah, jadi tolong jangan berpikir yang tidak-tidak. Itu tidak baik untuk janin anda.”


Tentu saja Hadi menasehati. Dia tak ingin mendapat masalah jika ada apa-apa debgan Lydia. Namun sepertinya perempuan itu tidak peduli.


Lydia ingin memastikan apakah suaminya benar-benar masih terikat perasaannya dengan perempuan bernama Mary itu. Keputusannya sudah bulat.

__ADS_1


“Antar aku ke sana sekarang juga.”


***To Be Continued***


__ADS_2