
“Hanya ini saja yang bisa kalian pikirkan untuk produk baru kita?” tanya Reino dengan nada rendah dan tatapan mata tajam.
Reino saat ini sedang rapat dengan tim pengembangan untuk membahas rancangan produk baru perusahaan mereka. Sebagai perusahaan yang bergerak dalam bidang F&B, tentunya mereka harus selalu melakukan inovasi dan mengikuti tren.
Dan hasil rapat hari ini sebenarnya sedikit mengecewakan bagi Reino. Dia mengharapkan sesuatu yang lebih spektakuler untuk produk baru mereka, tapi tim hanya membawa pengembangan produk lama yang dikemas dengan lebih menarik.
“Aku menggaji kalian untuk melakukan riset agar produk kita tidak ketinggalan dengan yang lain. Aku ingin produk baru, bukan sekedar produk lama yang ditingkatkan kualitasnya,” cecar Reino tak bisa lagi menahan amarahnya.
“Selama aku menjabat di sini, belum ada satu pun ide produk baru yang kalian berikan.”
Reino melemparkan tumpukan kertas yang sedari tadi dia pegang ke atas meja. Hal itu tentu membuat semua orang tersentak. Kecuali Lydia dan Hadi yang duduk agak jauh dan merapat ke dinding, di sisi kanan Reino.
Hembusan napas pria blasteran itu terdengar, ketika dia menoleh ke sebelah kanannya dengan gusar. Saat itu lah dia melihat Lydia. Perempuan itu sedang menggigit bibir bawahnya dan membuat Reino menggeram.
Untung saja sang CEO melihat ekspresi wajah sekretarisnya itu. Perempuan yang sangat ramping itu terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu.
“Aku ingin mendengar pendapat sekretarisku tentang hal ini,” tiba-tiba saja Reino merasa penasaran dengan isi pikiran Lydia.
“Eh? Saya, Pak?” Lydia sedikit terkejut dengan kalimat bosnya.
“Ya. Kau kan sudah beberapa kali berhasil menjadi pahlawan di perusahaan kita. Jadi kali ini aku ingin mencoba untuk mendengar apa yang ada dipikiranmu soal produk kita? Atau mungkin kau ada ide brilian yang sebrillian sepak terjangmu selama ini?”
Lydia langsung meringis mendengar pujian yang berlebihan itu. Apalagi sekarang semua orang menatapnya. Ada yang menatap sinis, ada pula yang menatap dengan tatapan penasaran.
Biar bagaimanapun, pujian Reino bukan tanpa alasan. Lydia memang sudah dua kali menyelamatkan perusahaan dari kerugian yang lumayan besar.
“Ayo, kemarilah.” Reino mengibaskan tangan meminta sekretarisnya mendekat. “Berdiri di dekatku dan katakan apa isi pikiranmu.”
__ADS_1
Dengan amat ragu-ragu, Lydia berdiri dari tempatnya duduk sedari tadi. Hadi yang duduk di sebelahnya pun memberi senyum sebagai tanda dukungan.
“Bicaralah,” pinta Reino dengan lebih lembut, ketika melihat sekretarisnya masih terllihat ragu-ragu.
“Ehm ... Terima kasih sebelumnya atas kesempatan yang diberikan,” seru Lydia masih ragu-ragu.
“Sebenarnya saya memang sedang memikirkan beberapa ide yang mungkin cocok untuk menjadi produk baru perusahaan kita,” Lydia memulai dengan gugup.
Lydia adalah tipe orang yang agak mudah gugup ketika dipelototi terlalu banyak orang. Dan saat ini dia merasa ada terlalu banyak orang di dalam ruangan itu. Selain tim pengembangan produk, ada juga orang dari tim produksi. Dan semuanya menatap dirinya dengan tajam.
Wajar saja sebenarnya. Biar bagaimana pun, Lydia terkesan seperti mengambil alih pekerjaan mereka. Walau tadi ada yang penasaran, tapi tidak berarti mereka senang jika pekerjaannya diambil alih oleh orang lain yang tidak berada dalam satu divisi.
“Menurut tren belakangan ini, gaya hidup vegetarian dan vegan makin berkembang luas di negara kita. Jadi menurut saya akan lebih baik jika kita bisa mengembangkan sesuatu yang berhubungan dengan itu,” Lydia mulai berbicara.
“Saya pernah membaca artikel, katanya restoran yang menyajikan menu plant based kini makin menjamur. Dari 50 restoran di tahun 90 an, kini menjadi ratusan, bahkan ribuan restoran. Tapi ...”
“Yah, memang sebagian besar orang memulai hidup vegan karena ingin menjadi sehat. Tentu makanan yang siap saji tidak akan menjadi pilihan mereka, tapi tidak berarti mereka tidak butuh.”
“Orang-orang kantoran seperti kita sudah ada yang memulai gaya hidup ini, tapi mereka biasanya terkendala oleh rutinitas yang begitu padat, sampai memesan makanan online pun terasa ribet. Jadi saya pikir, kenapa tidak kita menyiapkan makanan yang mungkin bisa menolong mereka.”
“Yah, misalnya saja makanan instan. Tentu saja dengan standar yang sehat. Walau pastinya mahal, tapi bukan tidak mungkin dilakukan. Saya rasa itu saja.”
Lydia kini menatap Reino. Dia merasa sudah cukup banyak bicara dan sekarang saatnya sang bos mengambil alih. Masalahnya pria itu menatapnya, nyaris tanpa berkedip. Reino terlihat seperti pria yang sedang mengagumi wanitanya.
Dan sesungguhnya, memang itu lah yang Reino lakukan. Dia kagum dengan pola pikir sekretarisnya. Dirinya yang lama hidup di luar negeri saja tidak bisa memikirkan ide ini. Padahal di luar lebih banyak lagi orang yang telah mengaplikasikan pola hidup vegan. Bagaimana bisa Lydia memikirkan hal ini?
Reino baru mengalihkan pandangannya, setelah semenit beradu tatap dengan sang sekretaris. Kini dia memandang jajaran orang yang berdiskusi dengan cara berbisik. Dari ekspresi wajah mereka, sepertinya ini memang ide yang tidak buruk.
__ADS_1
“Oke. Kurasa itu ide yang lumayan bagus. Tapi apa ada ide produk apa yang harus diproduksi?” Reino bukan hanya bertanya pada Lydia, tapi juga semua orang.
“Yang paling mudah sih mie instan, Pak,” Lydia yang menjawab. “Kaldu jamur juga sepertinya ide yang bagus. Walau sebenarnya dulu kita hampir pernah membuatnya.”
“Tapi itu semua kan sudah pernah dibuat pesaing kita. Dan seperti yang kita tahu mereka semua bisa dibilang gagal,” seorang peserta rapat bertanya.
“Ya, memang benar. Tapi saya rasa itu hanya karena pemasarannya masih kurang,” Lydia menjawab dengan percaya diri.
Setidaknya untuk bagian ini, Lydia memang merasa seperti itu. Pesaing mereka kurang melakukan promosi dan promosinya bisa dibilang biasa saja.
“Saya pikir kita bisa merubah strategi pemasaran. Mungkin dengan menggaet beberapa publik figur yang sudah mencoba gaya hidup ini. Apalagi jika publlik figurnya sudah berumur, tapi masih terlihat begitu awet muda.”
“Dengan cara seperti itu orang-orang mungkin akan berpikiran untuk mencoba produk instan yang sedikit lebih sehat. Biayanya mungkin mahal, tapi kalau untungnya setara, kenapa tidak dicoba?”
Reino menyandarkan punggungnya ke kursi. Dia menatap sang sekretaris yang masih berdiri di sebelahnya dengan tatapan takjub. Sebagai pemimpin perusahaan jujur saja dia merasa kalah.
Yah, walau tadi Reino sempat memikirkan hal yang serupa dengan Lydia. Tapi pada kenyataannya dia ragu untuk mengutarakan pikirannya. Padahal biasanya dia tak pernah ragu dalam hal seperti ini.
“Oke,” Reino mengangguk puas.“Kurasa rapat ini akan berakhir di sini. Kalian bisa mulai mencoba untuk mengembangkan produk yang dimaksud. Kalau bisa dalam waktu secepat mungkin.”
Reino berdiri dari tempat duduknya. Hadi yang duduk dan memperhatikan sejak tadi juga ikut bangkit, sementara Lydia dengan sigap membereskan berkas yang berhamburan di meja tempat bosnya duduk tadi.
“Dan kalian semua bisa melaporkan perkembangan ini pada Lydia. Dia yang akan menjadi penanggung jawab untuk proyek ini,” tambah Reino sebelum meninggalkan ruangan.
Kalimat itu membuat semua orang kembali menatap Lydia. Sebagian besar jelas menatap dengan kesal dan membuat Lydia meringis. sepertinya dia akan mendapat makin banyak haters.
***To Be Continued***
__ADS_1