Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Setiap Hari


__ADS_3

“Lydia kan?”


Lydia berbalik ketika mendengar namanya. Dia cukup terkejut melihat Viktor ada di minimarket kecil seperti ini. Lydia pikir orang kaya dengan gaya parlente seperti Viktor hanya akan mengunjungi supermarket besar yang mewah.


“Sepertinya ini masih jam kerja deh. Kok kamu bisa ada di sini?” tanya Viktor dengan kening berkerut.


“Saya sedang kunjungan lapangan, Pak. Mau mengurusi beberapa komplain yang belum terselesaikan,” jawab Lydia dengan ringisan pelan.


“Kamu yang turun tangan sendiri? Kiraiin ada tim untuk ini?”


“Karena komplainnya gak kunjung selesai, saya disuruh turun tangan langsung.”


Viktor mengangguk mengerti. Dan karena Lydia mengatakan masih menunggu manajer toko, Viktor mengajak Lydia untuk menemaninya belanja. Dan karena memang tidak ada yang dia lakukan selagi menunggu, Lydia mengiyakan saja.


“Aku tidak menyangka kamu akan punya hubungan seperti itu dengan Reino.”


“Sorry?”


“Saat kalian tertangkap saat razia.”


“Ah, itu.” Lydia meringis mendengar kalimat Viktor.


Lydia ingin menjelaskan sesuatu, tapi dia enggan memberitahukan keadaannya pada Viktor. Apalagi karena sepertinya Reino tidak memberitahukan apa pun pada sahabat sekaligus kuasa hukum perusahaan itu. Karena itu pula Lydia berniat untuk menyembunyikan hal ini dari para sahabatnya.


“Jadi kalian beneran pacaran?” tanya Viktor ingin tahu.


“Kira-kira seperti itu,” jawab Lydia kembali meringis.


Viktor terlihat merenung dan memikirkan sesuatu. Itu berlangsung selama beberapa menit, sebelum akhirnya pria itu memberi nasihat pada Lydia.


“Aku rasanya perlu memperingatkanmu.”


Lydia diam dengan kening berkerut, menunggu sambungan kalimat Viktor.


“Aku memang sahabat Reino, tapi aku rasa kamu perlu tahu kalau dia tidak pernah serius pada wanita mana pun. Selama ini tidak pernah ada seorang wanita pun yang berhasil membuat Reino jatuh cinta.”


“Saya masih tidak mengerti.”


“Jangan mengharapkan Reino akan serius denganmu, apalagi soal menikah. Biasanya kalau bosan dia akan meninggalkan wanitanya tanpa ragu,” jawab Viktor terlihat sangat serius.

__ADS_1


“Sorry harus memberitahu hal ini. Soalnya aku merasa kamu tidak seperti wanita yang biasanya cukup dekat dengan Reino. Aku bisa merasakan kamu perempuan baik yang harusnya bisa mendapatkan pria yang baik.”


“Apa Pak Viktor sedang mempromosikan diri sendiri?” tanya Lydia dengan kening makin berkerut.


Viktor tertawa keras mendengar pertanyaan polos Lydia. Perempuan di depannya memang tidak seperti wanita kegatelan pada umumnya.


“Aku juga tidak sebaik itu, tapi setidaknya aku masih memikirkan untuk menikahi seseorang.” Viktor mengedikkan bahu dengan santainya, membuat Lydia tertawa.


"Baiklah. Akan saya simpan saran dari Pak Viktor untuk direnungkan nanti. Dan terima kasih dengan peringatannya," Lydia membalas setelah tawanya mereda.


"Kamu tidak marah?" Viktor terlihat sedikit heran.


"Untuk apa saya marah?"


Pertanyaan balik dari Lydia membuat pengacara muda itu terhenyak. Selama ini, ketika Viktor menasehati seorang perempuan tak ada yang pernah berekaksi setenang Lydia.


Entah perempuan itu akan marah karena merasa terhina. Beralih menggoda Viktor. Bahkan ada yang terang-terangan mengakui hanya mengincar harta Reino. Baru Lydia saja yang mau menerima sarannya.


Viktor masih ingin mengatakan sesuatu, tapi manajer toko sudah datang. Dan tentu saja Lydia harus menyelesaikan pekerjaannya.


***


Rupanya anak marketing yang menangani jaringan minimarket ini agak kasar. Bukan hanya sekedar kasar, tapi katanya pihak Linded bahkan sampai memaki.


Itu baru komplain dari minimarket kecil saja, belum dari distributor besar. Itu malah lebih parah lagi. Katanya selain ada cekcok dengan pihak distributor, pernah ada kejadian penipuan yang mengatas namakan PT. Linder. Tidak banyak dan sudah lama, tapi tetap saja ditagih.


“Katanya salah satu penagih kita datang menagih dengan meminta uang tunai, tapi rupanya uang itu tidak disetorkan ke kasir kita. Dia mengantongi uang itu dan orangnya sekarang sepertinya sudah melarikan diri,” lapor Lydia pada Reino setelah seharian berkeliling.


“Lalu dari pihak sales marketing kita juga pernah terlibat cekcok dengan pihak sana karena masalah barang kadaluwarsa. Ada juga yang pernah berlaku kasar pada pemilik mini market, hanya karena pihak sana tidak sedang ingin mengambil barang. Katanya sales marketing kita enggan melayani mini market kecil dengan cabang yang juga hanya sedikit.”


“Lalu ....”


“Cukup,” hardik Reino sudah pening mendengar penuturan Lydia sejak beberapa menit lalu.


Dari sekian banyak komplain yang masuk, semuanya bisa dibilang karena kesalahan karyawannya. Tapi yang jadi masalah kenapa semuanya tidak ada yang sampai ke telinga Reino. Kalau komplainnya sudah selesai sih tidak masalah, nah ini semuanya belum terselesaikan.


Bagaimana bisa? Apa ada yang salah dengan manajemennya atau bagaimana sih? Padahal Reino merasa semua sudah sesuai dengan jalurnya.


Semua pertanyaan itu membuat Reino memijat kedua pelipisnya dengan cukup keras. Rupanya hampir setahun mengambil alih perusahaan ini, tidak membuat PT. Linder menjadi lebih baik.

__ADS_1


“Pak Reino mau saya ambilkan aspirin?” tanya Lydia sungguh-sungguh.


“Aku punya obat yang lebih baik dari aspirin,” gumam Reino agak pelan.


“Apa itu, Pak? Nanti akan saya carikan.”


“Having ***. Right now.”


Lydia refleks menaikkan kedua alisnya mendengar jawaban Reino. Dia sama sekali tidak menyangkan kalau bosnya itu akan menyebut hal vulgar, ketimbang memberitahu nama obat sakit kepala yang ampuh. Dan tentu saja Lydia segera menolak.


“Maaf, Pak. Ini masih di kantor.”


“Ini sudah lewat jam pulang kerja,” balas Reino tidak mau mengalah.


“Baru lewat sepuluh menit. Lagipula cukup banyak orang yang bekerja lembur. Bukan tidak mungkin ada orang yang curiga jika saya terlalu lama meninggalkan tempat saya,” tegas Lydia.


“Kalau begitu kita bisa check in di hotel. Ada kan yang dekat sini?”


Lydia langsung menggeram mendengarnya. Apalagi ketika Reino sudah melonggarkan dasinya dengan cara paling seksi yang pernah Lydia lihat. Tapi sekali tidak tetaplah tidak.


Rasa sakit setelah dijebol untuk yang kedua kalinya, nyatanya lebih sakit dari yang pertama. Sudah jelas karena kali kedua akhirnya Lydia berdarah. Untung saja kemarin malam ada razia dan Reino mau mengalah dan tidak lanjut lagi, kalau tidak bisa dipastikan Lydia tidak akan bisa jalan hari ini.


Ini saja masih terasa sedikit perih. Dan itu Lydia tidak ingin menerima tawaran Reino untuk saat ini. Lebih baik dia istirahat satu atau dua hari lagi jika tidak ingin lukanya bertambah parah.


“Maaf, Pak. Bagian bawah saya masih terasa sedikit perih. Tolong pengertiannya,” pinta Lydia lebih halus. Dia tahu Reino tidak bisa dikerasi.


“Aku akan pelan-pelan kali ini,” jawab Reino menatap Lydia dengan tatapan yang lebih tajam dan intens dari yang biasanya.


“Saya mohon, Pak. Dengan ukuran punya Pak Reino, pasti akan tetap terasa perih walau pelan,” balas Lydia dengan wajah memerah sempurna.


Sungguh. Lydia sama sekali tidak ingin membahas masalah soal ukuran, tapi rasanya tidak bisa. Polar Bear itu harus sedikit disadarkan, walau Lydia yang pada akhirnya merasa malu. Tapi bukannya mengerti, pria itu malah jadi besar kepala.


“Ya. Aku tahu fisikku memang sempurna. Bahkan ‘juniorku’ pun membanggakan.”


Oh, God. Lydia harus mencari cara untuk lolos. Dia tidak mau lembur tiap hari.


“Tapi, Pak. Saya pernah membaca artikel kesehatan. Katanya tidak baik melakukan itu setiap hari. Nanti cairannya bisa jadi encer dan tidak ada gunanya lagi,” seru Lydia asal saja.


***To Be Continued***

__ADS_1


__ADS_2