Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Menyesal


__ADS_3

Lydia mulai merasa insecure. Sudah beberapa hari dan Reino masih belum meminta ‘jatahnya.’


Sesuatu yang amat sangat perlu ditakutkan Lydia karena suaminya adalah pria yang aktif secara seksual. Lydia takut kalau pada akhirnya Reino memilih mencari perempuan bayaran untuk menuntaskan hasrat karena dirinya belum bisa bekerja keras.


“Ayolah Lyd! Bisa aja kan Reino benar-benar sedang menahan diri. Jangan pikiran negatif dulu deh,” keluh Vanessa dari sambungan telepon.


“Aku gak percaya. Aku akan lebih tenang kalau dia izin nonton film porno, dari pada diam seperti ini.”


“Lalu sekarang kau mau apa?” tanya Cinta terdengar sedikit kesal juga. “Kau mau bermain dengan suamimu sampai keguguran?”


“Astaga Ta! Amit-amit deh.”Lydia segera mengetuk mejanya dengan keras untuk mengusir kesialan.


“Ya abis gimana dong?”


“Maksudku tuh … kalian bisa gak sih bantu aku membuntuti Reino gitu?” tanya Lydia dengan raut wajah serius.


“Excuse me? Apa kau pikir kami tidak ada pekerjaan?” giliran Erika yang mengeluh.


“Kau kan bisa bertanya pada asisten pribadi suamimu.” Giliran Vanessa yang memberi ide.


“Pak Hadi itu digaji oleh Reino. Dia pasti lebih mendengar bosnya. Apa gak bisa minta tolong Kak Kaisar saja?”


Lydia yang terdengar sangat frustasi itu, membuat Erika mendesah. Akhirnya Erika mengatakan akan bertanya pada suaminya dulu.


Setelah mendapatkan janji Erika, dia merasa lebih tenang. Hanya sedikit saja karena dia tetap saja merasa tidak tenang. Pasalnya ini sudah lewat jam pulang kantor, tapi Reino belum kembali dari luar.


“Kau di mana?” tanya Lydia ketika Reino mengangkat teleponnya.


“Aku terjebak macet. Kalau kau ingin pulang, kau boleh pulang lebih dulu.”


“Sorry?”


“Kalau kau ingin pulang duluan, pulang saja, Sayang. Kau tidak perlu menungguku,” balas Reino dengan cepat.


“Kau baru saja mengusirku?” pekik Lydia benar-benar merasa kesal sekarang.


“Aku tidak mengusirmu loh. Aku hanya khawatir kau kelelahan dan kelamaan menunggu di kantor.”


“Kau bukan sedang cari alasan kan?”

__ADS_1


“Astaga Lydia! Mencari alasan apa sih maksudmu? Aku beneran terjebak macet dan ada Hadi juga di sini.”


“Oke. Fine. Bersenang-senanglah kalian berdua dan biarkan saja aku sendirian di sini.”


Lydia memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak. Sungguh dia tidak ingin marah, juga berusaha mempercayai ucapan sang suami, tapi rasanya sangat sulit. Apalagi Reino terdengar cuek.


Akhirnya Lydia memilih meninggalkan kantor. Langkahnya yang tergesa dan raut wajah kesal, membuat orang-orang yang masih tinggal di lantai 5 bertanya-tanya.


“Pulang sendiri?”


Pertanyaan itu membuat Lydia menoleh dengan wajah makin kesal. Pak Fendy yang merupakan wakil sang suami, bertanya dengan senyum tipis. Inginnya sih Lydia tak menjawab dan segera kabur, tapi lift baru saja turun dan dia harus menunggu lagi.


“Kak Reino masih terjebak macet,” jawab Lydia dengan seulas senyum yang dipaksakan.


“Ah, macet ya.” Pak Fendy mengangguk seolah mengerti. “Bukannya tadi meeting dengan supplier ya? Yang jam 3 siang?”


“Iya. Kok Pak Fendy tahu?” tanya Lydia bingung.


“Padahal harusnya gak lama ya. Aneh juga Pak Reino harus sampai pulang terlambat begitu.”


Lydia hanya bisa tersenyum kecut mendengar pernyataan itu. Mau tidak mau dirinya jadi makin curiga saja dengan sang suami yang mantan playboy itu. Pikiran soal player tobat, langsung menghampiri kepala Lydia.


“Bu Lydia, silakan.”


Ucapan Pak Fendy membuat Lydia terkejut. Rupanya lift yang ditunggu telah datang, bahkan pintunya sudah terbuka dan Pak Fendy sudah masuk di dalam. Pria paruh baya itu menahan pintu untuk Lydia.


“Duluan saja, Pak. Saya baru ingat kalau ada yang ketinggalan,” jawab Lydia dengan senyum merekah.


Dengan langkah tergesa, Lydia kembali berbalik ke ruangannya. Lebih tepatnya dia memilih masuk ke ruangan Reino. Lydia tak mau ada orang yang mendengarnya meneriaki Reino.


“Sudah di mana?” tanya Lydia berusaha menekan suaranya, ketika teleponnya diangkat.


“Ada apa sih denganmu?” tanya Reino terdengar gusar. “Ini sudah yang kelima kalinya kau meneleponku dalam 2 jam terakhir dan dengan pertanyaan yang sama.”


“Aku kan istrimu. Salah ya kalau seorang istri ingin mengetahui posisi suaminya sekarang ini di mana?”


“Tidak salah, tapi ini terkesan ... posesif?”


“Memangnya kenapa kalau aku posesif, Kak? Toh aku posesif pada tempatnya kan? Aku bukan posesif pada suami orang,” jawab Lydia mulai tersulut amarahnya.

__ADS_1


“Sekarang jawab aku. Kenapa meetingnya lama sekali? Bukankah harusnya cuma 1 jam saja? Kalau pun molor, bukannya paling lama juga 30 menit.”


Reino tidak menjawab. Walau Lydia tidak bisa melihatnya, tapi kini pria itu mengerutkan keningnya. Dia mencoba menerka apa yang dipikirkan sang istri, namun sayangnya Reino kurang menyukai hal itu.


“Kau mencurigaiku?” tanya Reino dengan pelan.


“Ya,” Lydia menjawab dengan tegas.


“Demi Tuhan! Setelah semua ini, kau masih meragukanku?”


“Setelah semua apa?” pekik Lydia kesal. “Kita menikah karena aku hamil. Andaikata aku tidak hamil, kau pasti masih main-main dengan perempuan lain kan?”


“Lydia. That’s enough.”


Reino tidak berteriak, tapi suara lelaki itu meninggi. Itu membuat Lydia tersentak dan merasa sakit hati, bahkan matanya sudah berkaca-kaca, siap mengalirkan air mata. Makin sakit hati lagi ketika Reino tidak meminta maaf.


“Dengar. Terserah apa yang ingin kau pikirkan, yang jelas aku tidak seperti itu. Persetan dengan pikiran negatifmu.”


Setelah cukup puas memaki, barulah Reino mematikan teleponnya. Sungguh kepalanya sudah sangat sakit dan kini sang istri membuatnya makin sakit lagi. Tidak mudah baginya untuk menjaga kewarasan, ketika istrinya belum bisa sembarangan disentuh.


“Maaf, Pak,” Hadi memanggil takut-takut.


“Apa lagi?” Sesuai dugaan, Reino membentaknya asistennya.


“Bu Lydia lagi hamil muda loh.”


“Aku juga tahu itu. Kau pikir aku kakek-kakek demensia?”


“Kalau anda tahu, pastinya anda tak akan membentak seperti tadi. Perempuan hamil itu cenderung sensitif, Bu Lydia pasti tersinggung,” balas Hadi pelan-pelan. Berharap sang tuan bisa mengerti.


“Dia mau tersinggung atau tidak, bukan urusanku. Toh aku tidak menyuruhya berpikiran negatif sepanjang hari.” Sayangnya Reino tidak mau mendengar nasihat asisten yang jauh lebih tua darinya itu.


“Asal jangan menyesal saja,” gumam Hadi yang masih bisa didengar Reino.


“Aku tidak akan menyesal,” hardiknya kesal. “Sekarang pulang saja. Dia pasti sudah pulang juga.”


Hadi sebagai asisten hanya bisa mengangguk saja dan memberi instruksi pada sopir. Yang penting dia sudah memberitahu. Reino mau mendengar atau tidak itu bukan lagi urusannya. Nanti dia akan tertawa kalau pada akhirnya Reino menyesali tindakannya kali ini.


Dan keinginan hadi seolah terdengar oleh Tuhan. Saat pulang ke rumah, Reino tidak mendapati istrinya di manapun. Itu jelas saja membuatnya panik.

__ADS_1


***To Be Continued***


__ADS_2