Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Bingung


__ADS_3

Reino dan Lydia membeku di tempat. Tak ada satu pun dari mereka akan menyangka Liani dan Kenzo akan datang. Dan kedatangan itu berarti kalau keluarga Lydia sudah tahu.


Liani dan Kenzo pun bergeming. Mereka hanya menatap Reino yang masih berdiri di pintu dengan tajam. Terutama Kenzo.


Adik kandung Lydia itu menatap Reino dari atas sampai bawah, seolah sedang meneliti mangsa yang hendak dia terkam. Dan memang itulah tujuan Kenzo.


“Brengsek,” geram Kenzo yang tiba-tiba saja maju dengan kepalan tangan menyasar wajah Reino.


Sayangnya. Belum juga kepalan tangan itu sampai di wajah Reino, kepalan tangan lain menahannya.


Itu adalah Hadi. Dia sedang melakukan tugasnya sebagai seorang pengawal. Namun Hadi tidak memperhatikan kaki Kenzo yang dengan segera menekuk dan menghantamkan tempurung lututnya tepat di bagain tersensitif Reino.


“ARGH,” teriak Reino keras dan membuat semua orang terkejut.


“Reino,” pekik Lydia menyibak selimutnya.


Lydia sudah menurunkan kedua kakinya, ketika Leo menahan bahunya seraya menggeleng. Dia ingin sekali membantu atau setidaknya mengecek keadaan pria itu.


“I’m fine,” geram Reino membungkuk dengan mata yang menatap Lydia sambil menahan sakit.


Mendengar itu, Hadi langsung meminta perawat yang datang karena erangan Reino untuk pergi saja. Setelahnya barulah Hadi memberikan bantuan pada Reino. Kali ini Hadi lebih memperhatikan Kenzo.


“Itu untuk kakakku,” geram adik Lydia itu terlihat marah.


“Kenzo,” tegur Lydia cukup keras. “Kamu apa-apaan sih?”


“Kak Lydia belain dia? Setelah apa yang bajingan ini lakukan?” tanya Kenzo berang sekali.


“I’am. Lagian memangnya apa yang dilakukan Reino?” Lydia balas bertanya dengan sama ngegasnya.


“Lydia cukup,” tegur Reino setelah merasa lebih baik.


Reino berjalan ke arah Lydia, setelah menolak bantuan Hadi. Dia langsung menaikkan kaki Lydia yang masih menggantung, kemudian menyelimutinya.


“Hei, jangan sentuh kakakku,” protes Kenzo keberatan dengan tingkah Reino.


“Ken, jangan berlebihan,” kini giliran Liani yang protes.

__ADS_1


“Mama juga membelanya?” tanya Kenzo dengan mata membulat.


“Ini bisa dan harus dibicarakan baik-baik. Tidak akan ada kesepakatan yang akan tercapai kalau semua hanya bisa marah-marah seperti kamu,” jawab Liani yang membuat Kenzo langsung bungkam.


Reino dan Lydia menatap wanita 40 tahunan itu. Liani terlihat sangat serius, ketika menatap dua orang itu dengan tatapan tegas.


Tatapan tegas Liani itu membuat Reino dan Lydia tahu kalau tidak ada lagi yang bisa mereka sembunyikan. Apalagi Clarissa dan Leo juga menatap mereka dengan tatapan yang sama.


“Apa kalian ingin mengatakan sesuatu?” tanya Clarissa dengan tenang.


Reino dan Lydia saling menatap. Reino bisa saja mengatakan semuanya dengan jujur, tapi ini bukan tentang dirinya saja. Dia butuh persetujuan Lydia yang akhirnya mengangguk setelah beberapa detik berlalu.


Dan akhirnya rahasia yang mereka simpan selama setahun lebih, sudah saatnya dibagikan bersama. Tidak diceritakan dengan sangat detil, tidak juga terlalu lengkap.


Oh, tentu saja bagian yang membuat mereka tidak sengaja tidur bersama tidak diceritakan. Dan hanya kontrak saja yang diakui Reino yaitu kontrak pertama soal pernikahan.


Lydia cukup terkejut karena kontrak kedua mereka tidak diungkap Reino. Padahal dia pikir Reino akan mengatakan segalanya. Dan jujur saja, Lydia bersyukur karena Reino merahasiakannya. Tapi soal perceraian, dia menceritakannya.


“Tunggu dulu,” pekik Clarissa menghentikan apa pun yang ingin dikatakan Reino. “Apa maksudnya kalian sudah bercerai secara resmi?”


“Ya maksudnya begitu. Jangka waktu kontraknya kan hanya setahun,” jawab Reino kelewat jujur.


“Tidur sekamar? Tapi selama ini Lydia tidak pernah berma...” Kalimat Liani terhenti begitu mengingat berapa kali anak sulungnya itu menginap di luar setahun belakangan.


“Nah, kan. Apa kubilang. Pria ini memang brengsek,” hardik Kenzo marah sekali.


“Ken, jaga mulutmu,” tegur Lydia tidak senang Reino dihina.


Menurut Lydia, seharusnya Kenzo berterima kasih pada Reino. Biar bagaimanapun pria itu sudah membantu melunasi utang keluarga mereka. Uang nyaris 2 milyar itu bukanlah sesuatu yang mudah di dapat.


“Kak Lydia masih belaiin lelaki bejat yang memaksa Kakak untuk memuaskan nafsunya?” tanya Kenzo dengan suara meninggi.


“Gak ada pemaksaan di sini Kenzo,” jawab Lydia dengan cepat.


Kenzo menatap kakaknya dengan tatapan tidak percaya, begitu pula dengan Liani. Bedanya, Liani masih bisa menutupi keterkejutannya dengan baik.


“Kurasa pembicaraan ini kita lanjutkan besok saja. Hari sudah malam dan saya rasa Lydia butuh istirahat,” seru Liani terlihat tenang.

__ADS_1


“Astaga, benar juga.” Clarissa menepuk keningnya pelan.


“Saya akan mengi...”


“Saya dan Kenzo yang akan menginap,” seru Liani memotong kalimat Reino.


Reino terlihat agak tidak suka dengan kalimat Liani, tapi dia tidak bisa melawan. Dengan sangat terpaksa, Reino meninggalkan Lydia. Itu pun setelah acara pandang memandang yang cukup lama dan diakhiri dengan Reino yang mengecup kening Lydia.


“Sekarang kamu ngomong yang jujur sama Mama,” tiba-tiba Lydia bersuara setelah keluarga Andersen pergi.


“Ngomong apa?” tanya Lydia yang sedang memakan camilan yang dibawa Kenzo.


“Kamu diapaiin sama Reino?”


“Maksudnya?” tanya Lydia makin bingung saja.


“Dia ngapain kamu? Dia maksa kamu untuk melayani dia atau apa?” tanya Liani terlihat makin serius, disertai dengan lirikan tajam Kenzo pada Lydia.


“Ma. Tadi rasanya Lydia sudah bilang. Gak ada pemaksaan sama sekali. Reino hanya menawari perjanjian dan aku setuju setelah memikirkannya beberapa saat.”


“Dan soal sekamar dan bermesraan,” Lydia menjeda kalimatnya untuk menemukan kalimat yang tepat. “Aku melakukannya tanpa paksaan sama sekali.”


“Kak. Mereka sudah gak ada di ruangan ini. Ngomong saja yang jujur,” sergah Kenzo kesal.


“Dari tadi aku sudah ngomong jujur. Apa sih yang membuat kalian berpikir aku gak jujur?” tanya Lydia agak tersinggung.


“Iya. Aku memang gak pernah punya pacar, tapi bukan berarti aku gak tahu apa-apa soal yang begituan. Sekali lagi, aku tidak pernah dipaksa.”


“Okay. Kalau begitu biar Mama ganti pertanyaannya. Apa yang membuatmu bersedia tidur dengan Reino?”


Lydia tidak langsung menjawab. Awalnya sih demi memenuhi kontrak saja. Tapi setelah beberapa kali, bukan hanya Reino saja yang ingin bercinta. Sesungguhnya Lydia pun ingin. Hanya saja Lydia terlalu gengsi untuk meminta duluan.


Masalahnya adalah Lydia tidak menemukan kalimat atau kata yang sesuai untuk menjawab pertanyaan ibunya. Apa yang membuat Lydia merindukan sentuhan Reino.


Bukan hanya itu saja yang jadi beban pikiran Lydia. Dia juga merasa sedikit aneh ketika Reino ditendang Kenzo tadi. Ada perasaan cemas dan panik. Ada perasaan tidak suka ketika melihat Reino terluka. Tapi kenapa?


Lydia sama sekali tidak mengerti perasaannya.

__ADS_1


“Lydia?” panggil Liani membuyarkan lamunan anaknya. “Apa kamu menyukai Reino?”


***To Be Continued***


__ADS_2