
“Sekarang buka.”
Lydia membeku ditempat ketika mendengar ucapan Reino itu. Dia amat sangat paham apa yang dimaksud pria itu Tapi karena saking gugupnya, Lydia malah bertanya balik.
“A... apa yang... dibuka?”
“Kau tahu apa yang kumaksud,” geram Reino terdengar jelas karena suara dari luar sama sekali tidak terdengar. Sepertinya ruangan itu benar-benar kedap suara.
Lydia yang masih saja gugup, membuat Reino merasa makin kesal saja. Dan karena wanita kurus itu masih berdiri dekat pintu, Reino memintanya mendekat hanya dengan gerakan tangan.
Dan entah apa yang terjadi, tubuh Lydia seperti bergerak sendiri. Pikirannya mengatakan dia tidak boleh mendekat, tapi kakinya melangkah dengan pelan untuk medekati Reino. Lydia berhenti tepat di selangkah di depan pria arogan itu.
“Buka,” perintah Reino sekali lagi.
Lydia ingin sekali menolak dengan berbagai alasan yang sudah dia rangkai di otaknya, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Dengan tangan bergetar, Lydia mulai menjangkau kancing kemejanya.
Reino menikmati gerakan gemetar Lydia sambil menopang dagu. Tangan yang menyangga wajah rupawan itu, disandarkan pada lututnya. Dia sama sekali tidak terganggu dengan Lydia yang gemetaran, sebaliknya Reino menikmatinya.
“Kemarilah,” perintah Reino begitu Lydia selesai. Cukup lama ditunggu, tapi Reino tidak keberatan sama sekali. Dia justru menikmati.
Refleks saja, Lydia menerima uluran tangan Reino. Pria itu menarik pinggang Lydia yang kelewat ramping, membuat Lydia refleks menaruh kedua tangan di bahu Reino. Kedua kaki Reino yang terbuka lebar, memerangkap tungkai Lydia.
Seluruh kancing kemeja Lydia sudah terbuka, tapi kain itu masih melekat ditubuhnya. Dan Reino yang bertugas membukanya, tapi dia lebih suka bermain dengan sport bra Lydia.
“Oh, ada sprot bra yang pakai pengait?”
Reino terlihat dan terdengar takjub dengan fakta itu ketika menemukan ada pengait pada bagian belakang bra Lydia. Padahal setahunya, sport bra itu rata-rata ya pakai karet.
“Ada tapi jarang. Ini juga kebetulan nemu di online,” jawab Lydia kelewat jujur.
“I like it,” bisik Reino sensual, sembari melepas kaitan yang sedari tadi dia elus.
Bulu kuduk Lydia meremang kala merasakan pengaitnya terlepas. Tangan Reino yang sedari tadi meraba pinggiran branya, kini menelusup ke balik cup bra yang masih terpasang. Dia menyentuh puncak dada Lydia sekilas saja, tapi itu lebih dari cukup untuk membuat wanita itu nyaris saja melenguh.
Sensasi kulit bertemu kulit, membuat Lydia mengigit bibir bawahnya dengan kuat. Demi apa pun juga, dia baru pertama kali merasakan hal seperti ini secaara langsung.
__ADS_1
Oh, tentu saja yang kali lalu tidak bisa dihitung. Saat itu Lydia nyaris tak sadar dan tidak terlalu bisa merasakan sentuhan Reino.
“Ah...” pekik Lydia tertahan ketika Reino mulai mengulum pucuk dadanya yang nyaris rata itu.
“Ya, seperti itu. Bersuaralah,” perintah Reino disela-sela kegiatan yang membuat seluruh tubuh Lydia bereaksi.
Tubuh Lydia meliuk tak karuan ketika mendapat stimulus di dua tempat. Apalagi ketika Reino menggigit kecil bagian itu, kemudian menyesapnya cukup keras.
“Ouch. Pelan, Pak,” pekik Lydia meremas jas Reino.
Kaki Lydia tiba-tiba saja merasa lemas, padahal baru juga lima menit dia dikerjai. Reino yang merasakan hal itu, mengangkat tubuh Lydia yang sangat ringan dan mendudukan wanita itu dipangkuannya. Tak lupa rok Lydia diangkat lebih tinggi agar lebih nyaman dan memudahkan Reino untuk menyentuh wanita di depannya itu.
Lydia yang mengangkangi Reino seketika memerah ketika merasakan sesuatu yang keras menyenggol paha bagian dalamnya. Walau Lydia tidak berpengalaman, dia tahu apa itu. Apalagi Reino sengaja merapatkan benda keras itu ke bagian inti tubuhnya yang masih terbalut dalaman.
“Touch it,” bisik Reino, sembari mengarahkan tangan ramping Lydia ke bagian bawah.
Lydia makin memerah ketika tangannya menyentuh bukti gairah Reino yang masih terbungkus dengan dua lapis kain. Dari luar saja dia sudah terintimidasi dengan ukurannya. Polar Bear ini jelas menuruni fisik Eropa ayahnya.
“Kau sudah basah,” desis Reino yang tengah menyentuh bagian inti tubuh Lydia dari balik **********.
Lydia tidak begitu mendengar apa yang dikatakan Reino tadi. Dia sedang fokus merasai sensasi yang ditimbulkan oleh jemari dan lidah Reino. Rasanya geli, tapi juga menyenangkan. Saking fokusnya, Lydia bahkan tidak sadar kalau dia sudah berbaring di atas sofa. Dia bahkan tak sadar kalau di badannya hanya tertinggal satu kain segitiga saja.
“Aku bilang kau basah,” Reino kembali berbisik sambil terus menyentuh tubuh Lydia di bawah sana.
“Dari balik celana saja sudah terasa,” Reino kembali berbisik, kemudian menggigit pelan daun telinga Lydia.
Oh, God. Lydia pikir omongan vulgar seperti itu hanya akan dia dengar dari film biru yang biasa dipertontonkan Vanessa. Siapa yang menyangka kalau sekarang dia mendengarnya sendiri. Apalagi ketika Reino sudah menunduk di bagian bawah tubuhnya dan menarik turun satu-satunya benda yang menutupi tubuhnya.
Siapa sangka adegan dalam film yang terasa mustahil dilakukan, kini terjadi pada dirinya. Padahal Lydia pikir itu hanya pemanis dalam film saja.
“God,” teriak Lydia merapatkan kedua pahanya.
Reino sama sekali tidak keberatan terjepit di antara kedua paha Lydia. Dia malah menikmatinya, sambil melucuti pakainnya sendiri dengan buru-buru.
“Tunggu.” Lydia menahan dada Reino ketika pria itu sudah mengambil posisi.
__ADS_1
“Karet pengaman,” bisik Lydia dengan napas memburu, setelah nyaris saja mendapatkan pelepasan.
Ya. Lydia belum sampai ketika Reino dengan sengaja mengangkat wajahnya untuk memposisikan diri.
“Ck. Aku kan tidak penyakitan,” geram Reino merujuk pada hasil tes IMS miliknya. Dia bersih dari segala macam penyakit.
“Itu untuk pencegah kehamilan, Pak. Aku juga akan minum pil,” jawab Lydia dengan napas lebih teratur.
Dengan perasaan kesal luar biasa, Reino terpaksa menggapai celana panjang yang teronggok di lantai untuk mengambil dompetnya. Rupanya dia menyimpan karet pengaman di sana.
“Pasangkan,” perintah Reino melempar bungkusan itu pada Lydia.
“Eh? Tapi saya kan tidak tahu bagaimana cara pakainya,” balas Lydia refleks.
“Kalau begitu aku akan menuntunmu.”
Reino memaksa Lydia membuka bungkusan karet pengamannya, sambil mengelus bagian tersensitif Lydia. Membuat wanita itu kesusahan membuka bungkusannya dan setelah berhasil, Reino menuntun tangan Lydia.
“Oh, God. Ini tidak akan muat,” gumam Lydia dengan napas tersengal.
“Ini akan muat. Bahkan di dalammu pun akan muat.”
Tanpa menunggu lama dan tidak mempedulikan tatapan ngeri Lydia, Reino segera memposisikan dirinya dan segera menyentak. Agak susah, tapi berhasil dengan dua kali sentakan. Tiga kali untuk masuk sepenuhnya.
“Kau sepertinya memang masih perawan,” gumam Reino menetralkan napasnya.
Di bawah Reino dia bisa merasakan ada sesuatu yang robek akibat ulahnya. Bahkan Lydia sampai berteriak karena sakit, dengan air mata mengalir dengan sendirinya.
Reino yang selalu memperlakukan wanitanya dengan baik tidak langsung bergerak. Dia kembali menstimulus tubuh Lydia dengan kecupan basah dan sentuhan yang membuat merinding.
“Pak. Ada suara ketukan pintu,” bisik Lydia tepat sebelum Reino mulai bergerak.
“Biarkan saja,” jawab Reino kemudian mencium bibir Lydia. Membungkam apa pun yang ingin wanita itu katakan.
Reino terus menyentak tanpa peduli dengan suara ketukan yang memang makin keras. Sampai akhirnya pintu ruangan itu terbuka dengan sendirinya.
__ADS_1
***To Be Continued***