Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Gosip Menyebalkan


__ADS_3

“Hah.”


Entah sudah berapa kali Lydia menghela napas hari ini. Ini bahkan belum jam makan siang, tapi rasanya Lydia sudah sangat lelah. Dan ini semua gara-gara Reino Andersen, si Polar Bear mesum tukang cari masalah.


Semua gara-gara omongannya saat rapat darurat kemarin. Gara-gara pengakuan yang asal diucapkan pria itu, Lydia jadi target gosip.


Ya. Target gosip.


Sudah sejak dia menjejakkan kaki di kantor pagi ini, Lydia bisa melihat orang memandanginya. Bahkan ada beberapa yang berbisik di depannya. Ada juga yang menyindir terang-terangan.


“Pantas dia bisa tiba-tiba jadi asisten padahal sudah ada Pak Hadi.”


“Yeah. Aku juga gak tahu apa yang dilihat Pak Reino dari perempuan kurus seperti dia. Mungkin kalau di ranjang dia liar.”


Lydia kembali menghela napas ketika mendengar kalimat itu. Dia langsung berbalik dan menemukan dua orang yang berjalan mendekat ke arahnya. Sepasang pria dan wanita. Lydia mengenali mereka sebagai salah satu staff marketing.


“Mau ketemu Pak Reino?” tanya Lydia masih mencoba untuk sopan.


“Kok kamu sekarang duduk di luar? Pak Reino udah bosan karena kamu terlalu tepos ya?” tanya yang pria.


“Saya di luar karena Thalita sudah dipecat karena terbukti menjual rahasia perusahaan. Dan karena Pak Reino tidak ingin ada orang masuk seenaknya ke ruangannya, saya ditempatkan di sini untuk sementara waktu. Lagipula kalau dia bosan pastinya saya sudah dipecat.”


Jawaban Lydia yang sangat tenang itu, membuat si pria jadi malu sendiri. Sementara yang wanita meringis dan menyikut si pria dengan cukup keras. Mereka berdua akhirnya masuk setelah Lydia melapor pada Reino.


“Lydia. Kau tinggal di dalam.”


“Ya?”


“Kubilang tinggal,” geram Reino kesal karena harus mengulang kalimatnya.


“Oh, baik Pak.”

__ADS_1


Lydia berdiri di sebelah kanan Reino, agak dekat dengan meja bosnya itu. Sementara dua orang yang datang menghadap saling melirik, sebelum menyerahkan laporannya pada Reino. Tapi bukannya dibaca, laporan itu malah diserahkan pada Lydia.


“Bacakan,” perintah Reino jelas sekali tak ingin dibantah.


“Eh, biar kami saja yang bacakan laporannya Pak. Takutnya nanti Mbak Lydia ada yang tidak dimengerti,” sahut si pria agak ngotot, menyela Reino.


“Itu hanya laporan penjualan tim kalian. Kamu pikir asistenku setidak kompeten itu sampai laporan penjualan saja tidak bisa?” tanya Reino dengan mata melotot.


Semua orang terdiam dan membiarkan Lydia yang akhirnya membuka lembar demi lembar laporan itu. Itu adalah laporan dari tim marketing satu dan dua. Hasilnya lumayan, tapi sepertinya ada beberapa orang yang tidak bisa mencapai target. Lalu ada beberapa produk juga yang kurang laku.


“Hasilnya lumayan Pak. Tapi sepertinya kita harus mengevaluasi beberapa orang dan beberapa produk.”


“Excuse me? Mengevaluasi beberapa orang?” tanya yang perempuan.


“Saya lihat ada sekitar dua orang yang penjualannya agak sedikit kurang dari tim du ....“


“Masalahnya ada pada produk, Mbak Lydia. Ada beberapa produk yang memang tidak begitu digemari di pasaran,” potong si wanita.


“Mereka berdua masih anak baru,” lagi-lagi omongan Lydia dipotong begitu saja. “Kamu juga gak tahu situasi di lapangan, jadi tolong jangan langsung menyimpulkan begitu saja.”


“Saya belum selesai bicara Bu Miranda,” protes Lydia terlihat sedikit kesal.


“Kamu gak pernah turun di lapangan, mana tahu hal seperti situasi pasar?” hardik Miranda ikutan kesal.


“Tapi itu tidak berarti saya tidak tahu apa-apa. Saya tahu siapa-siapa saja distributor terbesar kita dan semenjak ditangani oleh salah seorang dari dua yang saya sebut tadi, pengambilan mereka jadi menurun drastis. Bahkan ada yang sempat mengajukan komplain.”


“Dan soal dua marketing dari tim dua tadi. Mereka memang masih cukup baru, tapi anak baru dari tim satu saja lebih bagus dari mereka. Padahal anak marketing dari tim satu itu baru masuk sebulan lalu.”


Perempuan yang dipanggil Miranda itu terhenyak mendengar penuturan Lydia. Seingatnya Lydia baru dua mingguan menjadi asisten Reino, tapi kenapa dia sudah tahu banyak hal?


Jangankan Miranda. Reino saja kaget mendengar hal itu. Sebagai atasan tertinggi, dia bahkan tidak tahu ada distributor mereka yang pernah mengajukan komplain. Mungkin ada di laporan, tapi dia tidak terlalu memperhatikannya.

__ADS_1


“Dari mana kau tahu ada komplain? Aku saja tidak tahu,” tanya Reino dengan nada ketus yang biasanya.


“Ada laporan komplain di sistem kita, Pak. Tanggalnya kira-kira dua bulan lalu dan sampai saat ini belum tertangani. Saya juga baru melihatnya pagi tadi.”


Sekarang semua orang makin melongo. Bagaimana mungkin Lydia bisa menemukan komplain dua bulan lalu di sistem yang kacau balau itu dengan mudah?


“Ah, kemudian Pak. Saya rasa sistem kita perlu diperbaharui. Sudah agak jadul dan interfacenya juga bikin bingung. Waktu saya di bagian keuangan dulu saya juga agak bingung menyesuaikan laporan dengan data di sistem.”


Reino mengangguk saja mendengar penuturan Lydia. Memang yang dikatakan Lydia tidak salah. Dia sendiri sudah muak dengan sistem jadul ini, tapi belum sempat mengurusnya dengan bagian IT. Mungkin kini saatnya dia harus merubah banyak hal.


“Oke. Kalau begitu kau yang urus komplain ini. Usahakan secepat mungkin dan cari tahu juga kenapa penjualan dari tim dua menurun.”


“Saya Pak?” tanya Lydia dengan mata melotot. Sama sekali tidak percaya dia disuruh melakukan hal di luar dari job desknya.


“Memangnya siapa yang baru saja kutunjuk menggunakan jari ini?” tanya Reino dengan sangat ketus.


“Maaf, Pak. Tapi bukannya ini harusnya ditelusuri oleh tim marketing? Kenapa jadi saya? Nanti pekkerjaan saya gimana dong?”


“Kalau aku sudah memberi perintah tidak ada lagi bantahan Lydia. Kau tahu peraturannya,” geram Reino terlihat sangat marah.


Lydia langsung terdiam mendengar geraman penuh amarah itu. Ya, Lydia sangat tahu aturan yang tertera dalam surat perjanjiannya. Tapi masalahnya, itu kan hanya berlaku saat di atas ranjang. Bukan saat jam kantor seperti ini.


“Lydia. Kau mendengarku?”


“Ya, Pak. Saya akan berusaha menyelesaikan komplain itu dengan sebaik mungkin,” jawabnya dengan kepala sedikit menunduk.


“Dan kalian berdua wajib membantu Lydia dalam hal apa pun,” seru Reino penuh penekanan pada dua oranng yang berdiri di depannya.


“Sampaikan juga itu pada semua anggota tim, bahkan manajer kalian. Dan kalau ada saja yang tidak bisa bekerja sama, kalian tentu tahu apa akibatnya.”


Reino menatap dua karyawan marketingnya itu dengan tajam. Dua orang itu langsung mengangguk dengan cepat, enggan mencari masalah dengan Reino. Dan itu membuat Lydia mengerang dalam hati. Sekarang pekerjaannya bertambah banyak.

__ADS_1


***To Be Continued***


__ADS_2