
“Good morning Beautiful.”
Gumaman lembut, disertai dengan kecupan singkat, menjadi hal pertama yang dirasakan indra Lydia ketika bangun pagi. Tentu saja itu adalah ulah Reino Andersen. Pria yang lebih dari seminggu lalu telah kembali resmi mejadi suaminya. Kali ini suami sungguhan.
“Berhenti Kak. Bakal janggutmu bikin geli,” keluh Lydia ketika merasakan rahang sang suami di lehernya.
“Aku suka panggilanmu itu,” bisik Reino tepat di depan telinga sang istri.
“Terima kasih, tapi tolong menjauh. Kita sudah harus bangun biar tidak terlambat.”
Lydia yang masih polos tanpa sehelai benang pun, berusaha bangkit dari ranjang. Sayang sekali, Reino tidak mengizinkan istrinya ke mana-mana. Lelaki blasteran itu, mengungkung sang istri yang kini mencandunya itu. Enggan membiarkan Lydia pergi.
“Kak Rei,” lenguh Lydia ketika merasakan tangan sang suami mulai nakal. “Ingat aku gak bisa capek.”
“Memangnya semalam kamu capek?” tanya Reino dengan wajah serius. “Aku kan sudah pelan-pelan.”
“Tentu saja. Itu adalah kegiatan yang sangat menguras tenaga, terutama disaat aku sedang hamil muda dan gampang kelelahan,” jawab Lydia dengan tegas.
Karena Lydia sudah membawa-bawa soal kehamilan, mau tidak mau Reino mengalah. Dia dengan terpaksa mengeluarkan tangannya dari balik selimut dan harus puas dengan mencium kening sang istri saja.
“Pagi ini aku aku akan mengalah demi kamu dan baby. Tapi ketika dia sudah cukup besar, aku pasti akan sering menjenguk.” Reino mengecup perut istrinya yang masih rata dengan khidmat.
“Dengan catatan kamu harus pelan-pelan. Kemarin itu masih agak kasar.”
“Ck. Kalau begitu lain kali kau saja yang di atas. Dengan begitu kau bisa mengontrol kan?”
“Tapi kalau begitu aku akan capek,” Lydia segera membuyarkan fantasi liar Reino.
Wajah cemberut sang suami, menjadi hiburan tersendiri bagi Lydia. Dia suka melihat wajah cemberut itu karena biasanya Reino hanya memasang wajah datar nun dingin. Bisa dibilang lelaki itu baru bisa banyak berekspresi disekitar sang istri.
“Mau mandi bareng saja?” Reino masih bertanya dan mencoba peruntungan walau masih kesal.
“Tentu saja ... tidak. Aku tahu Kak Rei pasti akan mengerjaiku di dalam sana.” Lydia tersenyum sambil menggeleng.
__ADS_1
“Oh, God. Sekali, sama sekali tidak cukup untukku,” gerrutu Reino namun tetap beranjak ke kamar mandi.
Lydia hanya bisa tertawa dengan gerutuan sang suami, sekaligus kasihan. Biar bagaiamanpun Reino adalah pria yang aktif secara seksual. Biasanya mereka melakukannya sampai berkali-kali, bahkan pernah sampai membuat Lydia nyaris pingsan.
Sekarang karena alasan kehamilan yang masih rentan, Reino terpaksa membatasi kegiatan ranjangnya. Sekali sudah menjadi hal yang luar biasa baginya, walau itu dilakukan pelan-pelan.
“Aku jadi khawatir kalau dia akan jajan di luar,” gumam Lydia sebelum turun dari ranjang.
Berniat jadi istri yang baik, Lydia beranjak ke walk in closet untuk mengambilkan pakaian sang suami. Dia memilih dengan cermat, agar nanti warnanya tidak saling tabrak. Lydia juga sekalian mengambil pakaian untuk dirinya sendiri.
“Kak, kalau aku pakai ini bagus gak sih?” Lydia bertanya ketika sang suami sudah keluar dari kamar mandi.
“Kenapa tiba-tiba bertanya? Biasanya kau akan menggunakan apa pun tanpa bertanya,” balas Reino dengan raut bingung.
“Karena mulai sekarang aku ingin berpenampilan sesuai dengan selera Kak Rei.”
“Serius?” tanya Reino yang masih sibuk mengeringkan rambut dengan handuk, diikuti dengan senyum menggoda.
“Tentu saja.”
Senyum di wajah Lydia menghilang. Seharusnya dia tahu kalau suaminya ini adalah Polar Bear mesum yang isi kepalanya tidak jauh dari ************. Rasanya sia-sia membuang tenaga untuk bertanya.
“Baiklah. Kalau begitu aku akan ke kantor tanpa menggunakan sehelai benang pun,” balas Lydia sambil melangkah ke kamar mandi.
“Aku hanya bercanda, Sayang.”
***
Walau tadi pagi sempat kesal, kini mood Lydia sudah membaik. Ini semua karena Reino memilihkan pakaian untuk dia pakai tadi pagi.
Reino memilihkan pakaian yang berwarna senada dengan yang dipilihkan Lydia untuknya. Katanya biar terlihat seperti pasangan dan Lydia menyukai hal ini. Perempuan itu bahkan sudah meminta sang suami untuk melakukan ini tiap pagi. Saling memilihkan baju.
Saking bagusnya mood Lydia, pagi ini dia membalas semua orang yang menyapanya sepanjang perjalanan ke ruangan kerjanya. Yap, Lydia masih tetap ingin bekerja bahkan setelah menikah. Reino tidak bisa menolak karena itu adalah syarat menikah dari sang istri.
__ADS_1
“Pagi, Pak. Bu. Cerah amat sih mukanya,” sapa Maya yang selalu baik itu.
“Selamat pagi juga Mbak Maya,” jawab Lydia ketika naik lift bersama sang suami. “Iya nih. Hari ini moodku sedang bagus soalnya.”
“Masih ada di honeymoon phase ya?” Maya tidak sungkan bertanya karena dia cukup akrab dengan Lydia, bahkan sebelum mengumumkan menikah dengan CEO perusahaan.
“Seumur hidup kami akan ada di fase itu,” sergah Reino sebelum istrinya menjawab. Dia merasa kurang senang dengan pertanyaan yang dilontarkan pegawainya.
“Maaf,” gumam Maya merasa tahu diri.
Melihat kediaman rekan kerjanya, Lydia jadi memelototi sang suami. Inilah yang dia tidak suka dari Reino. Pria itu terlalu dingin pada orang lain yang bukan keluarga atau teman.
“Kurasa Kak Reino harus mulai belajar lebih ramah pada karyawan,” ucap Lydia ketika sudah berada di dalam ruangan suaminya.
“Untuk apa? Aku tidak perlu ramah pada mereka,” jawab reino nyaris tanpa perlu berpikir.
“Mereka itu karyawan di sini, Kak.” Lydia memutar matannya dengan gemas. “Kalau ada apa-apa dengan kantor kita, orang pertama yang dimintai tolong kan karyawan.”
“Lagian ya, walau bukan soal urusan kantor, kalau kita baik sama orang banyak pahalanya tahu. Orang-orang juga bakal nolong kita kalau kesusahan.”
Reino sudah ingin menggeram mendengar omelan istrinya, tapi batal. Hadi yang berdiri di belakang Lydia, segera menggeleng tanda Reino tidak boleh bicara.
‘Emosi ibu hamil itu sangat fluktuatif, sebisa mungkin hindari membuat masalah sekecil apapun.’ Itu nasihat yang Hadi berikan pada atasannya beberapa hari yang lalu.
“Fine.” Reino terpaksa mengiyakan, walau sangat enggan melakukan apa yang diminta istrinya. “Aku akan mencoba.”
“Good boy.” Lydia mengecup pipi Reino sebagai hadiah karena suaminya itu mau mendengarnya. “Kalau begitu aku kerja dulu ya.”
Reino mendesah pelan melihat istrinya yang keluar dengan wajah bahagia. Mau tidak mau dia tersenyum juga, sambil memegangi pipinya yang baru saja dikecup.
“Anda terlihat bahagia,” ucap Hadi dengan senyum lebar.
Dia senang kalau bosnya senang. Itu berarti tidak akan ada pekerjaan berat hari ini. Sayang sekali, senyum di wajah Reino itu hanya bertahan sebentar saja. Hasrat yang tak tuntas, nyatanya masih berpengaruh.
__ADS_1
“Sebaiknya kau cepat mulai bekerja, sebelum aku memukulmu.”
***To Be Continued***