Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Ekstra-Belum Siap


__ADS_3

“Bagaimana?” Lydia berlarian mendatangi adiknya yang berdiri di depan ruang operasi.


Liani sudah diatur akan dirujuk ke rumah sakit mana ketika melahirkan nanti. Letaknya berada di antara rumahnya dan rumah Lydia. Sengaja seperti itu agar bisa memudahkan semua orang. Rumah sakit yang sama dengan Lydia dulu.


Lydia bahkan sempat menyusui Melody dulu sebentar, sebelum meninggalkan bayinya dengan mama Clarissa. Untung saja bayinya anteng dan tidak terlalu rewel, sehingga Lydia dan Reino bisa segera ke rumah sakit.


“Mama masih di dalam. Dia baru masuk sekitar lima belas menit lalu karena tadi diperiksa dulu,” jelas Kenzo dengan panik.


“Tidak apa-apa. Kau tidak perlu sepanik itu. Mama hanya melahirkan.” Lydia mengusap lengan adiknya.


“Ya, tapi ... perut mama akan dibedah untuk mengeluarkan dua bocah itu. Itu tetap saja menakutkan.” Kenzo malah bergidik ketika membayangkannya.


“Bagaimana nanti kau menemani istrimu melahirkan kalau kau selemah itu?” tanya Reino sambil menggelengkan kepalanya.


Bertepatan dengan kalimat Reino yang baru selesai diucapkan, pintu ruang operasi terbuka. Hadi muncul di sana dengan wajah sepucat kertas putih.


“Ada apa? Kenapa Pak Hadi keluar?” tanya Lydia mulai panik, ketika tak menemukan ada perawat di belakang papa tirinya. Tak ada juga bayi yang dibawa keluar dari sana.


“Terlalu banyak darah,” bisik Hadi dengan pelan.


“Ya?” Semua orang bergumam bersamaan.

__ADS_1


“Terlalu banyak darah yang kulihat.” Hadi kembali mengulangi. “Perut Liani dibelah dan ... itu mengerikan.”


“Yang benar saja!” Reino yang paling pertama menghardik. “Ini bukan pertama kalinya kau melihat banyak darah, jangan membuatku tertawa.”


“Aku sering melihat darah, tapi ini berbeda.” Hadi mencoba untuk membela diri. “Ini darahnya istriku dan anak-anakku.”


“Aku juga melihat ketika Lydia dioperasi dan baik-baik saja.” Reino kembali menghardik, benar-benar tak habis pikir.


Lydia yang tak habis pikir pun, memilih untuk tak ikut berdebat. Dia hanya memutar mata, sebelum mengikuti seorang perawat yang hendak masuk ke dalam ruang operasi.


Tentu saja Lydia tak mungkin meninggalkan ibunya sendirian di dalam. Dia yang akan menemani, tentu saja setelah bertanya terlebih dulu. Untung saja dia diperbolehkan masuk.


“Bagaimana?” Liani langsung bertanya ketika mengenali putrinya.


“Syukurlah.” Liani mendesah lega. “Aku tidak menyangka kalau hadi akan ketakutan begitu. Dia nyaris pingsan.” Perempuan yang tengah dioperasi itu mengeluh.


“Aku juga tidak menyangka dia seperti itu.” Kali ini Lydia tidak bisa menahan tawanya. “Padahal badannya besar dan dia pengawal pribadi Reino.”


“Mungkin Reino perlu mencari pengawal baru. Oh, sudah keluar.” Liani langsung tersenyum begitu mendengar suara bayi.


Fokus Lydia pun segera beralih pada adiknya yang baru lahir itu. Tentu saja dia akan dibersihkan dulu, sebelum diberikan untuk IMD. Tepat saat anak pertama datang, anak yang kedua sudah keluar.

__ADS_1


“Ini yang perempuan ya, Bu.” Si perawat mengatakan itu, seraya meletakkan si kecil di atas dada sang ibu.


“Lucunya,” bisik Lydia sudah ingin meremas pipi adik perempuannya.


“Mirip denganmu,” balas Liani tersenyum bahagia.


“Tapi hidungnya mirip dengan Pak Hadi. Tinggi.” Lydia tak segan memuji.


Liani tak banyak berkomentar lagi. Dia hanya fokus pada bayinya yang sekarang ini, kemudian membagi fokus ketika bayi yang satunya datang. Yang kedua itu berjenis kelamin lelaki.


Lydia ikut bahagia ketika dia melihat ibunya berbahagia. Dia juga tak segan membantu memantau kedua adiknya yang sepertinya banyak gerak dan membuat sang mama kewalahan.


Untungnya semua berlangsung dengan baik. Itu membuat Lydia memilih untuk segera keluar dari ruang operasi agar Hadi bisa segera melihat anak-anaknya.


“Mereka berdua sehat dan baik,” ucap Lydia ketika keluar.


“Syukurlah.” Hadi segera mengelus dada. Rasa khawatirnya sekarang sudah hilang.


“Coba Pak Hadi tanya apa boleh menjenguk bayinya atau tidak.” Lydia menunjuk ke dalam. “Pak Hadi juga harus memberitahu nama mereka untuk urusan administrasi nanti kan?”


“Itu dia masalahnya.” Hadi meringis pelan ketika mengatakan itu. “Kami belum menyiapkan nama.”

__ADS_1


“Hah?!” Lagi-lagi semuanya berseru kaget bersamaan. Ini tentu saja gila.


***To Be Continued***


__ADS_2