
“Eh? Mau ke mana?” tanya Lydia pada Reino ketika akhirnya dia bisa keluar dari rumah sakit.
Karena alasan keselamatan, Lydia harus mau diantar pulang oleh Reino. Lalu kini, pria itu meminta untuk singgah di tempat lain.
“Ada tempat yang ingin aku kunjungi berdua denganmu. Boleh kan?”
“Gak boleh,” Kenzo yang menjawab pertanyaan itu untuk kakaknya.
“Kenzo. Kenapa kamu yang menjawab?” tanya Lydia terlihat amat sangat kesal dengan adiknya itu.
“Ya. Mana tahu kalau dia ngapa-ngapain Kakak. Pokoknya aku gak mengizinkan,” Kenzo tidak mau kalah.
“Mau diapa-apain gimana? Orang kakakmu sedang hamil dan tidak boleh terlalu capek,” Leo yang ikut ke rumah sakit menjemput Lydia membela anaknya.
“Dokternya saja belum bilang seperti itu loh, Om. Tolong Om jangan mendahului Tuhan deh. Aduh.”
Kenzo mengelus kepalanya yang baru saja diketuk dengan keras oleh Liani. Pelototan dari Liani juga tidak kalah meyakitkan.
“Maafkan anak saya yang kurang ajar ini,” Liani terpaksa meminta maaf karena Kenzo enggan melakukannya.
“Gak apa-apa kok, Li. Namanya juga anak-anak,” kali ini Clarissa yang membalas karena Leo juga sudah terlanjur kesal.
Kenzo mencebik ketika dia disebut sebagai anak-anak, tapi tidak bisa lagi bersuara karena Liani masih memelototinya.
“Lydia ikut Reino dulu ya. Nanti bakal pulang ke rumah kok dan gak bakal kemalaman juga.” Lydia memberi tahu ibunya. Dia memilih untuk mengalah pada Reino.
“Saya akan berjanji untuk mengembalikan Lydia ke rumah sebelum jam makan malam,” janji Reino pada Liani.
Dan karena dua orang itu sudah memutuskan, para orang tua juga tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Mereka membiarkan pasangan itu pergi dengan Leo dan Clarissa mengantar Liani pulang. Kenzo sendiri memilih untuk naik motor.
Dan karena tidak ingin Kenzo malah berakhir mengikuti kakaknya, Liani meminta Reino dan Lydia berangkat duluan. Kenzo baru boleh pulang lima belas menit kemudian.
“Kita sebenarnya mau ke mana sih?” tanya Lydia penasaran juga dengan tempat yang akan mereka tuju.
“Nanti kamu akan lihat kok. Tunggu saja dengan tenang,” jawab Reino dengan senyum terkulum.
Lydia yang sedang ingin manja, bersandar pada bahu Reino. Mereka berdua bersantai di kursi penumpang belakang dengan nyaman, sementara Hadi menyetir di depan.
Hati Lydia memang masih belum menerima kehamilan yang mungkin sudah terjadi, tapi tidak berarti dia akan menghindari Reino. Toh ini terjadi karena dia sempat lupa minum pil beberapa waktu lalu dan baru mengingat hal itu sekarang.
“Kenapa hari ini kamu manja sekali?” senyum Reino merekah, seiring dengan pertanyaan yang dia lontarkan.
“Kenapa? Gak suka?” Mata Lydia menyipit menatap Reino dari bawah.
“Suka lah, tapi aku lebih suka kalau kamu mengerang di bawahku,” Reino menunduk untuk membisikkan kata-kata vulgar itu.
__ADS_1
Refleks saja Lydia memukul dada Reino bertubi-tubi. Omongan vulgar Reino itu benar-benar membuatnya malu. Apalagi di mobil ini bukan hanya ada mereka berdua saja. Walau Reino berbisik bisa saja kan Hadi dengar.
“Eh, tapi ngomong-ngomong. Kok belakangan ini kamu cara ngomongnya jadi lebih sopan sih?” tanya Lydia dengan mata menyipit ingin tahu.
“Oh ya? Perasaanmu saja kali. Aku memang selalu sopan kok. Justru kamu yang harus mengubah cara bicaramu denganku.”
“Memangnya cara bicaraku kenapa?” hardik Lydia menjauhkan kepalanya dari tubuh Reino.
“Seperti rekan bisnis saja. Pakai saya anda. Aku kan bukan rekan bisnismu,” jawab Reino berusaha membaringkan kepala Lydia kembali.
“Memang kita rekan bisnis kan?” senyum Lydia terkulum ketika menanyakan hal itu.
“Beda dong. Sekarang ini kamu kan pacarku.”
“Eh? Sejak kapan ya kita pacaran? Perasaan aku tidak pernah mendapat pernyataan cinta tuh.”
“Ayo kita pacaran,” timpal Reino dengan cepat.
Lydia mencebik mendengar kalimat bernada perintah itu. Sama sekali tidak romantis, tapi Lydia tetap menjawabnya.
“Untuk saat ini ayo kita pacaran.”
Reino mengangguk setuju dengan pernyataan Lydia itu. Saat ini mereka akan pacaran dulu, nanti mereka akan menikah lagi. Dengan atau pun tanpa adanya bayi. Setidaknya itu yang ada di pikiran Reino saat ini.
Mereka berhenti di depan sebuah rumah mewah. Ukuranya jelas lebih kecil dari rumah orang tua Reino dan lebih besar dari rumah Lydia. Tapi rumah ini terbilang tidak terlalu besar jika diukur dari kaca mata orang sekaya Reino. Namun jelas terlihat kalau hunian ini tidaklah murah.
“Ini rumah siapa?” tanya Lyidia begitu Reino menuntunnya masuk melewati pagar tinggi.
“Bagaimana desainnya? Bagus?” tanya Reino berjalan mundur demi melihat reaksi Lydia.
Lydia baru memasuki bagian halamannya. Cukup luas dengan taman mungil di sudut. Mungkin bisa memarkir sekitar dua mobil di halaman ini. Dan untuk bangunannya sendiri kebanyakan terbuat dari kaca.
Pintu masuk utamanya ada di lantai dua, jadi Lydia harus naik tangga dulu. Katanya sih ada basement di lantai bawah.
Pintunya dibuat dengan sensor sidik jari dan terbuat dari kaca tebal, pun dengan jendela yang cukup lebar dan tinggi. Itu membuat cahaya matahari masuk dengan mudahnya.
Interiornya modern minimalis dengan warna yang cenderung netral. Dan perabotan yang ada di dalam pun bernuansa serupa.
Lebih jauh lagi, ada kolam renang yang tidak terlalu besar di halaman belakang. Cukuplah jika hanya ingin menyegarkan diri untuk keluarga kecil.
“Bagus.” Angguk Lydia setelah menjelajahi keseluruhan lantai satu. “Tapi ini rumah siapa sih?”
“Tentu saja ini rumah kita,” jawab Reino dengan entengnnya.
“What?”
__ADS_1
“Rumah kita, Sayang,” Reino mengulang dengan nada lebih lembut dan manja. Tidak lupa juga dia mendekat ke arah Lydia untuk memeluk kekasihnya itu sebentar.
“Ini rumah untuk kita berdua. Bertiga kalau tiga minggu lagi kamu dinyatakan hamil.”
“Wait.” Lydia mengurai pelukan Reino dengan wajah bingung. “Maksudnya kita akan menikah begitu?”
“Tentu saja.”
“Tapi aku belum tentu hamil.”
“Hamil atau tidak kita akan tetap menikah,” jawab Reino tegas.
Lydia menganga mendengar kalimat Reino itu. Bukannya dia tidak ingin menikah dengan Reino, tapi nanti keluarganya bagaimana? Lagi pula Liani dan Kenzo belum tentu setuju kan?
“Tapi aku...”
“Kamu boleh tetap kerja, tapi tentu saja jadi sekretarisku. Dan aku akan mengatur agar kamu tidak perlu terlalu lelah. Gajimu boleh kamu pakai untuk apa saja. Semaumu.”
Lydia masih belum mengerti apa yang dimaksud Reino. Karena itu dia menggeleng.
“Yang ingin kukatakan. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan keluargamu walau kita menikah. Kamu boleh tetap bekerja untuk mereka, boleh tetap mengunjungi mereka kapan pun.”
“Atau kalau mau mereka bisa tinggal di kompleks sebelah kalau kamu merasa agak kejauhan ke rumahmu. Kebetulan aku punya satu unit di sana. Tidak semahal di sini, tapi lumayan besar.”
“Kalau kita punya anak, kamu gak akan kesusahan mengurusnya karena akan dibantu baby sitter. Lalu setelah melahirkan pun masih boleh kerja atau mungkin buka usaha.”
Lydia mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia sama sekali tidak menyangka Reino akan mengatakan hal seperti itu.
“Kamu mendengar omonganku dengan yang lain?” tanya Lydia masih saja tidak percaya.
“Ya. Aku mendengarnya, tapi tidak sengaja. Dan menurutku masuk akal jika kamu khawatir, tapi tetap saja aku tidak bisa membiarkanmu berkeliaran dengan bebas.”
“Berkeliaran dengan bebas?” ulang Lydia dengan kening berkerut.
“Maksudnya tanpa status yang jelas. Aku tidak mau ada resiko kamu direbut orang lain, jadi kita harus menikah secepatnya.”
“Tapi keluargaku belum tentu setuju.”
“Mereka akan setuju jika kamu sudah setuju.”
Lydia mendengkus mendengar kepercayaan diri Reino, tapi Lydia menyukainya. Apalagi dengan wajah sombong Reino itu. Dia ingin terus melihat wajah itu dari dekat, tanpa harus ada kontrak lagi.
“Fine. Ayo kita menikah lagi,” jawab Lydia setelah berpikir beberapa saat karena kekhawatirannnya sudah mereda.
***To Be Continued***
__ADS_1