Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Curiga


__ADS_3

Lydia melirik ke arah pelayan yang membawakannya sarapan ke kamar. Pelayan wanita itu terlihat menunduk malu entah karena apa. Dia nyaris tidak mendonggak saat menaruh meja kecil di atas ranjang, tepat di depan Lydia. Dan itu membuat Lydia bertanya-tanya.


Pandangan mata Lydia mencoba menyapu semua sudut kamar dan tidak ada yang aneh. Tidak ada barang berantakan atau baju berserakan di lantai. Ranjangnya juga sudah rapi dan sudah diganti dengan seprai yang baru.


Tadi pagi, Lydia sendiri yang melepas penutup ranjang yang masih terasa agak lembap itu. Belum lagi masih ada bau sisa percintaannya semalam. Dan seingat Lydia tadi dia sendiri yang memasukkannya ke mesin cuci, sementara para pelayan lain memasang seprai baru. Jadi sekarang Lydia tidak mengerti kenapa para pelayan bertingkah malu-malu.


“Gimana sarapannya?” tanya Clarissa menyapa menantu satu-satunya itu.


“Good,” jawab Lydia yang hari ini terlambat bangun.


“Maaf, ya Ma. Lydia gak bisa ikut sarapan,” ringisnya pelan.


“Gak masalah. Mama bisa mengerti kok. Semalam pasti Reino membuatmu amat sangat kelelahan kan?”


“Hah?”


Lydia memang kelelahan karena ulah Reino dan memutuskan untuk sarapan di kamar, sekalian ingin istirahat lagi. Tapi masalahnya dari mana Clarissa tahu soal dirinya yang kelelahan? Memangnya para pelayan bergosip soal dirinya yang tiba-tiba minta ganti seprai?


“Kamu tahu suara kalian cukup lantang,” balas Clarissa meringis. Dia tidak ingin mengatakan ini, tapi Lydia harus tahu agar lain kali dia bisa lebih berhati-hati.


“Maksudnya?” tanya Lydia terlihat sedikit panik.


“Anu, itu. Mungkin karena kalian main di dekat pintu, jadi suaranya terdengar. Dan pintunya agak sediki bergetar dan lumayan banyak yang dengar,” bisik Clarissa malu-malu.


Rasanya rahang Lydia akan jatuh ke lantai begitu dia mendengar itu. Dia sama sekali tidak menyangka kalau suaranya yang memang keras itu terdengar sampai keluar.


Astaga dan apa tadi katanya? Pintunya bergetar? Ugh, Lydia harus memperingati Reino untuk tidak melakukannya di belakang pintu lagi. Apalagi pria itu selalu beringas.


“Astaga Tuhan, Pak. Bagaimana bisa saya keluar dari kamar kalau begini,” teriak Lydia pada Reino di telepon.


“Ya sudah. Di kamar saja seharian dan tunggu aku pulang kerja, lantas kita bisa mengulang semuanya lagi.”


“JANGAN GILA.”

__ADS_1


“Kau yang gila. Apa kau ingin membuatku tuli?” hardik Reino cukup keras.


“Saya mau pulang. Pokoknya hari ini juga saya mau pulang ke rumah. Titik,” teriak Lydia sebelum menutup teleponnya.


“Oh, Tuhan” gumam Lydia memanggil nama Tuhan entah untuk yang keberapa kalinya sepagian ini.


Lydia yang kelelahan batal istirahat gara-gara kalimat Clarissa tadi. Sepanjang pagi dia terus mondar-mandi di dalam kamar dengan wajah memerah dan panas. Rasanya pendingin ruangan yang ada di kamar sama sekali tidak berfungsi.


“Aku benar-benar akan pulang,” sahut Lydia mengambil tas tangannya.


Tas tangan itu adalah pemberian Reino, tapi dia tidak peduli. Lydia memasukkan dompet dan ponselnya. Yang terpenting untuk sekarang adalah pulang. Dia perlu pergi jauh dari rumah ini.


“Loh, Lydia? Mau ke mana, Sayang? Bukannya hari ini cuti?”


Tiba-tiba saja Clarissa muncul entah dari mana dengan pakaian rapi. Sepertinya wanita paruh baya itu juga ingin keluar.


“Anu, Ma... Itu saya mau ketemu teman dulu. Ada sesuatu yang perlu kami bicarakan,” dusta Lydia sedikit gugup.


“Eh, tapi tempatnya jauh. Nanti Mama bisa telat.”


Lydia menyebut sebuah tempat yang dia pernah kunjungi bersama para sahabatnnya. Tempatnya memang lumayan jauh dan berlawanan arah dengan rumah Lydia, tapi sialnya Clarissa juga ingin ke arah sana. Mau tidak mau Lydia terpaksa ikut dengan ibu mertua palsunya itu.


“Kamu kenapa sih, Lyd? Kok sepertinya gugup sekali?” tanya Clarissa setelas setengah perjalanan ke tempat tujuan Lydia.


“Masa sih, Ma?” tanya Lydia memang terlihat sedikit gugup.


“Kamu gak lagi mau ketemu sama selingkuhanmu kan?” tanya Clarissa dengan mata menyipit.


“Asttaga. Gak lah, Ma. Saya kan orangnya setia. Lagipula mana ada orang yang mau dengan perempuan seperti saya?”


“Memangnya kamu kenapa? Reino saja mau sama kamu kok.”


“Pa... Reino kan lain, Ma. Dia kan emang... unik.”

__ADS_1


Lydia nyaris saja keceplosan memanggil Reino dengan sebutan pak. Untung saja dia bisa mengerem mulutnya tepat waktu. Dan syukurnya Clarissa sepertinya tidak terlalu memperhatikan.


“Justru karena kamu unik, Sayang. Makanya pasti bakal ada orang yang mau sama kamu. Reino hanya salah satunya,” balas Clarissa dengan senyum yang mengembang.


“Saya heran deh, Ma. Reino punya ibu sebaik Mama, tapi kok anaknya tengil banget ya?”


“Dia itu mirip Papa Leon loh. Dulu papa mertuamu itu juga nakal.”


Mata Lydia membulat tak percaya. Dia melihat sosok Leon sebagai pria yang mencintai keluarganya dan tidak mungkin menjadi anak nakal. Tapi siapa yang sangka sifat Reino ternyata turunan dari ayahnya.


Dan percakapan tentang ayah dan anak itu ternyata cukup menyenangkan. Lydia sampai tertawa keras karenanya, melupakan sedikit kegugupannya. Tapi tetap tidak melupakan tujuan awalnya keluar dari rumah.


Begitu sampai di tempat tujuan dan mobil Clarissa sudah pergi, Lydia segera menjalankan aplikasi taksi onlinenya. Sedari tadi di dalam mobil, Lydia memang sudah mengatur titik penjemputan dan hanya tinggal menekan pesan saja. Karenanya Lydia tidak perlu menunggu terlalu lama.


Tapi ada satu hal yang tidak diperhatikan Lydia. Rupanya mobil Clarissa belum benar-benar meninggalkan lokasi. Sebaliknya mobil itu malah beranjak untuk mengikuti taksi online yang dipesan Lydia.


“Yakin mau diikuti, Bu?” Pak sopir yang bertugas, kembali mempertanyakan perintah atasannya itu.


Urusan keluarga orang memang bukan urusan pak sopir, tapi dia merasa perlu memperingatkan. Pasalnya ada hal yang memang sebaiknya tidak perlu diketahui.


“Ikuti saja, Pak,” perintah Clarissa mutlak dan tidak boleh dibantah.


Sedari tadi, Clarissa memang tidak sengaja melihat menantunya membuka aplikasi ojek online. Baginya itu adalah hal aneh karena jelas Lydia tidak membutuhkannya karena sudah diantar. Hal itulah yang membuat Clarissa curiga dan membatalkan janjinya siang ini. Dia memilih untuk membuntuti Lydia.


Clarissa memperhatikan jalan yang dilalui mobilnya dan berusaha untuk mengingatnya. Siapa tahu saja ada sesuatu yang nanti mungkin harus dia selidiki tentang menantunya. Pasalnya mereka memang tidak tahu menahu soal Lydia. Leon dan Clarissa hanya menerima fakta kalau putranya memilih Lydia sebagai istri.


Mereka berdua bahkan tidak bertanya kenapa Reino menikah tanpa pendampingan orang tua. Tidak pula bertanya soal resepsi yang belum diadakan. Mereka mempercayai Reino 100 persen.


“Mobilnya berhenti di depan, Bu,” pak sopir memberitahu Clarissa.


Clarissa segera turun dari mobil, ketika melihat Lydia sudah masuk ke dalam salah satu rumah. Karena penasaran, Clarissa mendekat dan memperhatikan rumah itu. Sampai kemudian dia melihat ada seorang lelaki keluar dari sana.


***To Be Continued***

__ADS_1


__ADS_2