Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Pindah Saham


__ADS_3

Hal yang hari ini amat sangat disyukuri Reino adalah mengikuti instingnya untuk membawa sang istri menggunakan mobil pribadi. Itu adalah keputusan yang sangat tepat karena ambulans terjebak macet saat datang. Begitu pula dengan Reino yang menuju ke rumah sakit.


Untungnya, jalanan yang dilalui Reino tidak semacet arah datang ambulansnya. Dan tentu saja itu membuat Reino harus menyuap para sopir dan perawat agar tidak banyak omong karena mobil mereka tidak jadi dipakai. Itu lebih baik dari pada kena macet dua kali.


“Bagaimana, Dok?” Reino bertanya setelah istrinya diperiksa.


“Tidak ada masalah berarti selain sedikit lecet. Lalu untuk pemeriksaan kandungan, mungkin nanti setelah pasien sadar saja.”


“Memangnya tidak bisa dilakukan pemeriksaan sekarang?” tanya Reino dengan kening mengernyit tidak suka. “Istri saya baru terjatuh dari tempat tinggi. Kalau ada apa-apa dengan bayi saya dokter bisa tanggung jawab?”


“Rei.” Gumaman lirih itu membuat Reino segera menoleh.


“Sayang? Bagaimana perasaanmu?” tanya Reino penuh perhatian.


“Perutku sakit,” gumam Lydia tanpa membuka matanya.


“Oh, sialan.” Reino tidak tahan untuk tidak mengumpat. Lelaki itu langsung menghardik dokter yang mengurusi sang istri, sementara Lydia hanya bisa mengerjap pelan.


Sesungguhnya perut Lydia tidak sesakit itu, tapi berhubung sekarang dia sedang hamil, tentu saja ini harus diperiksakan. Lydia tak ingin ada apa-apa terjadi pada anaknya, apalagi tadi dia terjatuh.


“Tadi ada yang mendorongku,” gumam Lydia pelan, selagi dia menunggu untuk dibawa ke dokter kandungan untuk USG.


“Aku tahu. Aku sudah mengamankan TKP. Kamu tenang saja. Aku pasti akan menghukum siapapun itu.”


Lydia bisa mendengar geraman marah itu. Dia ingin protes karena tak ingin Reino berbuat terlalu kejam saat dirinya hamil, tapi sudah saat dirinya untuk pemeriksaan. Untungnya saja tidak ada masalah berarti pada kandungan Lydia dan itu membuat Reino sedikit lebih tenang.


“Oh, iya. Omong-omong bagaimana aku bisa di sini?” tanya Lydia baru mengingat hal ini. Tadi rasanya dia sempat melihat Pak Hadi, tapi tidak begitu yakin.

__ADS_1


“Hadi menolongmu dan dia juga sedang dirawat sekarang.”


“Eh? Dirawat juga?” pekik Lydia cukup terkejut mendengar itu.


“Ya. Dia ...”


“LYDIA.” Belum selesai omongan Reino, seseorang berteriak keras dan memotong ucapannya.


Para orang tua tadi memang sempat mendapat kabar dari Reino. Lebih tepatnya hanya Leo-sang ayah saja karena Reino ingin meminta bantuan untuk menggantikannya di kantor.


Clarissa dan Liani menghambur masuk ke ruang rawat inap. Kenzo dan Leo menyusul kemudian. Para lelaki itu hanya bisa menggeleng-geleng melihat kepanikan semua orang. Apalagi ketika para ibu-ibu bertanya secara bertubi-tubi, sampai Lydia kesulitan menjawab.


“Mama sekalian.” Lydia mengangkat kedua tangan untuk menenangkan ibu dan mertuanya. “Saya baik-baik saja. Cuma perlu istrirahat.”


“Sungguh?” tanya Liani sudah sangat panik.


Dua ibu-ibu itu akhirnya menghembuskan napas lega mendengarnya. Setelah mendengar menantunya baik-baik saja, Leo pun memilih untuk pamit ke kantor, menyelesaikan kekacauan yang mungkin ditimbulkan anaknya.


“Bagaimana sih ceritanya kamu bisa jatuh dari tangga?” Clarissa yang cuma mendengar cerita sepihak, langsung bertanya sambil mengupaskan buah yang entah sejak kapan ada di kamar rawat inap Lydia. Padahal dia baru dipindahkan.


“Aku juga tidak tahu.” Lydia mengedikkan bahu. “Aku baru keluar dari toilet dan ingin turun lewat tangga darurat. Lalu ternyata ada yang mendorongku.”


“Bagaimana mungkin ada yang mendorongmu? Memangnya mereka tidak tahu kalau kau itu istrinya Reino?” kini Liani yang bertanya. Pertanyaan yang membuat Kenzo melirik Reino dengan tajam.


Lalu karena Lydia juga tidak tahu apa yang terjadi, dia hanya bisa mengedikkan bahunya sebagai jawaban. Ibu hamil itu kemudian melirik suaminya untuk mencari tahu lebih lanjut. Siapa tahu saja Reino sudah tahu sesuatu.


“Hadi juga tidak melihat pelakunya.” Reino ikutan mengedikkan bahu.

__ADS_1


“Hah? Apa hubungannya dengan Pak Hadi?” tanya Liani jelas saja bingung.


“Katanya Pak Hadi yang menyelamatkanku. Dia katanya sampai harus dirawat juga.”


“Eh? Kok Bisa?” pekik Liani cukup histeris.


Jujur saja, Reino merasa reaksi mertuanya itu terlalu berlebihan, tapi dia pada akhirnya tetap menceritakan apa yang terjadi. Tentu saja sesuai dengan yang diceritakan oleh Hadi. Reino juga menjelaskan kalau dia sudah mendapat rekaman CCTV dan sedang dilihat oleh Pak Hadi dan itu mendapat ciribiran dari semua orang.


Para perempuan itu mengatakan kalau Pak Hadi yang sedang sakit tidak perlu lagi diberi pekerjaan. Liani bahkan tidak segan menegur menantunya yang terkenal kejam itu.


“Dia kan sudah menyelamatkan Lydia, sampai terluka. Kau tidak boleh memberinya pekerjaan lagi. Apa kau tidak punya perasaan?,” hardik Liani dengan mata melotot.


“Yang Mama katakan itu benar, tapi harus nyolot?” tanya Lydia juga tidak mengerti.


Liani memang orang yang sangat mudah cemas, terutama kalaua da sesuatu terjadi pada keluarganya. Tapi ini kan Pak Hadi. Rasanya aneh saja melihat sang mama tiba-tiba marah karena orang lain. Walau Pak Hadi dikenal, tapi tetap saja kemarahan Liani ini terlihat sedikit berlebihan.


Jangankan Lydia. Liani saja sempat tersentak ketika ditegur anaknya. Dia juga sadar telah bertingkah sedikit berlebihan.


“Soalnya Pak Hadi kan sudah banyak membantu kita. Rasanya Mama kasihan melihat dia tetap bekerja keras ketika sakit.” Liani meringis ketika mengatakan itu. “Tapi dia dirawat di kamar sebelah mana?”


Lydia baru saja ingin melirik suaminya untuk meminta jawaban, tapi dering telepon membuatnya tak jadi bertanya. Itu adalah dering ponsel milik Reino dan pria itu lekas mengangkatnya dengan tergesa.


“Ya, Pa?” sapa Reino terlihat bingung. Rasanya baru juga sang ayah pergi dari rumah sakit, tapi pria itu malah sudah menelepon lagi. Reino menduga ada sesuatu yang penting. “Hah? Apa?”


“Bagaimana kau bisa memindahkan semua kepemilikan sahammu kepada Fendy? Apa kau sudah gila?”


***To Be Continued***

__ADS_1


__ADS_2