Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Ekstra-Maaf


__ADS_3

“Selamat atas kehamilan keduanya. Janinnya sudah berumur hampir empat minggu.”


Lydia melongo mendengar apa yang dikatakan dokter barusan. Sungguh, dia sama sekali tidak menyangka akan mendengar kalimat seperti itu karena memang belum ingin menambah momongan.


Bukannya Lydia tidak mau tambah anak, tapi rencananya nanti. Mungkin setelah Melody berumur lebih dari setahun atau bahkan setelah anaknya berumur tiga tahun. Namun, ternyata itu semua tidak bisa lagi. Di usia Melody yang ke enam bulan, Lydia sudah hamil lagi.


“Makanya aku bilang juga apa?” Lydia menghardik suaminya ketika mereka sudah duduk manis di dalam mobil. “Pakai pengaman. Apa susahnya sih?”


“Katanya menyusui itu KB alami kan?” tanya Reino takut-takut. “Jadi kupikir tidak masalah.”


“Iya, tapi kan ada syaratnya juga. Kau pikir aku menyusui dua puluh empat jam?” Lydia makin menghardik suaminya.


“Sudah kejadian juga. Kita hanya bisa pasrah.” Reino mengatakan kalimat pamungkas itu.


Lydia mendesah pelan. Memang sudah tak ada yang bisa dilakukan lagi kalau seperti ini. Mereka hanya bisa pasrah dan menjaga bayinya agar tetap sehat sampai dilahirkan nanti. Namun, itu nyatanya sulit. Terutama setelah sebulan berlalu.


“Argh, Rei.” Lydia berteriak ketika suaminya baru saja memasuki kamar, setelah pulang dari kantor.


“Ada apa?” tanya Reino agak kaget mendengar teriakan itu.


“Kau bau. Mau berapa kali kubilang jangan pakai parfum.” Lydia menutup lubang hidungnya serapat mungkin.


“Tapi aku tidak pakai parfum,” jawab Reino bingung sekali melihat tingkah istrinya.


“Itu artinya kau berdekatan dengan orang yang pakai parfum. Ngaku, kau habis menempel dengan perempuan mana?” tanya Lydia masih dengan suara keras.


“Tidak ada.” Reino mengatakan kejujuran. “Seharian ini aku di kantor saja.”

__ADS_1


“Kalau begitu kau pasti mengundang perempuan ke kantor kan?” Lydia masih saja nyolot.


“Mana ada. Lagi pula, bukan hanya perempuan saja yang pakai parfum lelaki juga pakai dan kebetulan menempel dibajuku.” Reino tentu tidak mau kalah juga karena dia memang tidak melakukan apa-apa.


“Apa kau gay?” Tiba-tiba saja Lydia merinding sendiri.


“Kenapa malah ke sana?”


“Karena parfum tidak akan menempel dibajumu kalau kau sendiri tidak menempel dengan orang lain, apalagi tadi kau bilang tidak menggunakan parfum. Jadi kalau memang bukan perempuan yang menempel padamu, maka itu artinya lelaki.”


Reino tercengang mendengar pemikiran istrinya. Argumen yang sebenarnya tidak salah, tapi Reino jelas tidak bengkok seperti itu. Demi apa pun dia lurus dan hanya tertarik dengan perempuan.


“Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi padamu, tapi yang jelas aku tidak pakai parfum. Aku tidak bersama perempuan, apalagi lelaki!” tegas Reino mulai terlihat marah. “Terserah kau mau percaya atau tidak.”


Setelah mengatakan itu, Reino keluar dari kamar lagi. Dia bahkan membanting pintu dan membuat Lydia terkejut karenanya.


“Apaan sih,” gumam Lydia pelan.


***


“Mama gak lihat dia sih.” Itu yang dikatakan ibu mertua Lydia ketika dia bertanya soal sang suami.


“Gimana ini?” Lydia mulai terisak pelan. “Pasti Reino marah gara-gara aku.”


“Sudah, gak perlu menangis.” Clarissa membujuk menantunya. “Nanti biar Mama coba cari Reino, sementara kau istirahat di kamar ya. Kasihan nanti Melody nangis kalau kalian berdua tidak ada.”


Lydia pada akhirnya hanya mengangguk saja. Melody memang tidur di kamar bayi yang terpisah, tapi masih menyambung ke kamar Reino dan Lydia. Setidaknya, itu memudahkan kalau bayi cantik itu butuh sesuatu. Ada baby sitter, tapi Melody lebih sering mencari orang tuanya.

__ADS_1


“Mama salah,” gumam Lydia berbicara pada putrinya yang belum tidur.


“Iya sih ini pengaruh hormon, tapi harusnya mama gak ngomong aneh-aneh. Sekarang papa marah,” lanjut Lydia dengan wajah yang cemberut.


Tentu saja Melody tidak mengerti apa yang ibunya katakan. Bayi itu hanya menatap wajah cemberut mamanya, mencoba meneliti apa yang membuat Lydia terlihat begitu sedih. Itu terjadi selama beberapa menit, sampai akhirnya anak bayi itu ikut mencebik.


“Loh, kok nangis?” Lydia yang panik, langsung mengangkat putrinya dari ranjang bayi.


“Aduh, Sayang. Jangan nangis ikut mama nangis dong.” Lydia mencoba menenangkan putrinya yang termasuk besar itu. “Nanti malah Mama makin nangis nih.”


Yang dikatakan Lydia barusan langsung jadi kenyataan. Begitu putrinya menangis makin keras, Lydia juga jadi ikut-ikutan menangis tersedu-sedu.


“Kenapa kalian malah menangis berdua?” Suara Reino tiba-tiba saja terdengar. “Coba sini berikan Melody padaku.”


Walau terkejut dengan kehadiran sang suami, Lydia tetap memberikan putrinya. Dia kemudian menatap ayah dan anak itu dengan tatapan sayang yang tak bisa ditutupi dan membuat air matanya pelan-pelan mengering.


“Kau dari mana saja?” tanya Lydia setelah dian dan Melody cukup tenang.


“Habis belanja baju baru. Kupikir bajuku mungkin bau karena sudah usang,” jawab Reino agak merasa bersalah karena meninggalkan istrinya dalam keadaan marah.


“Aku kan tidak suka bau parfum. Bukan bau baju usang.” Lydia malah mengungkit kejadian tadi sore.


“Ya sudah, nanti aku akan meminta semua orang di kantor tidak boleh pakai parfum.” Reino memilih mengalah karena dia tahu Lydia tidak benar-benar ingin cari gara-gara. “Jangan menangis lagi.”


Lydia langsung pergi memeluk suaminya dengan erat. Bau Reino sudah tidak seperti tadi lagi dan kali ini membuatnya lebih tenang.


“Maaf,” bisik Lydia pelan.

__ADS_1


“Aku juga minta maaf.”


***To Be Continued***


__ADS_2