
Lydia menghela napas. Entah sudah berapa jam dia berbaring tanpa bisa tertidur. Padahal perutnya sudah kenyang setelah Pak Hadi membawakan bento.
Alasannya sederhana. Lydia kepikiran dengan pertanyaan Liani tadi. Apakah dirinya menyukai Reino?
Tadi sih Lydia refleks mengangguk karena menurutnya tidak ada jawaban masuk akal lainnya, tapi sesungguhnya Lydia juga tidak tahu dan dari pada penasaran dia bertanya pada para sahabatnya. Kebetulan mereka semua suka begadang.
[Lydia Rata: Tanda orang jatuh cinta apaan sih?]
[Cinta E. Brawijaya: Simpel saja. Kamu merasa bahagia ketika di dekat Reino. Ingin terus bersamanya, jadi lebih posesif dan jantung berdebar mungkin.]
[Lydia Rata: Kenapa bawa-bawa nama Reino?]
[Vanessa Cerewet: Memang siapa lagi yang bisa membuatmu jatuh cinta?]
[Erika Bego: Mengirimkan tautan.]
Lydia langsung menekan tautan yang dikirimkan Erika. Itu adalah artikel tentang tanda-tanda orang yang sedang jatuh cinta. Lydia membaca semuanya dengan seksama dan membayangkannya.
Sejauh ini memang hanya Reino saja yang membuat Lydia merasa istimewa, begitu pula sebaliknya. Emosinya juga lebih beragam ketika bersama Reino dan yang paling penting rasanya dia tidak bisa jauh dari pria itu.
“Masa iya sih?” gumam Lydia pelan.
Lydia memegang dadanya. Dia merasakan jantungnya berdetak sedikit lebih kencang hanya dengan memiikirkan Reino. Dan detak jantung itu bertambah kencang begitu melihat Reino mengirimkan pesan padanya.
[Polar Bear: Kamu belum tidur?]
Hanya pesan singkat, tapi itu sudah cukup membuat Lydia ingin terus tersenyum. Bahkan Lydia jadi grogi dan tidak tahu harus membalas seperti apa.
[Lydia: Belum.]
Akhirnya Lydia hanya bisa membalas dengan satu kata yang singkat itu, setelah berulang kali mengetik lalu menghapus pesan. Dan balasan yang diterima Lydia berikutya, membuatnya makin tersenyum lebar.
[Polar Bear: Aku merindukanmu.]
[Lydia: Aku juga merindukanmu.]
Lydia terkikik geli membaca ulang pesan yang dia kirim. Dan andai dia tidak ingat ada Liani dan Kenzo yang ikut menginap di kamar rawat inap ini, Lydia pasti akan memekik histeris.
Sepertinya dia benar-benar sedang jatuh cinta.
***
“Loh? Lydia masih tidur?” Reino yang baru saja masuk ke ruang rawat inap Lydia bertanya.
__ADS_1
“Dia biasanya sudah bangun jam segini, tapi gak tahu juga kenapa belum bangun,” Liani menjawab tanpa menatap Reino.
Sesungguhnya Liani masih merasa kesal dengan Reino. Walau anaknya mengatakan kalau dia menyukai pria itu, tapi tetap saja Liani merasa dicurangi.
Dua orang itu tidak benar-benar menikah, tapi mereka malah sudah tidur bersama. Walau zaman sekarang mungkin itu hal biasa, tapi Liani sama sekali tidak menyukai fakta itu.
Reino yang tidak begitu memperhatikan reaksi Liani, mendekat ke arah ranjang pasien. Kenzo yang menatapnya tajam, juga tidak membuat Reino merasa tidak nyaman.
Hari ini sebenarnya Reino juga bangun terlambat karena semalaman bertukar pesan dengan Lydia, tapi dia sudah rindu. Dia ingin segera bertemu dengan pujaan hatinya itu.
Reino baru saja mengulurkan tangan untuk merapikan anak rambut Lydia, ketika wanita itu tersenyum dengan mata terpejam.
“Pak Reino?” sengum Lydia bertambah lebar ketika menanyakan hal itu.
“Kok tahu ini aku?” senyum Reino juga ikut merekah ketika menjawab Lydia dengan pertanyaan lain.
“Aku sudah hafal wangi parfumnya,” jawab Lydia dengan mata yang kini menatap Reino dengan lekat.
“Berhenti panggil aku, Pak.”
“Lalu panggil apa dong?”
“Nama saja maybe.”
“Excuse me. Haruskah kalian berbisik-bisik?” geraman pelan menyertai pertanyaan Kenzo itu.
Kenzo mendengkus kesal melihat interaksi dua orang di depannya itu. Enggan membuat matanya terkontaminasi dia segera beranjak keluar.
Bukan hanya Kenzo saja yang mengamati interaksi Reino dan Lydia. Liani juga melakukannya. Dan tidak bisa dipungkiri, dua orang itu saling menatap penuh damba.
Mau tidak mau Liani yang awalnya masih curiga, kini harus menerima kenyataan kalau putrinya memang sedang jatuh cinta.
“Kamu gak ke kantor?” tanya Liani kini dengan suara lebih lembut.
“Saya akan ambil cuti selama Lydia dirawat. Saya ingin menemaninya,” jawab Reino tegas.
Lydia ingin protes dengan keputusan Reino yang mendahulukan dirinya dibanding perusahaan, tapi dia tidak bisa. Hatinya terlalu senang dan bibirnya sibuk mengulum senyum.
“Ah, kebetulan saya bawa sarapan untuk semua orang.” Reino memberi kantongan yang tadi dia letakkan di nakas pada Liani.
“Saya tidak tahu anda suka apa, tapi saya harap itu dimakan.”
Liani menatap bungkusan dari restoran mahal yang diberikan Reino. Sepertinya ini adalah siasat pria itu untuk menarik simpati.
__ADS_1
“Thank you,” jawab Liani pelan.
“Lalu ini bagiamu.” Reino mengambil kantong yang satu lagi.
Reino sengaja memintan kantong terpisah untuk jatah Lydia. Lebih tepatnya, dia memesankan porsi lebih untuk kekasih hatinya itu. Dan Reino berniat menyuapi Lydia apa pun yang terjadi.
“Aku bisa sendiri, Pak. Eh, maksudnya Kak,” Lydia segera meralat panggilannya pada Reino.
“Aku suka panggilan itu,” jawab Reino mengedipkan sebelah matanya, tetap ingin menyuapi Lydia.
Merasa tidak mungkin menang dari Reino, Lydia pasrah saja disuapi lelaki itu. Toh, rasanya juga menyenangkan. Dan Reino juga menikmati kegiatan ini. Mereka berdua bahkan tidak lagi mempedulikan kehadiran Liani.
“Oh, sepertinya saya datang disaat yang kurang tepat ya?”
“Selamat pagi, Dok.”
Satu per satu menyapa jajaran dokter yang datang berkunjung. Kebetulan ini memang jam visite para dokter. Dan karena Lydia dianggap pasien istimewa, bukan sembarang dokter yang mendatangi.
Dokter ahli paling terkenal dan paling sibuk yang langsung berkunjung atas perintah direktur rumah sakit.
“Kemarin ada periksa darah ya,” si dokter berucap sambil memeriksa lembar hasil laboratorium, sementara para perawat memeriksa tanda vital Lydia.
“Ada keluhan?”
“Gak ada sih, Dok. Semuanya baik-baik saja,” jawab Lydia dengan penuh percaya diri.
Memang tidak terjadi apa-apa pada Lydia kemarin. Dia hanya kelaparan dan kehausan saja. Setidaknya itu yang Lydia rasakan sebelum pingsan.
“Tanda vitalnya bagus, gak ada keluhan juga.”
Si dokter mengangguk masih sambil menekuri hasil tes laboratorium super lengkap yang dijalani Lydia kemarin. Tentu saja itu atas perintah Reino karena dia tidak ingin kecolongan.
“Hasil laboratoriumnya juga bagus, tapi...”
Mata Lydia sudah membulat dan sebelah alis Reino sudah terangkat mendengar kalimat menggantung itu. Liani pun langsung mendekat ketika mendengar kata tapi dari dokter.
“Pemeriksaan untuk hormon hcg menunjukkan ada peningkatan.”
“Dan itu artinya?” tanya Reino menyela kalimat si dokter.
“Biasanya sih ini mengindikasikan kehamilan,” ada sedikit jeda pada kalimat si dokter.
“Tapi karena kenaikannya tidak signifikan kita mungkin harus melakukan pemeriksaan lebih mendalam lagi. Takutnya bukan kehamilan, tapi ada penyakit lain yang membuat kadar hcg meningkat.”
__ADS_1
Wajah Lydia langsung menggelap ketika mendengar penjelasan itu.
***To Be Continued***