Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Perjanjian


__ADS_3

“Lydia, Sayang.”


“Ya, Ma.” Lydia yang sedari tadi melamun mendonggak menatap ibunya yang berbaring rendah di ranjang rumah sakit.


“Kamu kenapa sih? Melamun saja dari tadi. Mana menghela napas terus. Kerjaannya banyak ya?” tanya Liani prihatin dengan anaknya itu.


“Ya gitu deh, Ma. Mana aku khawatir banget sebentar Mama sudah mau operasi,” jawab Lydia yang duduk di kursi dekat ranjang ibunya.


Karena ini hari sabtu, kemarin Lydia yang menginap di rumah sakit. Dia ingin menjaga ibunya dan mengurus administrasi dulu sebelum ibunya dioperasi. Lagi pula Kenzo juga perlu istirahat dengan nyaman di kasur. Jadi kini giliran Lydia yang tidur di kursi.


“Pagi Tante.”


Suara cempreng Vanessa, sahabat Lydia membuat seisi ruangan berbalik. Bahkan pasien yang di sebelah pun menoleh, membuat para tamu yang datang nyengir seketika.


“Jangan terlalu keras suaranya,” Cinta menoyor tubuh gempal Vanessa.


Lydia hanya menggeleng pelan melihat tingkah sahabatnya. Mereka selalu bisa membuatnya tersenyum walau hanya sebentar. Dan bisa menjadi tempat curhat juga.


“Baguslah kalian datang. Lydia jadi punya teman ngobrol dan gak khawatir berlebihan,” seru Liani dengan senyum tipis.


“Namanya juga mau operasi, Tan. Pasti anaknya khawatir lah. Justru aneh kalau gak khawatir,” balas Erika dengan sopan.


Liani tertawa mendengar kalimat Erika, membuat Lydia ikut terkekeh. Dan setelahnya mereka sibuk bercerita dan tertawa. Bahkan tetangga sebelah yang kepo itu juga ikut nimbrung, sampai saatnya Liani harus di bawa ke kamar operasi.


Lydia yang semula rileks, tiba-tiba saja jadi tegang. Dia takut sekali ada apa-apa yang terjadi pada ibunya di meja operasi. Padahal dokternya sudah mengatakan tingkat keberhasilannya sangat tinggi.


Katanya walau dioperasi bagian kepala, ini bukanlah operasi yang sulit dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi tetap saja, Lydia merasa sangat khawatir. Soalnya biar bagaimanapun hebatnya dokter itu, kuasa Tuhan tetaplah lebih besar.


“Sudah, kau gak usah cemas. Kan katanya persentase keberhasilannya tinggi. Jadi sekarang mending kita ke kantin saja yuk,” ajak Vanessa dengan entengnya.


“Gak ah, Nes. Aku rasanya gak bisa makan apa-apa,” seru Lydia sebagai jawaban.


“Lyd. Kita tahu kamu khawatir, tapi kesehatanmu kan harus terjaga. Nanti siapa yang bayarin biaya rumah sakit kalau kamu kenapa-napa?” bujuk Cinta dengan lebih lembut.


Helaan napas Lydia terdengar jelas. Dan walau awalnya ragu-ragu, dia mengatakan apa yang disimpannya beberapa hari ini.


“Sebenarnya untuk biaya aku sudah dapat,” ujar Lydia pelan.


“Dapat dari mana?” tanya Erika dengan kening berkerut. “Jangan bilang kau menerima tawaran bosmu itu?”


Lagi-lagi Lydia menghela napas, sebelum memberikan anggukan sebagai jawaban. Dia memang sudah menerima tawaran yang diberikan Reino Andersen.


***

__ADS_1


Para sahabat Lydia menatap temannya yang makan dengan rakus. Katanya tadi tidak nafsu makan, tapi ketika diseret ke kantin rumah sakit, dia tetap makan dengan lahap. Dan para sahabatnya itu menunggu penjelasan Lydia dengan sabar.


“Jadi bagaimana kau bisa menerima tawaran bosmu?” tanya Vanessa sudah tidak sabar lagi.


“Aku butuh uang untuk operasi Mama lah, Nes. Kau pikir uang segitu bisa muncul kurang dari seminggu? Ini tagihan rumah sakit saja sudah hampir sepuluh juta, padahal belum seminggu.”


“Tapi kan dipotong BPJS,” sela Cinta.


“Ya, tapi cuma sebagian saja,” jawab Lydia menyendok baksonya.


“Kan aku bisa pinjamin, Lyd. Kau harusnya jangan ambil jalan yang sama denganku,” gumam Erika menasehati.


Lydia segera menggeleng. Dia kemudian menjelaskan alasannya menolak pinjaman dari Erika. Kemudian juga menjelaskan kalau dia punya banyak utang pada Reino. Lydia menerima tawaran itu untuk membayar utang yang sudah lebih dari setengah milyar.


Oh, Lydia juga tidak sebodoh itu menerima tawan Reino tanpa memberikan beberapa syarat tambahan. Dia tidak ingin terjebak dengan lelaki itu selamanya, walau utangnya mungkin membutuhkan seumur hidup untuk dilunasi.


“Jadi apa syaratmu?” tanya Erika penasaran.


Lydia tidak menjawab dan hanya menyodorkan ponselnya. Dia sudah menuliskan draft berisi apa pun yang dia inginkan sebagai syarat tambahan. Dan Vanessa yang terlalu rajin, bersedia membcakan dengan suara pelan untuk semua orang. Kira-kira bunyinya seperti ini:


‘Pihak pertama: Reino Andersen. Pihak kedua: Lydia. Pihak kedua bersedia penawaran mutualisme dari pihak pertama dengan syarat sebagai berikut:






Pihak pertama wajib memperlihatkan hasil lab yang menunjukkan bebas dari IMS. Lokasi pemeriksaan akan ditentukan pihak kedua.




Pelaksanaan perjanjian akan dilakukan 2 minggu setelah perjanjian ini ditandatangani




Selama pelaksanaan perjanjian, pihak pertama wajib menggunakan kontrasepsi dan dilakukan atas dasar persetujuan bersama tanpa paksaan. Juga dilakukan di tempat tertutup dan privat.

__ADS_1




Kedua belah pihak wajib untuk merahasiakan hubungan mutualisme ini.’


“Ini saja?” tanya Cinta pada Lydia yang belum berhenti mengunyah.


“Apa itu masih kurang? Aku memang hanya menulis pendek-pendek saja karena itu baru draft,” tanya Lydia dengan wajah sedikit panik.


“Kau tidak akan menambah pasal soal hamil di luar nikah?” tanya Erika terang-terangan.


“Nope. Itu gak bakal terjadi karena ada pasal soal kontrasepsi.”


“Saranku, kau harus mengambil kontrasepsi tambahan untukmu dirimu sendiri. Jangan sampai kecolongan. Dan tambahkan pasal yang menyinggung soal pacarnya. Jangan sampai kau tiba-tiba dituduh jadi pelakor,” tambah Vanessa yang segera diiyakan oleh Erika.


Lydia segera mengangguk setuju dengan ide itu. Dia memang harus memastikan Reino tidak punya pacar saat ini. Lydia juga tidak mau menjadi samsak bagi siapa pun wanita yang merasa memiliki Reino Andersen. Yah, katakan saja seseorang seperti Thalita.


“Lalu kenapa 2 minggu?” tanya Cinta bingung.


“Ah, itu. Aku cuma mau memastikan Mama baik-baik saja, sebelum dia menyita semua waktuku.”


“Menyita semua waktumu?” tanya Erika. “Memangnya kalian akan begituan sepanjang hari? Atau kau bakal ditahan di rumahnya sebagai budak ****?”


“Astaga Tuhan. Ya gak gitu lagi. Jangan gila dong,” hardik Lydia dengan mata melotot.


“Ya, lalu maksud menyita waktu itu apa?” goda Vanessa yang sengaja menaik turunkan alisnya.


“Ya, maksudnya. Begituan kan juga butuh waktu. Aku gak mau saat Mama butuh perhatian dia tiba-tiba merecokiku untuk minta jatah,” balas Lydia berusaha membela diri.


“Oh, gitu. Reino agresif ya,” tanya Cinta dengan nada penuh ejekan.


“Stop teasing me,” geram Lydia mulai kesal. Rasanya dia menyesal mengatakan semua ini pada para sahabatnya.


“Well, kalau dilihat dari tanda yang ditinggalkan pada tubuh Lydia tempo hari. Aku yakin banget dia pasti garang banget kan?” Erika ikutan mengejek.


Dan kalimat Erika itu, membuat dua sahabatnya yang lain bertanya maksud dari kalimat Erika. Kali lalu, memang Erika tidak menceritakan semuanya. Tak perlu waktu lama sampai akhirnya Lydia jadi bulan-bulanan para sahabatnya. Bahkan sampai wajahnya menjadi merah karena orbrolan vulgar mereka.




***To Be Continued***

__ADS_1


__ADS_2