Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Hadiah


__ADS_3

Rupanya masalah komplain bisa diselesaikan dengan cukup mudah. Semuanya hanya masalah kepercayaan. Ketika rasa percaya itu hilang, tentu susah untuk didapatkan kembali. Tapi nyatanya Lydia berhasil.


Hanya dalam seminggu, Lydia sudah berhasil menyelesaikan komplain. Entah bagaimana asisten Reino itu berhasil mendapatkan kepercayaan lagi.


Lydia sudah menjelaskan semuanya saat rapat, tapi tetap saja Reino merasa belum percaya. Masa iya kepercayaan dari pihak konsumen bisa dikembalikan semudah itu?


Solusi yang ditawarkan memang bukan hanya sekedar ganti rugi materil dan kata maaf, tapi juga kesempatan. Lydia memberi orang-orang itu kesempatan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tentu saja masih ada keuntungan yang didapatkan dari perusahaan.


Misalnya saja, untuk pemilik minimarket. Pria tua itu sering menceritakan saudaranya yang sering dapat hadiah dari hasil penjualan barang. Maka Lydia langsung menawarkan kerja sama. Jika pihak mini market bisa menjual dengan kuantitas tertentu, mereka akan diberi hadiah.


Untuk distributor yang dicuri uangnya, kebetulan mereka agen terpercaya yang suka dengan cuan besar. Jadinya Lydia menawarkan potongan harga dan menjanjikan mereka untuk menjadi disrtributor tunggal produk tertentu.


Komplain yang lain pun seperti itu. Lydia berhasil menaklukkan semuanya dengan bantuan uang. Semua yang ditawarkan Lydia memang pada dasarnya dilandaskan oleh uang.


Ironis memang. Semudah itu bernegosiasi jika uang sudah ambil bagian di dalamnya. Sama halnya dengan uang yang juga bisa menghancurkan orang lain. Seperti yang dialami Lydia.


Sebenarnya Lydia enggan menggunakan metode ini karena merasa trauma dengan kejadian ayahnya dulu. Uang membuatnya sedikit tidak percaya diri, tapi pada akhirnya uang juga yang membuatnya hidup. Karena pemikiran itulah Lydia memutuskan untuk mencoba. Setidaknya dia masih menggunakan cara yang bersih.


“Rupanya memang mata Pak Reino selalu jeli ya. Pantas diangkat jadi asisten,” kelakar Pak Fendi begitu rapat pagi ini selesai.


“Sekarang saya hanya sekretaris saja, Pak. Posisi asisten kini dijabat oleh Pak Hadi,” jawab Lydia dengan penuh sopan santun.


Keputusan menjadikan Lydia sekretaris itu terpaksa Reino ambil karena desakan Viktor. Katanya itu bisa membuat gosip tidak beradab soal Reino yang hyperseksual bisa sedikit surut. Katanya kalau asisten Reino perempuan bisa-bisa ada gosip kalau asistennya dijadikan budak nafsu saja.


“Sayang sekali ya. Padahal dengan kemampuan kamu yang seperti itu, kamu bisa menjabat sebagai direktur loh. Atau minimal manajer lah,” sahut Pak Fendi dengan nada menyayangkan.


Tidak ada lagi balasan yang bisa diberikan Lydia selain senyuman. Lagi pula Reino sudah memberi jawaban pada Pak Fendi.


“Justru sudah benar dia jadi sekretarisku, Lydia bisa mengurusi semua hal selagi aku pergi liburan mungkin,” seru Reino berusaha untuk bercanda, tapi sama sekali tidak lucu.

__ADS_1


“Mungkin lebih tepatnya dia bisa menggantikanmu kalau kamu cuti. Tentu saja sebagai Nyonya Reino Andersen.”


Pak Fendi langsung tertawa, mendengar kalimatnya sendiri. Beberapa orang yang masih percaya kalau Reino dan Lydia berpacaran juga ikut tertawa.


Bagi orang lain, ucapan Pak Fendi tadi serupa doa agar dua orang itu segera dipersatukan dalam ikatan pernikahan. Tapi bagi Lydia, itu seperti kutukan. Kutukan yang sangat menyeramkan kalau sampai harus mengurusi Reino Andersen seumur hidupnya.


“Kerja bagus untuk masalah komplain ini,” puji Reino saat dia, Lydia dan Hadi masuk ke ruangan kerjanya.


“Terima kasih, Pak. Saya hanya mengerjakan yang semestinya,” jawab Lydia rendah diri.


“Saya rasa Bu Lydia pantas mendapat penghargaan untuk ini,” Pak Hadi menambahkan dengan senyum penuh arti.


“Saya rasa itu berlebihan, Pak Hadi. Saya hanya menjalankan tugas.”


“Kurasa Hadi benar. Kalau bukan karena kau menemukan tumpukan komplain itu, mungkin penjualan kita akan terus menurun dan aku akan dimarahi Papa karena tidak becus mengurus perusahaan,” geram Reino marah.


Dan karena Lydia telah menyelamatkan dirinya dari jalan menuju kehancuran, Reino perlu berteima kasih pada wanita itu. Dan karena bagi Reino masalah ini cukup besar, maka reward yang akan diberikan juga pastinya harus besar.


“Apa yang kau inginkan?” tanya Reino berusaha menebak apa yang akan diminta Lydia.


Reino tahu Lydia tidak akan meminta hal-hal seperti tas atau perhiasan, jadi dia memikirkan soal beli mobil mewah. Atau mungkin rumah, apartemen mahal, bahkan mungkin pulau.


“Pak Reino serius nih mau ngasih saya hadiah?” tanya Lydia menatap bosnya ragu-ragu sekali.


“Kapan aku pernah main-main?”


“Gak pernah sih, Pak. Tapi yakin gak apa-apa kalau saya yang menentukan hadiahnya?”


“Kau meragukan kemampuanku untuk memberimu hadiah yang pantas?” tanya Reino mulai marah.

__ADS_1


“Sebutkan apa saja yang kau inginkan dan aku pasti akan mengabulkannya.”


Hadi langsung menahan napas mendengar penawaran bosnya itu pada Lydia. Dia yang sering mengikuti Reino sudah tahu apa saja yang biasa diminta oleh wanita yang dikencani bosnya itu. Dan sekarang Reino malah membebaskan Lydia memilih. Hadi jadi takut apa yang diminta oleh Lydia nantinya.


Kalau hanya tas atau cincin sih masih oke saja. Hadi masih bisa mencarikan yang harganya tidak semahal mobil, tapi kalau justru mobil atau rumah yang diminta. Hadi akan langsung angkat tangan.


“Saya sebenarnya punya satu keinginan, Pak. Eh, katakan saja dua keinginan,” Lydia mulai mengutarakan keinginannya dan membuat Hadi makin keringat dingin.


“Tapi kalau saya meminta yang itu, maka kemungkinan teman-teman saya akan protes ….“


“Aku akan memberikannya juga pada teman-temanmu,” Reino segera memotong penjelasan Lydia yang sepertinya bakal panjang itu.


Reino yang mengiyakan, tapi Hadi yang merasa ngilu. Semudah itu Reino mengiyakan padahal belum diketahui apa yang Lydia minta. Bagaimana kalau mereka semua minta mobil mewah?


Lydia terlihat senang mendengar itu, tapi sepertinya dia masih ragu mengatakannya. Biar bagaimanapun ini menyangkut banyak orang dan Lydia agak sungkan. Tapi Reino kan sudah menyetujui, jadi harusnya kan tidak masalah.


“Saya dan teman-teman saya sedang merencanakan liburan ke Yogyakarta, jadi kalau bisa .…”


“Akan kubeli … Apa tadi kau bilang?” tanya Reino tiba-tiba saja meralat ucapannya.


“Saya dan teman-teman saya sedang merencanakan liburan ke Yogyakarta akhir pekan ini. Mumpung ada tanggal merah di hari jumat. Jadi kalau boleh saya ingin meminta liburan kami dibiayai dan saya ingin mengajukan cuti.”


“Cukup hotel dan penerbangannya saja kok. Saya juga gak minta yang mewah, yang biasa aja sudah cukup,” Lydia cepat-cepat menambahkan takut kalau permintaannya ditolak.


Baik Reino maupun Hadi melongo mendengar penuturan Lydia. Mereka tidak menyangka Lydia akan meminta hal sesederhana itu.


Dan apa tadi dia bilang? Hanya ke Yogyakarta dan mau minta yang sederhana saja? Yang benar saja. Sepertinya Lydia sangat meragukan kemampuan finansial Reino Andersen.


***To Be Continued***

__ADS_1


__ADS_2