
Warning! Ada sedikit adegan di bagian akhir.
“Selamat pagi, Bu.”
Lydia terhenyak mendengar sapaan yang ditujukan padanya itu. Tidak tahu harus menjawab apa, dirinya hanya tersenyum saja. Dan rupanya sapaan itu terus datang dari para pegawai yang lainnya, sampai Lydia kebingungan dibuatnya.
Bahkan ketika Lydia tidak sengaja berpapasan dengan Pak Trisno saat menunggu lift, pria paruh baya itu juga menyapanya. Yah, walau dengan nada canggung yang agak dipaksakan sih.
“Ada apa sih dengan semua orang hari ini?” gumam Lydia ketika turun di lantai lima.
“Mungkin karena statusmu yang sudah naik,” jawab Maya yang kebetulan sedang menunggu lift untuk turun ke kantin.
“Eh, pagi Mbak,” sapa Lydia sopan seperti biasanya.
“Mau ngopi?” tanya Maya terlihat serius.
“Kalau gitu aku taruh tas dulu ya.” Maya segera mengiyakan saja dan menunggu dengan tenang.
Saat turun, mereka berpapasan dengan Kiara dan Revan yang hendak naik menjumpai Lydia. Karena Lydia mau turun ke kantin, Kiara dan Revan juga ikut turun. Dan kejadian yang sama dengan di lobi kembali terjadi. Semua orang terlihat sopan pada Lydia.
“Wah, aura Nyonya Besar memang beda ya,” seru Kiara ketika akhirnya mereka duduk.
“Apaan sih?” gerutu Lydia yang tahu dirinya yang sedang dibicarakan.
“Aku kaget loh waktu tiba-tiba ada gosip kalau kamu ternyata bukan pacar, tapi istri Bos,” seru Revan melirik Lydia dengan tatapan bertanya.
Lydia hanya bisa meringis. Dia tidak bisa mengatakan apa-apa. Atau lebih tepatnya tidak tahu harus mengatakan apa. Dan dia juga takut salah bicara, jadi leebih baik diam.
“Sudah menikah berapa lama?” tanya Kiara kepo, sebelum menyesap kopinya.
“Hm... Setahun lalu?” jawab Lydia dengan nada tanya. Untungnya tidak ada yang menyadari nada tanya itu.
Dan Lydia juga tidak bohong. Memang setahun yang lalu Lydia menikah dengan Reino. Hanya saja sekarang ini mereka sudah bercerai, walau fakta yang ini jelas tak diketahui orang. Tapi setidaknya masih ada fakta yang dikatakan Lydia.
“Sudah selama itu kalian merahasiakannya? Kenapa?” kali ini giliran Maya yang kepo.
“Ya, gitu deh. Aku cuma...”
__ADS_1
“Kamu cuma perlu ikut denganku.”
Tiba-tiba saja Lydia merasa sekelilingnya jadi sedikit gelap. Sedetik kemudian, tangan besar yang biasa menyentuh tubuhnya, bertumpu pada ujung meja. Dan wangi khas yang belakangan sangat sering diciumnya menyapa indra penciuman Lydia.
“Pagi, Pak.” Sapa orang-orang di sekitar Lydia bergantian.
Lydia tidak perlu bertanya siapa yang di sapa karena dari wangi parfumnya saja dia sudah tahu. Karenanya Lydia mendongak untuk melihat Reino yang menatapnya dengan intens. Rasanya Lydia tahu arti tatapan mata itu.
“Kita perlu bicara berdua,” gumam Reino yang membuat Lydia merinding.
Reino tidak menunggu jawaban dari Lydia. Dia langsung menarik pergelangan tangan Lydia dan menggandeng tangannya.
Semua orang melihat bagaimana seorang Reino Andersen terlihat seperti lelaki yang cemburu karena istrinya bersantai pagi tanpa mengajaknya. Padahal yang terjadi sebenarnya tidak seperti itu. Reino hanya ingin membicarakan hal penting dan mungkin sekalian dengan morning ***.
“Hadi, jangan biarkan seorang pun mendekati ruanganku,” Reino memberi perintah pada asistennya, tepat sebelum membuka pintu ke ruangannya.
Permintaan itu tidak hanya membuat Lydia dan Hadi terkejut, tapi juga membuat Tuti merona merah. Sepertinya wanita itu bisa menebak alasan Reino memberi perintah seperti itu.
“Tolong jangan mengatakan hal aneh, Pak. Orang-orang bisa salah paham,” gerutu Lydia begitu pintu sudah menutup.
“Tidak akan ada yang salah paham, Lydia,” seru Reino sambil menanggalkan jasnya. “Semua orang berpikir kita sudah menikah.”
“Gak, Pak. Perjanjiannya adalah di tempat yang privat,” balas Lydia melangkah mundur, sementara Reino makin maju.
“Ada kamar di sana.” Reino menunjuk ke arah pintu yang ada dalam ruangan itu. “Tapi saat ini aku ingin coba di atas meja atau di kursi kerjaku. Lagi pula pintunya sudah kukunci dan kita perlu bicara serius.”
“Bicara serius tidak perlu ada adegan anehnya. KYAA...”
Reino tiba-tiba saja melangkah cepat dan meraih tangan Lydia. Dia menarik perempuan kurus itu mendekat, kemudian langsung mengangkatnya. Itu membuat kedua kaki Lydia refleks melingkari pinggang Reino dan membuat roknya terangkat naik.
“Rileks, Sayang,” bisik Reino duduk di kursi kerjanya membawa serta Lydia.
“Pak, posisi ini agak...”
“Menyenangkan,” sambung Reino melepas dasinya dengan gerakan cepat.
Lydia tidak bisa lagi membalas karena bibirnya sudah dibungkam dan dilumat dengan kasar. Tipikal Reino sekali. Pria itu selalu bermain kasar, tapi entah kenapa tetap terasa luar biasa.
__ADS_1
Mungkin karena Reino selalu membuat Lydia terbang duluan, sebelum benar-benar masuk ke inti permainan. Dia juga tidak tahu, tapi yang jelas Lydia menikmatinya.
“Kurasa kau harus izin ke ibumu,” bisik Reino seduktif di ceruk leher Lydia.
“Minta izin?” Lydia balas bertanya dengan napas yang mulai memburu karena ulah Reino dari luar kemejanya.
Bisa dipastikan kemeja Lydia akan menjadi kusut setelah ini, tapi dia tidak lagi peduli. Lydia hanya ingin menikmati ini semua.
“Ya. Izin untuk dinas luar kota, paling tidak selama seminggu.”
“Eh? Kenapa selama itu?”
Lydia menjambak rambut Reino dan menarik pria itu agar menjauh dari tubuhnya. Itu sebenarnya adalah gerakan refleks karena terkejut, tapi Reino sudah terlanjur menggeram marah. Pria itu merasa terganggu. Sebagai hukuman karena telah mengganggu, Reino memasukkan jari jempolnya ke mulut Lydia.
“Mama minta kita menginap di rumahnya atau dia yang akan menginap di rumah kita,” Reino memberi tahu sembari mengganti jempolnya dengan dua jari lain.
Lydia ingin membalas, tapi Reino tidak membiarkan. Pria itu segera menggganti jarinya dengan bibir, ******* habis setiap sudut bibir dan rongga mulut Lydia dan menimbulkan suara decapan.
“Tidak bisakan tiga hari saja?” tanya Lydia disela-sela kesibukannya.
“Kau tahu aku sulit menolak Mama. Lagi pula dia masih sedikt curiga pada kita.”
“Kenapa?” tanya Lydia disertai lenguhan.
“Mungkin karena dia curiga karena kita tidak mesra?” jawab Reino dengan nada tanya. “Apalagi karena kita pulangnya sendiri-sendiri.”
“Kalau begitu ayo pulang bersama. Pak Reino bisa mengantar jemputku kan?”
“Tentu saja bisa, Sayang. Tapi ada masalah lain.”
Lydia tidak lagi bisa menjawab karena Reino sudah mulai serius. Baru seperti itu saja kaki Lydia sudah gemetaran. Bagaimana bisa dia yang memimpin permainan kali ini?
“Mama minta cucu,” lanjut Reino seraya menghentak keras.
Lydia tersentak ketika dia baru mengingat sesuatu yang penting. Kali ini lagi-lagi Reino tidak menggunakan pengaman.
***To Be Continued***
__ADS_1