Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Private Room


__ADS_3

Pada akhirnya Viktor sebagai kuasa hukum yang menyelesaikan semua masalah. Tidak instan memang, tapi katanya masih bisa diatasi. Dan pria itu juga meminta Reino memberi klarifikasi. Karena itulah kini Lydia sibuk mengatur konfrensi pers.


“Ugh, padahal aku pikir hari ini bisa pulang cepat,” Lydia mengeluh karena kegiatan itu dilakukan pada malam hari. Padahal kan bisa dilakukan besok.


Dan karena kejadian ini juga tersebar ke mana-mana, Liani jadi panik menelepon anaknya. Ibu Lydia itu bahkan sampai menelepon ke kantor, membuat Lydia menjelasakan dengan terburu-buru. Dia bahkan harus melapor tiap beberapa jam sekali dan itu membuat Lydia sakit kepala.


Sakit kepala Lydia makin menjadi ketika menyadari tatapan orang-orang padanya. Pastinya ini semua gara-gara Polar Bear dan mulut sialannya itu. Untung saja dia sibuk dan tidak terlalu memperhatikan tatapan menusuk itu.


“Belum pulang, Lyd?”


Lydia mendonggak melihat orang yang menyapanya saat hendak masuk ke dalam lift. Dia menemukan Revan dan Kiara berjalan berdampingan, sepertinya sudah hendak pulang.


“Mungkin dia bakal lembur dengan Pak Reino di ruangan pribadinya,” cibir Kiara dengan wajah cemberut.


“Ki,” tegur Revan terlihat kesal.


“Aku memang lembur kok,” sahut Lydia membuat dua orang di depannya membulatkan mata. “Tapi itu karena ada konferensi pers yang harus aku urus.”


Lydia memberikan senyum tipisnya, sebelum naik ke lift. Sengaja meninggalkan dua orang itu yang terlihat sedikit canggung dengan balasan Lydia. Sepertinya Kiara merasa sedikit bersalah, tapi Lydia sedang tidak ingin berdebat dengan siapa pun.


“Halo, Ma.” Lydia mendesah sebelum mengangkat telepon dari ibunya itu. Padahal dia sedang sibuk.


“Kamu belum pulang?”


“Kan aku sudah bilang sama Mama. Aku harus lembur karena ada konferensi pers dan banyak agenda yang tertunda akibat gosip tidak jelas itu,” jawab Lydia kembali menghela napas.


Rasanya lelah juga menghadapi ibunya yang overprotektif ini. Melelahkan, tapi Lydia bersyukur masih punya ibu yang cerewet. Dia hanya perlu banyak bersabar saja.


“Gak akan sampai malam banget kan? Mama khawatir soalnya.”


“Aku kan udah bilang, Ma. Pak Reino gak seperti itu,” Lydia berusaha bersuara agak lirih karena masih ada orang berkeliaran di lantai lima, saat dia keluar lift.

__ADS_1


“Perempuan itu sengaja memfitnah agar kelakuannya yang menjual data perusahaan tidak terdeteksi,” jawab Lydia lelah. Dia sudah mengulang hal ini sebanyak 3 kali.


“Beneran seperti itu?” tanya Liani masih khawatir.


“Iya, Ma. Dia memang penggoda. Mama pasti langsung mengerti begitu lihat orangnya. Aku sudah share akun instagramnya kan?”


Liani kemudian berceloteh tentang betapa seksinya Thalita. Dia sudah melihat akun instagram itu dan mewajarkan jika ada lelaki hidung belang yang menggodanya atau sebaliknya. Kata Liani dari penampilannya saja sudah tidak benar. Padahal menurut Lydia, tidak semua orang yang berpakaian seksi itu penggoda. Bisa saja mereka hanya hobi terlihat seksi kan?


Celotehan Liani sebenarnya masih panjang, tapi Lydia tidak bisa terus meladeninya. Sudah saatnya dia dan Reino berangkat ke venue diadakannya konferensi pers. Bosnya itu memilih datang ke tempat acara dengan menggunakan helikopter.


“Aku tidak mau kena macet di jalanan.”


Itu yang dikatakan Reino, padahal Lydia yakin pria itu hanya kebanyakan gaya. Dan rupanya Viktor yang turut hadir dalam konferensi pers ini setuju dengan Lydia.


“Tolong dibaca sesuai naskah Pak ya. Jangan melenceng karena ini sudah diatur agar terdengar meyakinkan,” seru Lydia mengingatkan Reino sebelum konfrensi persnya dimulai.


Reino menerima kertas yang diulurkan Lydia dengan kesal. Dia tidak begitu suka disorot kamera dan juga kurang suka diatur. Harusnya sejak dulu dia memecat Thalita agar masalahnya tidak jadi sebesar ini.


“Tolong jangan sampai mengatakan apa pun yang berhubungan denganku,” Lydia kembali mengingatkan bosnya.


“Anda boleh menjawab, tapi TOLONG! Tolong jangan mengatakan hal absurd seperti di ruang rapat. Aku tidak ingin Mama mendengar hal tidak masuk akal seperti itu.”


Reino melotot mendengar permintaan Lydia itu. Terutama penekanannya pada kata ‘tolong’. Tapi setelahnya, senyum miring menghiasai wajah Reino.


“Fine. Tapi dengan satu syarat.”


“Dan apa syarat itu?” tanya Lydia berbisik. Dia tidak ingin Viktor yang duduk di sebelah Reino mendengar apa pun.


“Malam ini, kita akan kita akan tugas ke luar kota,” jawab Reino dengan kedua tangan membentuk tanda kutip di udara.


Lydia menelan ludah dengan susah payah melihat tanda yang dibuat Reino. Dia sangat mengerti apa yang pria itu maksud dan jelas sudah tidak bisa menghindar lagi. Apalagi dengan Reino yang mengancam akan mengatakan hal aneh dalam konfrensi pers ini.

__ADS_1


“Akan saya pikirkan jika konfrensi persnya berjalan dengan lancar,” akhirnya Lydia menjawab dengan senyum tipis.


Reino refleks mengumpat. Dia tentu tidak suka balik diancam seperti itu, tapi dia juga tidak punya pilihan. Konferensi persnya harus berjalan sesuai rencana Lydia, kalau dia ingin mendapat jatahnya.


Dan tentu saja Reino melakukannya. Itu membuat Lydia menjadi pucat pasi. Makin pucat saja ketika Reino menariknya masuk ke dalam lift hanya berdua saja.


“Pak. Ini di tempat umum,” bisik Lydia pelan. Dia ingin berteriak tapi tidak bisa. Suaranya lenyap entah ke mana.


“Santai, Sayang. Sesuai permintaanmu, kita akan pergi ke tempat yang lebih privat untuk melakukannya,” Reino balas berbisik.


“Apa kita akan menginap di hotel ini?” tanya Lydia tiba-tiba saja menjadi gugup.


“Nah. Tidak perlu. Aku malas ke bawah untuk check in. Aku lebih suka naik ke lantai atas hotel ini.”


“Maksudnya? Saya tidak mengerti deh, Pak. Lagi pula anda kan tidak harus ke resepsionis untuk check in. Saya atau Pak Hadi bisa melakukannya.”


Kening Lydia berkerut mendengar penjelasan Reino tadi. Makin berkerut lagi ketika Reino tidak menjawabnya. Dan rasa penasaran itu segera berubah menjadi kekagetan begitu mereka tiba di lantai paling atas. Reino menggiring Lydia ke sebuah club malam.


“Excuse me, Pak.” Lydia menoleh menatap Reino yang merangkulnya erta dan memaksanya masuk. “Ini masih tempat umum.”


“Private room tentu bukan tempat umum, Lydia,” jawab Reino tanpa menatap wanita yang dirangkulnya dengan posesif, membuat pengunjung wanita lain melirik penasaran.


“Yang benar saja, Pak. Ini tidak sesuai perjanjiannya,” hardik Lydia cukup keras.


“Ruangannya private, Lydia. Besar, hanya ada kita berdua dan kedap suara,” Reino balas menghardik ketika sudah sampai di ruangan yang dimaksud.


Lydia tidak memperhatikan sekitar saat berjalan tadi, jadi dia cukup kaget ketika Reino sudah membuka pintu ruangan itu. Lydia bahkan tidak berpikir kapan Reino memesan ruangan di club malam ini.


Kesal karena teman kencannya malam ini lebih banyak diam saja, Reino menarik Lydia masuk dengan kasar. Dia tidak melakukan apa-apa setelahnya. Reino hanya berjalan melewati Lydia dan duduk di atas sofa panjang yang cukup besar.


Pria itu melebarkan tangan dan diletakkan di punggung sofa. Kaki kirinya bertumpu pada kaki kanan, dengan senyum miring penuh arti dan tatapan menusuk tepat melihat di bagian dada Lydia.

__ADS_1


“Sekarang buka,” perintah Reino yang membuat Lydia langsung menahan napas.


***To Be Continued***


__ADS_2